
" Kau tidak ingin melihat anakmu lebih dulu?" tanya Bagas.
Key belum melihat seperti apa bayinya dan bahkan ia juga belum tahu jenis kelamin anaknya saat ini.
" Gue malu bertemu dengannya" jawab Key.
" Buat apa kau malu? dia anakmu, seharusnya kau harus melihatnya dan mengamankannya lebih dulu"
Key menjadi diam. Ia lupa, kalau ia harus mengadzani bayi yang baru lahir di dunia dan pastinya belum ada yang melakukannya.
" Yang dikatakan Bagas benar, Kay. Seharusnya kau melihat anakmu. Siapa yang akan mengumandangkan azan untuknya, kalau bukan kau" Tama ikut menimpali.
Key mulai berfikir dan menimbang-nimbang. Sampai akhirnya Key berdiri dari duduknya. "Baiklah. Gua akan menemuinya" ucap Key dengan berbicar di hadapan kedua sahabatnya.
Key kemuadian berbalik dan berjalan ke ruangan NICU. Sesampai Key di depan pintu, ia sedikit ragu untuk masuk. Key hanya mondar-mandir di depan pintu ruangan NICU, sampai akhirnya pintu terbuka dari dalam, membuat Key menghentikan kegiatan mondar-mandirnya.
" Apa anda ingin melihat anak anda, tuan?" tanya suster itu.
Suster tersebut sebenarnya ingin keluar dari ruangan itu, tapi ia urungkan karena melihat seseorang tengah berdiri di depan ruangan. Suster itu berpikir, Key ingin menemui anaknya. Walaupun suster itu tidak tahu yang mana anaknya.
" I..iya, sus" jawab Key gagap.
" Mari tuan" suster membuka pintu lebih lebar, agar Key dapat masuk.
Dengan langkah pelan Key memasuki ruangan tersebut. Key dapat melihat banyaknya bayi yang ada di dalam incubator. Key menjadi bingung sendiri. Ia tidak tahu yang mana satu anaknya, jenis kelaminnya saja ia tidak tahu. Sehingga membuat Key berhenti di tengah-tengah, karena bingung.
" Yang mana anak anda tuan?" tanya suster.
" Emm.. itu...eee. Saya melihat anak saya lahir dan saya juga tidak tahu apa jenis kelaminnya"
Suster yang mendengar itu tentu saja kaget. Ini pertama kalinya dia mendengar seseorang tidak mengetahui jenis kelamin anaknya sendiri.
" Begini, nama istri anda siapa?" tanya suster lagi. Biasanya di incubator bayi akan ada nama ibu dari anak tersebut.
" Nama istri saya, Maya" jawab Key.
Suster itupun mengangguk dan memulai mencari nama sesuai yang Key sebutkan.
__ADS_1
Tak berselang lama, suster menemukannya dan memanggil Key untuk menghampiri incubator.
" Ini anak anda tuan" suster menunjuk incubator dengan ke-lima jarinya.
Key kembali melangkah lebih dekat ke arah bayi tersebut. Sesampainya ia di depan incubator, ia bisa melihat seorang bayi tengah tertidur.
" Bayi anda berjenis kelamin perempuan" ucap suster itu saat Key hanya diam saja menatap ke arah bayinya.
Key tidak merespon perkataan suster tersebut. Key hanya fokus memperhatikan bayinya yang terlihat kecil. Bahagia? tentu saja ia bahagia bisa melihat bayinya. Bayi dari hasil keringatnya dengan Maya beberapa bulan yang lalu.
Sebuh senyuman terlukis di bibir Key, mengingat bagaimana ia bermain dengan Maya. Key juga mengingat masa-masa di mana Maya selalu meminta sesuatu padanya saat di perusahaan. Namun, senyuman itu tiba-tiba menghilang ketika ia mengingat saat di mana ia harus meninggalkan Maya kala itu.
Perasaan bersalah menyelimuti dirinya. Ia mulai berfikir bagaimana Maya menjalani hari-harinya selama 4 bulan sebelumnya. Di mana dirinya tidak bisa melihat perkembangan anaknya selama itu dan juga tidak bisa mengabulkan permintaan Maya.
Key juga mulai berfikir siapa yang selalu mengusap punggung Maya ketika ia tidak ada. Siapa juga yang selalu menemani Maya memeriksa kandungannya setiap bulan.
" Maafkan papa, nak" ucap Key lirih. Matanya berkaca-kaca melihat ke dalam incubator.
Suster yang melihat itu, mulai menjauh dan memberikan ruang untuk Key berbicar dengan putrinya. Suster akan menunggu di luar sampai Key akan memanggilnya.
Di dalam sana, kesedihan Key masih berlanjut. " Cepatlah membaik dan kita akan pulang bersama-sama kerumah kita. Papah akan menuruti semua keinginanmu sebagai gantinya saat papah tidak bisa menuruti keinginanmu semasa dalam kandungan Mamah" ucap Key seraya mengusap dinding incubator.
Deg
Jantung Key berdetak kencang ketika melihat putrinya manatap ke arahnya. Mata yang sangat mirip dengan mata sang istri dan begitupun dengan bibirnya.
" Matamu sangat cantik dan indah, sayang" ucap Key tersenyum. " Matamu sangat mirip dengan mama-mu"
"Kimberley ulandari putri Keylbert" tambah Key. Saat Key mengatakan hal tersebut, mata putrinya berkedip dan menampil senyuman untuk pertama kalinya.
Key juga ikut tersenyum melihatnya. " Apa kamu suka dengan nama itu?" tanya Key pada putrinya. Padahal dia belum bisa menjawab pertanyaannya.
" Senyuman mu yang tadi papah anggap sebagai jawaban kamu menyukai nama itu. Papah juga suka nama itu, ada nama papah dan nama tengah mamah di namamu, tapi mamah belum tentu suka dengan nama itu" Key mengingat, kalau ia belum meminta pendapat Maya. Key juga berfikir, mungkin Maya sudah memiliki nama untuk putrinya.
Setelah itu, Key mulai melantunkan suara adzan untuk putrinya dengar. Suara adzan pertama kali baginya setelah dia lahir ke dunia ini dengan selamat.
" Papah keluar dulu yah?" Key pamit pada putrinya. " Papah ingin menemui Mamah" lanjut Key.
__ADS_1
Key kemuadian berbalik dan meninggalkan putrinya di sana. Saat ia membuka pintu, ia bisa melihat suster yang tadi masih berdiri di dekat pintu.
" Jaga putriku baik-baik dan selalu laporkan perkembangannya padaku!" ucap Key pada suster itu serta memberikan nomor handphonenya.
" Baik tuan" suster menerimanya dan mengangguk.
Key pun meninggalkan ruangan itu dan berencana menemui Maya di ruang perawatannya.
" Apa kau sudah melihat anakmu?" tanya Bagas dari arah belakang. Key pun berbalik saat mendengar suara Bagas.
" Yahh...gue sudah menemuinya. Dia berjenis kelamin perempuan" jawab Key di sertai senyuman ketika mengingat wajah putrinya.
" Baguslah. Sekarang kau ingin ke mana?" tanya Bagas lagi.
" Gue ingin melihat keadaan Maya" Bagas menggut-manggut mendengarnya.
" Yasudah. Kalau gitu gue harus balik. Jihan sudah menungguku di mansion" ucap Tama.
" Jihan?" Key mengerutkan keningnya.
Key tentu saja belum tahu tentang pernikahan Tama dan Jihan beberapa bulan yang lalu. Maka dari itu, Key bingung ketika Tama mengatakan Jihan sedang menunggunya.
" Haha..gue lupa kalau kau belum tahu " Bagas tertawa kecil.
" Apa yang nggak gue tahu?" tanya Key.
" Tama juga sudah menikah dan satu bulan lagi Tama juga akan memiliki anak" jawab Bagas seraya melirik Tama yang hanya melihat ke arah Key.
" What!! kau sudah menikah? dan istrimu sedang hamil?" tanya Key pada Tama.
"Yahh..gue sudah menikah. Kehamilan istri gue lebih tua satu bulan dengan Maya, tapi anak lo lebih dulu lahir dari pada anak gue"
Key menganga mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka Tama sudah menikah dan akan memiliki seorang anak juga. Setahunya, Tama adalah pria yang dingin dan menganggap wanita hanya mainannya.
.
.
__ADS_1
LANJUT