Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Kenapa Menggigit Bahuku?


__ADS_3

Akhirnya setelah satu minggu lebih, Gevin memulai kembali pekerjaannya. Kedua orang tuanya langsung mengecek ke Apartemen ketika mengetahu kalau Gevin dan Zaina sudah kembali dari bulan madu. Zaina langsung memasak banyak makanan ketika tahu jika mertuanya akan datang malam ini.


"Masak apa Za?"


Zaina benar-benar terkejut ketika Gevin yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Saking kagetnya dia sampai tidak sengaja menyentuh wajah panas di atas kompor.


"Aww.."


Gevin langsung membalikan tubuh Zaina dan melihat tangan Zaina yang terluka. Meniupnya dengan lembut. "Ceroboh banget si, ini pasti sakit banget. Udah matiin dulu kompornya, obati dulu luka kamu ini"


Zaina hanya diam melihat Gevin yang begitu perhatian padanya. Hatinya berdebar senang, namun lagi-lagi dia mencoba sadar akan keadaan saat ini. Jika pernikahan mereka ini hanya sebuah sandiwara.


"Aku tidak papa, kamu duduk saja dulu. Sebentar lagi masakannya selesai"


"Zaina, obati dulu lukanya"


Zaina tetap melanjutkan masaknya, tidak memperdulikan ucapan suaminya itu. "Sebentar lagi matang ini masakannya, sebentar ya Mas"


Gevin hanya berdecak kesal, dia duduk dengan cemberut. Menatap istrinya yang sedang mengaduk masakan di dalam wajan. Tangannya masih terlihat memerah karena terkena wajan panas.


"Sudah selesai, ayo makan" Zaina menaruh sepiring masakan terakhir di atas meja.


"Iya, kamu obati dulu luka kamu itu"


Zaina duduk di samping suaminya, memegang tangan Gevin dengan lembut. "Aku tidak papa, cuma luka kecil begini saja"


"Zaina, luka kecil bisa jadi luka yang besar kalau sampai kamu tidak mengobatinya"


Akhirnya Zaina hanya menurut saja, dia menatap suaminya yang mengoleskan salep luka bakar itu di tangannya. Zaina menatap suaminya yang semakin hari semakin menunjukan perhatiannya itu. Zaina yang benar-benar tidak bisa menahan perasaannya lagi, karena sekarang sikap Gevin malah semakin membuat Zaina jatuh dalam pesonanya.


"Kamu harus lebih hati-hati lagi, jangan terlalu ceroboh. Karena kamu yang harus menjaga diri kamu ini"


"Iya Mas, lagian aku 'kan kaget sama kamu yang tiba-tiba datang dan peluk aku"


Gevin menatap istrinya dengan senyuman penuh kejahilan. "Memangnya kenapa? Boleh dong aku peluk istri aku sendiri"

__ADS_1


Zaina terdiam, menatap Gevin dengan lekat. Dia tidak bisa membedakan mana Gevin yang sedang serius dan Gevin yang sedang melakukan sandiwaranya. Gevin benar-benar tidak bisa di tebak oleh Zaina.


"Wah yang lagi romantis-romantisan"


Zaina langsung menoleh dan menatap mertuanya yang ternyata sudah masuk ke dalam Apartemennya. Zaina menatap bingung pada Gevin, kenapa kedua orang tua suaminya itu bisa masuk.


"Ibu memang tahu semua kode Apartemen yang di pernah di tempati oleh aku. Alasannya karena dia takut aku kenapa-napa dan bahkan dia tidak bisa langsung masuk. Ya, gitulah alasannya" jelas Gevin yang tahu arti tatapan istrinya itu.


Zaina mengangguk mengerti, dia menghampiri mertuanya dan menyalami mereka dengan sopan. Sekarang dia mengerti jika suaminya hanya sedang melakukan sandiwaranya itu.


"Bagaimana bulan madunya Nak? Apa menyenangkan?" tanya Vania pada menantunya dengan sangat antusias. Apalagi saat dia datang ke Apartemen ini dan melihat kemesraan anak dan menantunya itu.


Zaina tersenyum, dia mengingat bagaimana bulan madunya yang tidak seperti apa yang di bayangkan. Apalagi saat mengingat percakapannya dan Gevin disana yang malah membahas tentang Lolyta.


"Baik Ma, semuanya berjalan lancar"


Zaina tertegun saat tiba-tiba Ibu mertuanya itu mengelus perutnya. "Semoga kamu cepat isi ya"


Deg..


"Makan dulu Ma, lihat deh Zaina sudah memasak banyak makanan untuk kita" ucap Gevin, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan tentang bayi itu.


"Wah, kamu masak apa Sayang? Pastinya akan sangat enak, lihat Papa saja sudah duduk disana. Pasti sudah tidak sabar untuk masak makanan kamu"


Zaina tersenyum, dia langsung mengajak mertuanya untuk makan malam bersama disana. Dan Zaina tidak sadar jika suaminya itu terus menatap ke arahnya selama makan malam. Dan tatapan Gevin itu terlihat oleh Vania, membuat dia tersenyum senang karena ternyata anaknya bahagia dengan pernikahan ini.


"Ibu harap, kalian akan tetap bersama. Meski tentu saja nantinya akan ada sebuah godaan dan cobaan untuk kalian, tapi jika kalian terus bersama, semuanya akan terasa mudah" kata Vania menasehati anak dan menantunya


"Iya Bu" jawab Gevin sambil tersenyum, dia mengelus kepala istrinya dengan sayang.


Zaina hanya tersenyum saja, karena dia tahu apa yang dilakukan oleh Gevin ini memang sebuah bagian dari sandiwara mereka.


#######


Setelah mertuanya pulang, Zaina langsung membereskan bekas makan dan cemilan di atas meja. Dia merapikan kembali ruang tengah di Apartemennya ini.

__ADS_1


"Za, aku mandi duluan ya"


Zaina mengangguk, Gevin baru saja kembali dari membuang sampah ke bawah. Zaina kembali melanjutkan bersih-bersih di rumahnya ini. Dia senang sekali karena bisa bercerita banyak hal dengan Ibu mertuanya. Vania yang begitu baik padanya dan banyak menceritakan tentang kepribadian Gevin.


Seandainya saja yang kami lakukan ini bukan sebuah sandiwara. Mungkin aku akan sangat bahagia.


Zaina masih harus bersabar, karena dia sadar jika apa yang dilakukan suaminya hanya untuk sebuah sandiwara semata. Bukan karena Gevin mencintainya.


Selesai bersih-bersih di ruang tengah dan dapur, Zaina langsung masuk ke dalam kamar. Dia melihat suaminya yang baru saja keluar dari ruang ganti. Gevin sudah terlihat segar habis mandi.


"Mandi Za, kamu bau" ucapnya dengan nada yang meledek.


"Dih apaan si, kalaupun ak gak mandi juga gak papa. Kan kita gak tidur satu ranjang ini"


Zaina ingin berjalan melewati suaminya, namun Gevin menahan tangannya. Menarik tubuh Zaina hingga jatuh di pelukannya. Gevin memeluh Zaina dari belakang dengan memegang tangan istrinya itu.


"Malam ini aku akan tidur bersama denganmu. Tidur di sofa tidak nyaman"


Mata Zaina langsung terbelalak mendengar itu. Tentu saja sangat terkejut. Dia mencoba melepaskan tangan Gevin yang melingkar di dadanya itu. "Gevin lepasin ih, jangan aneh-aneh deh"


Aww..


Kenapa menggigit bahuku.


"Berani sekali manggil nama sama suami sendiri, itu tidak sopan Zaina"


Zaina mengelus bahunya yang di gigit Gevin barusan. "Iya Mas maaf, aku keceplosan barusan. Lepas ih, katanya aku bau, aku mau mandi dulu ini"


"Tidak papa, aku suka bau tubuhmu ini"


Ya Tuhan, ada apa dengan suamiku ini? Kenapa dia jadi seperti ini sekarang?


Zaina benar-benar merasa heran dengan sikap Gevin yang semakin hari semakin terasa aneh. Bagaimana Gevin yang seolah menjadi suami yang bahagia bersama Zaina dalam sandiwara pernikahan ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2