
" NYONYA MAYA.../ MAYA" Rud dan Hud serta Albert berteriak sangat keras saat melihat Maya sudah tergeletak di jalanan.
Para pengawal yang melihat itu, tanpa memikirkan kendaraan yang melintas di depannya, mereka menerobos begitu saja. Mereka tidak memperdulikan duri mereka akan di tabrak oleh kendaraan. Pikiran mereka hanya tertuju pada nyonya mereka yang sudah di kerumuni banyak orang.
" Maaf permisi..." Rud menggeser kerumunan itu agar ia bisa masuk.
Saat ia sudah bisa melihat nyonya Maya, Rud langsung menggendong Maya dan membawanya ke mobil. Para pengawal yang lain pun mengikuti ketua mereka, begitupun dengan Albert. Ia mengikuti para pengawal Maya dari belakang, karena ia juga sangat khawatir tentang kondisi Maya.
****Rumah sakit****
Kini mereka sedang menunggu di depan ruang IGD. Semua pengawal Maya juga ada di sana dan sedang berdiri tegak di depan pintu. Bahkan mereka berbaris seperti ingin menyambut seseorang.
Di sana juga sudah ada Albert yang duduk di kursi tunggu. Ada rasa bersalah pada diri Albert, karena dirinya lah yang mengajak Maya keluar siang ini.
Tak..tak tak..
Suara langkah kaki terdengar menuju ke arah mereka. Mereka sama-sama menoleh dan melihat siapa yang datang. Dan ternyata itu adalah tuan mereka yang sudah Rud beritahu tentang Maya yang berada di rumah sakit.
" Di mana Maya?" tanya Tama saat ia sudah sampi di hadapan para pengawal.
" Nyonya Maya sedang di tangani oleh dokter, tuan" jawab Rud.
Tama tidak memberikan respon apapun, ia hanya menoleh ke arah Bagas yang memang ikut bersamanya saat dia tahu Maya masuk rumah sakit.
" Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Maya bisa tertabrak motor di jalanan?" tanya Bagas. Ia sudah tahu kalau Maya tertabrak motor, karena Rud sudah menjelaskan sebelumnya.
" Kami juga tidak tahu, tuan. Kami nyonya Maya jauh berjalan di pinggir jalan raya. Dan lebih jelasnya hanya tuan Albert yang tahu" Rud menoleh ke arah Albert yang menunduk.
Bagas dan Tama sama-sama menoleh ke arah Albert. Bagas mengerutkan keningnya, kenapa Albert bisa ada di sini? berbeda dengan Tama yang memang tidak mengenal siapa Albert.
" Tuan Albert, anda di sini?" Bagas menghampiri Albert.
__ADS_1
" Tuan Bagas" Albert berdiri dan bersalaman. " Ya..saya di sini, karena saya bertemu dengan Maya saat makan siang tadi"
" Maksud anda, anda sedang bersama Maya sebelum dia kecelakaan?"
" Benar, tuan. Saya juga tidak tahu kenapa Maya tiba-tiba berdiri dan keluar dari cafe. Seperti Maya melihat sesuatu, sehingga dia buru-buru keluar dan mengejarnya" Albert menceritakan kejadian yang ia ketahui.
Tama dan Bagas hanya diam dengan pikiran mereka sama. Yang mana Bagas dan Tama sama-sama memikirkan apa yang Maya lihat, sehingga dia bisa berjalan di pinggir jalan raya seperti itu. Padahal dia sedang hamjl besar saat ini. Satu harapan mereka, yaitu Maya baik-baik saja bersama dengan bayinya.
Tama, Bagas dan Albert duduk di kursi tunggu. Mereka hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan dokter. Mereka termenung dengan pikiran mereka masing-masing. Di depan ruang IGD sangat sepi akan suara.
Hingga sampai akhirnya, suara teriakan terdengar. " Maya.."
" Maya" seseorang memanggil nama Maya.
Mereka yang ada di sana menoleh secara bersamaan ke arah orang tersebut. Alangkah kagetnya mereka saat melihat siapa orang itu. Bagas dan Tama langsung berdiri dari duduknya secara spontan, karena saking kagetnya dengan kedatangan orang tersebut.
" Di mana Maya?" orang itu mengguncang bahu Tama. " Hey..kenapa kalian diam saja, di mana Maya? di mana istriku?" Key kini mengguncang bahu Bagas.
" Key.." panggil Bagas. Ia kemudian memeluk atasannya sekaligus sahabatnya.
" Ckk.. jawab pertanyaanku! di mana Maya?" Key melepaskan pelukan Bagas dan masih mencari keberadaan Maya.
" Maya masih berada di dalam sana" Bagas menunjuk pintu IGD. " Kita masih menunggu dokter"
Mendengar itu Key mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian berjongkok dan memegang kepalanya. Ia merasa sedikit pusing berlari ke rumah sakit.
" Key.. sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tama. Ia bingung melihat keadaan Key yang tiba tiba datang dalam keadaan panik. Dan bagaimana bisa Key tahu Maya ada di rumah sakit.
Key tidak menjawab dan masih memegang kepalanya. Belum berhenti keterkejutan mereka, kini mereka di buat terkejut lagi dengan beberapa orang yang datang. Di mana Bagas dan Tama sangat mengenal siapa mereka.
" Uncle Jang, paman Syam, aunty Sheila" ucap Bagas dan Tama bersamaan saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
" Key.." mereka tidak menggubris panggilan Bagas dan Tama, mereka hanya menghampiri Key yang berjongkok di lantai rumah sakit.
" Key, kamu kenapa sayang?" tanya aunty Sheila seraya menangkup kedua pipi putranya.
Aunty Sheila adalah mamah Key yang dinyatakan meninggal saat pembantaian itu terjadi . Di mana umur Key kala itu adalah 5 tahun. Begitu pun dengan paman Syam yang sama-sama dinyatakan meninggal pada saat itu, tapi kenapa sekarang mereka ada di sini? bahkan berdiri tegak di hadapan mereka.
Bagas dan Tama sampai mematung di tempatnya. Mereka mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa paman Syam dan aunty Sheila masih hidup? bukankan mereka sudah meninggal di tempat? bahkan mereka memiliki kuburannya. Barbagai pertanyaan muncul di benak Bagas dan Tama.
Sedangkan Key yang melihat kedatangan kedua orangtuanya dan paman hanya diam saja. pikirannya saat ini hanya tertuju pada istri dan calon bayinya.
Bagaimana tidak, Key melihat dengan mata kepalanya sendiri melihat istrinya yang tengah hamil besar di tabrak oleh motor dengan kecepatan tinggi. Key melihat Maya yang tergeletak di jalanan dengan tidak sadarkan diri. Dan ia hanya diam mematung melihatnya tanpa melakukan apapun.
Key tersadar saat melihat Rud menggendong Maya ke mobil. Dari situlah Key mengikuti mereka hingga ke rumah sakit.
Di sana kembali hening dengan pikiran mereka masing-masing dan perasaan khawatir yang berbeda-beda dari setiap orang. Di mana orang tua Key menghawatirkan putra mereka, sedangkan Key menghawatirkan keadaan istrinya.
Bagaimana dengan yang lainnya? mereka juga khawatir, tapi kebingungan mereka lebih besar dari pada kekhwatiran mereka. Di mana Albert yang tidak mengerti apapun hanya bisa diam tanpa berani bertanya.
Sampai akhirnya pintu IGD serta keluarlah seorang dokter. Key yang melihat itu segera menghampirinya.
" Keluarga pasien " panggil dokter.
" Saya suaminya, dok" ucap Key. " bagaimana keadaan istri saya?" tanya Key. Ia sudah sangat tidak sabar mengetahui kondisi Maya.
Dokter menghela nafas berat dan kemudian berbicara " Maafkan kami tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin"
.
.
LANJUT
__ADS_1