
Hari sudah semakin larut. Mereka telah kembali ke kamar mereka masing-masing, setelah membereskan peralatan mereka di taman belakang.
Maya sangat fokus menonton acara kesukaannya di TV, sedangkan Key yang juga terlihat fokus dengan handphone entah apa yang dia lihat.
Hingga akhirnya acara kesukaan Maya sudah habis.
" Yah.. habis, padahal acaranya sangat seru. Bikin penasaran aja. Tcht.." gerutu Maya. Ia mematikan TV-nya dan menghampiri suaminya.
" Gorge" panggil Maya, tapi Key masih begitu fokus.
"Gorge...gorgeurus.. GORGEURUS KU.. " Maya yang begitu kesal memanggil Key berkali-kali sampi dia berteriak. Maya kemudian menggoyangkan tangan Key agar mendengarnya.
"Iya-iya boo, kenapa sih?" tanya Key.
"Kami tu nyebelin tau nggak, di panggil-panggil kok ngga dengar" gerutu Maya. Ia melipat tangannya di pinggang dan kembali ke kasurnya.
Key yang melihat itu menepuk jidatnya.
"Haduhh..salah gue" batin Key. Ia kemukakan menghampiri istrinya yang duduk membelakanginya.
"Aku minta maaf boo, tadi aku sangat fokus mengerjakan tugas kantor tadi" bohong Key. Ia sebenarnya tidak mengerjakan tugas kantornya. Ia sedang mencari sesuatu yang entah apa itu, hanya dia yang tahu.
"Biasanya kami mengerjakannya di leptop, tapi kenapa sekarang di Hp?" tanya Maya. Ia kemudian berbalik dan menatap suaminya.
"Aku sedang malas menggunakan leptop. Pakai Hp lebih mudah" jawab Key. Maya hanya manggut-manggut.
"Ayo tidur!. Ini sudah sangat malam, kamu tidak boleh begadang" ucap Key. Ia menarik istrinya untuk berbaring. Maya hanya menurut saja.
"Gorge" panggil Maya pelan, padahal Key sudah menutup matanya dan Maya sudah berada di pelukanmu.
"Hmmm.." sahut Key. Ia tidak membuka matanya.
"Aku curiga sama kak tama. Sepertinya dia suka sama Jihan" ucap Maya.
"Jangan membahas itu lagi. Itu juga tidak mungkin" ucap Key seraya menyapu wajah istrinya dengan tawangannya.
"Kenapa nggak mungkin?" tanya Maya bingung.
"Karena Tama menganggap wanita itu hanya pemuas nafsunya saja. Kalaupun Tama terlihat seperti menyukai wanita itu, bisa saja Tama akan menjadikan wanita itu pemuas nafsunya secara pribadi sampai dia bosan" jawab Key.
"Benarkah? Kenapa kak Tama seperti itu? Jahat sekali dia. Kan tidak semua wanita itu sama" ucap Maya kaget.
" Tuk...kamu ini, kalau ngomong suka sembarangan" Key menyentil kening Maya. Maya memanyunkan bibirnya karena merasa sakit dan mengusap-usap dahinya.
"Apa yang salah dengan ucapanku? Aku benarkan, kak Tama itu jahat, karena mempermainkan wanita" ucap Maya.
"Tama tidak mempermainkan wanita, tapi wanita itu yang datang dengannya sendirinya kehadapan Tama. Jadi yahh...Bu Sri Tama meladeninya" ucap Key.
__ADS_1
"Kenapa kak Tama menganggap semua wanita itu sama?" tanya Maya.
Maya masih belum berhenti bertanya, padahal sudah pukul setengah sebelas. Key juga masih meladeni pertanyaan istrinya.
" Sebenarnya Tama dulu tidak seperti itu, tapi semenjak dia tahu mamanya selingkuh dan bermain dengan pria lain, membuat Tama sangat kecewa pada mommy-nya" ucap Key.
"Terus-terus?" Maya begitu penasaran, sampai-sampai ia kembali duduk.
"Berkali-kali Tama melihat mommy-nya bermain bersama pria selain daddy'nya, membuat Tama tidak lagi mempercayai wanita, karena mommy'nya selingkuh dan meninggalkan Tama dengan daddy'nya" ucap Key.
"Terus di mana daddy'nya kak Tama?" tanya Maya semakin penasaran. Key ingin menjawabnya tapi dia menyadari hari sudah sangat larut malam membuat Key tidak jadi menceritakannya.
"Ihh..kamu ini sangat kepo" ucap Key.
"Tapi aku sangat penasaran, gorge..." ucap Maya.
"Tidak-tidak, sudah cukup. Ayo tidur, ini sudah sangat malam" Key manarik istrinya agar dia berbaring.
"Tapi gorge.." protes Maya.
" Sudah cukup. Ayo tutup matamu! aku heran kenapa kamu sangat kepo" Key tidak mengizinkan Maya untuk bertanya lagi. Ia menarik Maya masuk ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
"Ihh.. jangan seperti ini aku enggap" rengek Maya. Ia mendorong dada Key dengan paksa.
" Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi" Key melepaskan istrinya.
"Sebenarnya aku tidak mengantuk, gorge"
"Jangan banyak protes. Sekarang tutup matamu dan tidur!" perintah Key. Ia kemudian memukul pa***t istrinya, karena merasa kesal sendiri.
Sebenarnya mudah saja bagi Key membuat istrinya tertidur dengan cara berolahraga malam, tapi dia takut terjadi sesuatu dengan bayinya, kalau dia terlalu sering berolahraga.
Pagi hari
Semunya sudah berkumpul di meja makan menyantap sarapan pagi untuk beraktivitas hari ini. Mereka makan dengan tenang, namun berbeda dengan yang di rasakan Jihan.
Dia tidak menikmati makanannya, karena merasa gelisah. Jihan terburu-buru menghabiskan makanannya dan segera pergi dari meja makan, membuat yang lainnya kebingungan.
Tapi Bu Farah dan Bu Sri tahu alasan kenapa Jihan terburu-buru menghabiskan makanannya.
" Apa Jihan tidak enak badan, Bu?" tanya Maya pada Bu Farah.
" Iyah, dia kesulitan tidur semalam" jawab Bu Farah.
Memang benar Jihan semalam kesulitan tidur, karena selalu merasa gelisah.
" Benarkah? kasihan Jihan" Maya merasa prihatin.
__ADS_1
Mereka kembali terdiam dan menghabiskan makanannya masing-masing, sedangkan Tama dia hanya diam tapi tidak dengan telinganya dia mendengarkan pembicaraan Maya dan Bu Farah.
" Boo, aku pergi kantor dulu, yah" pamit Key.
"Iyah, hati-hati" ucap Maya. Ia mencium punggung tangan suaminya dan Key juga melakukannya. Key kemudian mencium kening Maya dan juga perutnya.
"Jangan nakal ya. Papa pergi kerja dulu" ucap Key pada perut Maya. Key kemudian ke kantor bersama Bagas.
Maya berjalan ingin ke kamar Jihan untuk melihat keadaannya. Bu Farah dan Bu Sri sedang bersantai bersama.
Tok tok tok...
"Ji, apa kamu di dalam?" tanya Maya di balik pintu.
"Iyah, kak" sahut Jihan dari dalam.
Ceklekkk...
Jihan membuka pintunya.
"Apa boleh aku masuk?" tanya Maya.
"Boleh kak. Masuklah!" Jihan mengizinkan dan Maya pun masuk.
"Kamu tadi kenapa saat di meja makan? apa kamu sakit?" tanya Maya.
"Aku hanya kurang tidur" jawab Jihan.
" Apa kau yakin? Tidak yang lain?" Maya memastikan. Jihan mengangguk seraya tersenyum kecil.
"Baiklah kalau begitu" ucap Maya.
" Oh yah, aku berencana ingin membantumu mencari ayah dari bayimu. aku akan meminta bantuan pada kak Tama yang baru saya datang kemarin" ucap Maya.
Mendengar itu Jihan pun kaget. Ia menggeleng cepat meminta Maya untuk tidak melakukannya.
" Jangan kak, kakak tidak perlu mencarinya" larang Jihan.
" Memang kenapa? kan bagus kalau dia tahu, supaya dia bisa bertanggung jawab pada bayimu"
" Tidak. kakak tidak perlu melakukannya" Jihan tetap pada pendiriannya untuk melarang Maya mencari tahu. Jihan tidak ingin Maya tahu siapa sebenarnya ayah dari bayi yang dia kandung.
.
.
.
__ADS_1
.
LANJUT....