
****Malam harinya****
Di mansion Syam kini sangat ramai. Semuanya tengah berkumpul di meja makan yang panjang itu. Meja dan semua kursi kini terisi full, tidak ada lagi kursi yang kosong di sana.
Key dan papa Syam masing-masing duduk di ujung meja dengan istri mereka di sisi kanan. Di sebelah kiri Key ada Tama, Jihan dan Bu Farah. Di sisi kiri papa Syam ada Bagas dan bik Nur. Di sebelah mama Sheila ada uncle Jang.Yang kurang hanya Bu Sri. Dia tidak bisa hadir bersama mereka.
Mereka makan dengan lahap. Suara piring dan sendok terdengar begitu ramai di meja makan. Mereka benar-benar merindukan masa-masa seperti ini. sebuah senyuman terlihat terlukis di bibir semua orang.
"Bagaimana perusahaan, Bas?" tanya Key.
"Menurut lo?" jawab Bagas ketus. Bagaimana tidak, ia benar-benar sibuk dibuatnya. Ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.
Key terkekeh mendengarnya. Ia paham bagaimana sibuknya Bagas selama ia tidak ada.
"Apa Tama tidak membantumu?" tanya Key.
"Jangankan membantu, melihat keadaan gue di perusahaan saja tidak" jawab Bagas dengan melirik Tama yang sibuk membantu Jihan memisahkan tulang ikan yang ada di depannya.
"Ckk..kau tidak tahu saja, kalau orang sudah menikah memang seperti itu, pasti dia sangat sibuk"
"Makanya nikah, jangan hanya sibuk berduaan dengan leptop saja" celetuk Tama.
Sontak saja mereka semua tertawa mendengar perkataan Tama yang menyinggung Bagas. Wajar saja Tama mengatakan hal tersebut, karena Bagas memang tidak pernah lepas dari leptopnya. Dia selalu menggenggam tas leptopnya kemanapun Bagas pergi. Seperti seorang kekasih yang sangat takut pacarnya akan hilang.
"Kenapa kalain malah kembali mengejek"
"Tidak ada yang mengejekku. Kau sendiri yang menganggap dirimu di enak. Gue berbicar sesuai fakta saja" ucap Tama santai. Ia tidak melirik Bagas sama sekali. Ia hanya fokus dengan makanan yang ada di depannya dan membantu sang istri.
"Haha..maaf kak Bagas, apa kak Bagas mau aku perkenalkan dengan temanku? siapa tahu cocok dengan kakak" Jihan menimpali.
"Boleh tu Ji... sesekali bawa temanmu itu ke sini" ucap mana Sheila.
"Teman yang mana kamu maksud, Ji" tanya Bu Farah.
"Amelia, Bu. Sepertinya dia sangat cocok dengan kak Bagas. Dia juga pekerja keras, sama seperti kak Bagas"
__ADS_1
"Ohh..Amelia. Kamu benar, ibu juga setuju kalau Bagas dengan Amelia"
"Amelia itu teman satu kerjamu dulukan?" tanya Tama memastikan.
"Iya. Cocokkan?"
Tama mengangguk saja. Padahal masalah seperti itu, ia tidak ingin terlibat.
Bagas yang mendengar mereka menjodoh-jodohkannya, membuat Bagas semakin kesal.
"Kalian semua sama saja" ucap Bagas kesal. Ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan kasar, sehingga gigi dan sendoknya beradu.
Mereka kembali tertawa puas melihat Bagas sangat kesal. Hanya bik Nur yang tersenyum saja.
"Ckk...bik.. lihat mereka" Bagas merangkul lengan bik nur yang ada di sebelahnya. "Mereka semua mengejekku bik" Bagas mengadu dengan wajah cemberut.
Key dan Tama yang melihat itu bergidik ngeri dan jijik dengan tingkah Bagas.
"Biarkan saja. Kamu tidak perlu mendengarnya" ucap bik Nur lembut
Bagas tersenyum. "Bik, malam ini temani Bagas yah?" bisik Bagas di telinga bik Nur.
Bik Nur mengangguk. Mereka menatap Bagas heran, tapi tidak dengan Key, Tama dan Maya. Mereka sudah tahu apa yang sedang Bagas bisikkan di telinga bik Nur. Key, Tama dan Maya sangat tahu, kalau Bagas sangat manja dengan bik Nur.
Dulu Tama pun seperti itu, tapi sekarang sudah tidak, karena ia sudah memiliki Jihan di hidupnya.
Mereka sudah menganggap bik Nur sebagai keluarga mereka. Apalagi bik Nur memiliki umur paling tua di antara mereka. Sudah saat bik Nur untuk berhenti bekerja, tapi dia tetap ingin melakukannya. Bik Nur merasa senang setiap melakukannya. Dari pada ia hanya tinggal di kamar dan tidak melakukan apapun. Itu malah membuat kesehatannya menurun.
Makan malam berlangsung hangat dan bahagia. Setelah mereka semua selesai makan mereka pergi ke ruang keluarga dan kembali berkumpul di sana. Namun Key, Bagas dan Tama tidak ikut bergabung dengan yang lain. Mereka pergi ke ruang kerja Key untuk membahas pekerjaan.
Uncle Jang juga tidak ikut bergabung, dia memilih pergi ke kamarnya. Entah apa yang di kerjakan, sedangkan bik Nur, ia pergi ke dapur membantu para maid yang tengah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Maya naik ke atas kamarnya untuk mengecek baby Kim dan ternyata dia sudah bangun. Maya tersenyum melihatnya. Dan sepertinya baby Kim baru saja bangun, sehingga ia tidak menangis karena terlalu lama menunggu Maya.
Maya memberikan asi terlebih dahulu pada baby Kim, setelah baby Kim merasa kenyang dan dia tidak ingin tidur kembali, Maya akhir memilih membawa baby Kim keluar dan bergabung dengan yang lainnya.
__ADS_1
Mama Sheila yang melihat itu langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Maya. Ia mengambil alih menggendong baby Kim.
"Baby Kim baru selesai minum susu ya, Maya?" tanya mama Sheila.
"Iya, mah"
"Kapan kita akan mengadakan syukuran untuk baby Kim?" tanya papa Syam.
"Tapi di sini kan kebanyakan non mayoritas, pah. Sedangkan acara syukuran lebih dominan ke acara-acara islam" ucap Maya.
"Memang benar, tapi kita mengadakan syukuran di pagi hari dan siangnya kita mengundang orang-orang sebagai tanda lahirnya baby Kim. Jadi itu tidak akan menganggu"
"Jadi maksud papa, pagi hari kita hanya mengundang imam mesjid dan para ulama-ulama serta ustadz-ustazah saja ? Dan siang harinya baru kita mengundang para kolega-kolega bisnis Key?"
"Benar mah. Bagaimana? kalian setuju kan?"
"Mama sih oke, tapi Maya dan Key yang tetap menentukannya" jawab mama Sheila seraya melirik Maya.
"Bagaimana,Maya?" tanya papa Syam.
"Sebenarnya Maya setuju, tapi Maya ingin acara syukuran baby Kim bersamaan dengan baby Jihan dan kak Tama nantinya. Maya sangat ingin melihat baby Kim dan baby Jihan di adakan di bersama"
"Begini saja, kita tetap mengadakan syukuran untuk baby Kim dan nanti saat baby Jihan sudah lahir, kita mengadakan acara lagi. Seperti kata papa Syam, kita mengundang para kolega dan teman-teman Key serta Tama" usul Bu Farah.
" Ahh.. mama setuju"
"Bagaimana May, ka.j setuju?" tanya Bu Farah.
Maya tersenyum dan mengangguk. Ia setuju dengan usul Bu Farah. Setidaknya umur baby Kim sudah bagus untuk bisa bertemu dengan orang-orang banyak nantinya.
.
.
LANJUT
__ADS_1