
Mereka saat ini tengah menunggu hasil dari operasi Key. Sudah 2 jam lamanya mereka duduk di sana, tapi dokter belum juga keluar. Kekhawatiran sangat terlihat dari raut wajah mereka, terutama uncle Jang. dia mengepalkan kedua tangannya dan menaruhnya di matanya seraya menunggu.
Uncle Jang merasa tidak becus menjaga keponakannya. Dia yang berada di sana dan menyaksikan semuanya, tidak berhasil menghalangi Borxta.
" Kenapa uncle Jang bisa ada di sana ?" tanya Tama.
" Karena aku sudah tahu jika Borxta yang membunuh kakakku dan istrinya "
" Tapi kenapa kita bisa bersamaan ?" tanya Bagas.
" Hanya kebetulan saja " uncle Jang mengangkat bahunya.
" Di mana anak buah uncle Jang ? kenapa sejak tadi kami tidak melihatnya ?" tanya Tama.
" Aku hanya datang sendiri"
" Apa ! Bagaimana mungkin ?" Tama kaget dan tidak percaya.
Mereka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan identitas Borxta. Dan membutuhkan waktu seminggu untuk bertempur dengannya. itu saja masih banyak anggota mereka yang tumbang.
Uncle Jang mengatakan dia hanya datang sendiri, itu adalah hal yang mustahil menurutnya.
"Bisa saja. Buktinya Aku tidak kenapa-napa saat ini " uncle Jang menunjuk dirinya sendiri.
" Jangan menipuku uncle. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Benar bukan ?" Tama tidak percaya begitu saja dengan perkataan yang uncle Jang. Ia menatap uncle jam dengan selidik.
" chiihh.. kau tak berubah sama sekali. instingmu benar-benar kuat " uncle Jang menepuk-nepuk bahu Tama.
" Jadi ?" tanya Tama.
" Aku memang datang sendiri ke sana. Aku dan Borxta sudah saling mengenal, karena dia sahabat kakakku. Saat pertama kali aku datang ke markasnya, sudah menodongkan senjata ke arahku. Aku memberitahu anak buahnya untuk memberitahu Borxta dengan kedatanganku. Borxta mau bertemu denganku dan akhirnya ya aku bisa ada di sana " uncle Jang menjelaskan bagaimana dia bisa ada di sana sendirian tanpa siapapun.
" Jadi sejak awal uncle sudah tahu di mana letak markas Borxta ?" tanya Bagas.
" Tidak. uncle baru tahu satu bulan yang lalu"
Tama dan Bagas saling pandang. Itu juga adalah hari di mana mereka mengetahui Di mana letak markas Borxta.
" Apa uncle sudah lama mengetahui jika Key sudah memiliki markas sendiri?" tanya Tama.
" Tentu saja. Bahkan saat dia baru berencana ingin membuatnya"
" Jangan bilang angka memata-matai Key selama ini ?" Bagas curiga.
__ADS_1
"Benar. Uncle mana mungkin melepaskan pengawasan darinya begitu saja saat tahu kedua orang tuanya telah dibunuh "
Dahi Tama mengkerut. Ia memperhatikan uncle Jang dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
" Jadi uncle juga sudah tahu kalau kami berencana ingin menyerang markas Borxta ?" tanya Bagas.
" Yahh.."
" Bagaimana bisa kita tidak menyadarinya selama ini " kita Bagas.
" Kau hebat uncle Jang " Bagas memuji uncle Jang.
Ceklekkk..
Pintu ruangan operasi terbuka. keluarlah dokter yang menangani operasi Key. Mereka yang sejak tadi menunggu, langsung berdiri dan menghampiri dokter itu.
" Bagaimana keadaan keponakan saya, dok ?" tanya uncle Jang.
" Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dari kepalanya dan operasinya berjalan lancar, tidak ada masalah sama sekali. Kami hanyalah dokter yang berusaha menyelamatkan pasien, tapi saat ini pasien mengalami koma. Peluru yang mengenai otaknya mengganggu pikirannya, sehingga berakibat pada anggota tubuh yang lain "
" Apa komanya akan sangat lama ?" tanya Bagas.
" Kami tidak tahu tuan. Anda berdoa saja semoga pasiean cepat sadar " Dokter meninggalkan mereka.
Tama menyandarkan tubuhnya kedinding dan sedikit membenturkan kepalanya. Uncle menghela nafas berat, sedangkan Bagas memukul-mukul dahinya dengan kepalan tangannya.
" Gue juga tidak tahu. Kalau berita ini sampai di telinganya, dia bisa shok nantinya dan berdampak pada kehamilannya " kata Tama.
" Jangan memberitahunya dulu" uncle Jang melarang.
" Tapi, dia pasti menunggu Key pulang " ucap Tama.
" Itu benar uncle. Kita bisa membawa Maya ke sini. Siapa tahu dengan adanya Maya di sini, Key bisa sadar " kata Bagas.
" Tidak perlu. Kalian saja yang kembali dan menyakinkan istrinya, kalau Key baik-baik saja. Uncle yang akan menjaganya di sini " uncle jang tetap kekeh pada pendiriannya.
Tama dan Bagas menghela nafas berat. Mereka tidak setuju dengan usulan uncle Jang, tapi mereka tidak bisa membantah. Key adalah keponakannya, sedangkan mereka hanyalah teman saja. Mereka tidak ada hak di sini, tapi istrinya ada.
" Besok pagi kami akan kembali " ucap Tama.
" Terserah kalian " uncle Jang meninggalkan mereka begitu saja.
Tama dan Bagas masih menunggu di depan ruang operasi untuk melihat Key yang di pindahkan ke ruang perawatannya.
__ADS_1
Tak berselang lama, tampak beberapa perawatan mendorong brangkar di mana Key ada di atasnya. Kantung infus dan darah terlihat bergantung di brankar miliknya. Alat bantu pernafasan menutupi hidung dan mulutnya.
Tama mengikuti perawatan itu menderong brankar, sedangkan Bagas, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia juga memukul dadanya dengan keras, karena merasa sesak. Ia mengutuk dirinya sendiri, karena tidak berhasil menjaga Key. Setelah Bagas merasa lebih baik, ia berjalan mengikuti perawat itu.
Saat sampai di ruang perawatan Key, mereka di larang untuk masuk. Mereka hanya bisa melihat dari kaca besar yang membatasi ruangan. Hanya dokter dan perawat saja yang boleh masuk.
Perawat terlihat memasang alat mendeteksi denyut dan irama jantung . Suara Elektrokardiograf (EKG) terdengar di ruangan itu. Setelah selesai, perawat itu keluar dari ruang perawatan Key.
Malam ini Tama, Bagas dan uncle jang hanya tertidur di kursi tunggu saja, karena tidak ada tempat yang bisa mereka tempati. Mereka juga tidak mungkin menyewa hotel atau penginapan, karena tidak mau meninggalkan Key di sini.
Keesokan harinya
Tama dan Bagas sedang dalam perjalanan pulang. Para anggotanya yang lain sudah pulang lebih dulu, setelah mengurus semuanya. Borxta sudah ada di markas mereka dan sedang di tahan di sana dengan pengawasan yang sangat ketat dari anggota Key.
" Apa yang harus kita katakan pada Maya nanti ?" tanya Bagas pada Tama
" Entahlah, gue juga tidak tahu "
" Gue rasa kita harus beri tahu bibik terlebih dahulu " kata Bagas.
" Yahh.. terserah kau saja"
Beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di halaman manssion. Bagas memarkirkan mobilnya di depan pintu. Mereka keluar dan berjalan memasuki pintu, namun pintunya sudah lebih dulu di buka oleh Maya.
Bagas dan Tama saling pandang. Mereka menelan ludahnya kasar. Mereka bingung harus melakukan apa, untuk menghindari Maya.
"Kalian sudah pulang ?" tanya Maya basa-basi.
" Iyah " jawab Bagas.
" Di man...?" belum selesai Maya berbicar, Tama lebih dulu memotongnya.
" Boleh kami masuk dulu ? kami sangat lelah"
" Ohh.. tentu. Masuklah. Aku akan buatkan kalian minum " Maya meninggalkan mereka. Walaupun perasaannya kini tidak menentu.
Dia tidak melihat keberadaan suaminya bersama kedua sahabatnya. Maya bertanya-tanya dengan isi hatinya. Hingga dia tidak sadar jika air yang dia tuangkan ke gelas sudah tumpah.
" Astaga..Maya!" pekik bik Nur. Dia mengambil alih gelas itu dari tangan Maya.
" Maaf bik. Maya nggak sengaja "
.
__ADS_1
.
LANJUT