Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Sangat Menyayangimu?!


__ADS_3

Setelah makan malam, kedua orang tua Zaina langsung berpamitan untuk pulang. Saat ini Zaina baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Lalu dia segera ke dapur untuk menyelesaikan piring kotor yang belum sempat dia cuci selesai makan malam tadi. Melewati ruang tengah, dimana suaminya sedang duduk disana dengan sebuah laptop yang berada di atas meja di depannya itu.


"Sayang.." 


Gevin yang menyadari kehadiran istrinya itu langsung memanggilnya. Namun Zaina berlalu begitu saja tanpa menghiraukan panggilan darinya. Ternyata Zaina masih saja marah padanya. Sikap manisnya hanya dia tunjukan ketika di depan kedua orang tuanya saja.


Gevin menutup laptopnya dan langsung menyusul istrinya ke dapur. Gevin tidak mau sampai Zaina terus marah dan terus mendiamkannya seperti ini. Dia tidak akan tenang jika Zaina terus marah dan mendiamkannya.


Gevin memeluk Zaina dari belakang disaat istrinya itu sedang mencuci piring di wastafell. Dagunya bersandar di bahu Zaina. "Sayang, aku minta maaf ya, sudah ya jangan marah terus begini"


Zaina menghela nafas pelan, dia mematikan kran wastafell lalu mengelap tangannya dengan lap yang menggantung di depannya. Berbalik dan menatap suaminya yang masih belum melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Zaina.


"Mas, sebenarnya kamu maunya bagaimana dengan hubungan pernikahan kita ini? Jujur, aku bingung dengan sikap kamu yang selalu berubah-ubah dan aku juga tidak bisa mengerti bagaimana kamu yang sebenarnya, Mas. Aku memang istrimu, tapi aku tidak mengenal bagaimana kamu yang sebenarnya"


Gevin mengelus pipi Zaina dengan lembut, dia tahu bagaimana istrinya yang dilema dengan semua ini. "Sayang, aku benar-benar nyaman dan senang dengan pernikahan ini. Apa kamu tidak merasakan ketulusanku?"


Zaina tersenyum, jawaban Gevin sama sekali tidak membuat dia puas. Zaina hanya menganggap Gevin yang sedang mempertahankan Zaina dengan pernikahan ini hanya karena memang tidak mungkin Gevin mengakhiri pernikahan ini, karena dia sudah terlanjur bersandiwara di depan orang tuanya.


"Aku memaafkan kamu, Mas"


Sudah tidak ada gunanya lagi Zaina marah pada suaminya. Karena dia juga tidak punya hak atas hati suaminya, pernikahan ini hanya sebuah sandiwara yang tidak mungkin bisa Zaina rubah menjadi sebuah pernikahan yang sesungguhnya.


Gevin tersenyum mendengar itu, dia mengecup kening istrinya dengan lembut. "Terima kasih Sayang"


Zaina hanya tersenyum, setidaknya dia bisa menikmati masa-masa ini. Bersama dengan pria yang dia cintai sejak lama. Meski dia tahu jika semua ini hanya sebuah sandiwara. Namun Zaina tetap ingin menikmati masa-masa bersama dengan Gevin.


"Yaudah, sekarang kita tidur yuk. Waktunya istirahat"


Zaina mengangguk, dia dan Gevin berlalu ke kamar mereka. Zaina naik ke atas tempat tidur di susul oleh suaminya. Gevin sudah siap dengan posisi tidurnya, dia menepuk lengannnya untuk Zaina masuk ke dalam pelukannya itu.

__ADS_1


"Sayang, sini peluk"


Zaina tersenyum, dia beringsut masuk ke dalam pelukan suaminya. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di lengan suaminya. Rasanya Zaina tidak ingin sampai semua ini berakhir, dia ingin selalu bersama dengan Gevin. Meski dengan keadaan pernikahan seperti ini. Sebuah sandiwara pernikahan.


"Selamat malam, Mas"


Cup..


Gevin mengecup kening Zaina dengan lembut. "Selamat malam juga, Sayang"


########


Gevin terbangun lebih pagi hari ini, dia melihat istrinya yang masih berada dalam pelukannya. Zaina tertidur dengan nyaman di lengan Gevin.


Aku menyayanginya dan aku tidak mau sampai harus kehilangan wanita yang aku sayangi untuk kedua kalinya.


Gevin mengelus pipi Zaina dengan lembut, menyelipkan anak rambut yang keluar dari ikatannya dan menghalangi wajah istrinya. Menoel hidung mancungnya dengan gemas. Sampai hal itu membuat Zaina mengeliat pelan, lalu membuka matanya. Tersenyum melihat suaminya yang pertama kali dia melihatnya.


Gevin menggenggam tangan Zaina, mengecupnya lembut. "Masih pagi juga, kasihan kamu tidurnya nyenyak sekali"


Zaina bangun dan duduk menyandar di atas tempat tidur. "Sekarang mau sarapan apa Mas? Duh aku males masak lagi"


"Yaudah gak usah masak aja, ada roti bikin roti saja"


Zaina mengangguk, dia segera turun dari tempat tidur dan berlalu ke ruang ganti. Mandi dengan cepat dan bersiap, setelah itu dia menyiapkan pakaian kantor suaminya juga perlengkapan mandi untuk suaminya itu.


Zaina keluar dari ruang ganti, tapi tidak menemukan suaminya disana. Dia segera keluar kamar, Zaina mencari suaminya ke arah dapur. Namun Gevin benar-benar tidak ada disana. Zaina bingung, kenapa tiba-tiba suaminya tidak ada.


"Kemana dia? Kenapa pergi tidak bilang dulu padaku"

__ADS_1


Akhirnya Zaina memilih untuk duduk di meja makan dan membuat roti slai setrawberry untuk dirinya sendiri. Masih memikirkan kemana suaminya pergi secara tiba-tiba sekali. Apa mungkin dia lupa jika ada meeting pagi ini dan harus segera ke Kantor. Gumamnya dalam hati.


Selesai sarapan Zaina kembali ke kamarnya, dia mengambil ponsel dan segera menghubungi Gevin. Namun beberapa kali dia menghubunginya, tidak mendapatkan jawaban apapun. Membuat Zaina yakin jika Gevin sedang ada pekerjaan yang penting.


Akhirnya Zaina berangkat bekerja dengan menggunakan taksi online.


######


"Keadaannya semakin memburuk, ternyata melakukan kemoterapi selama ini tidak membuat kanker yang di deritanya hilang.Kami bahkan sudah pernah melakukan operasi, namun tetap tidak membuahkan hasil karena akarnya sudah menyebar kemana-mana"


Gevin menghela nafas pelan, dia menatap Lolyta yang terbaring lemah dengan segala alat medis yang menempel di tubuhnya. "Apa yang harus di lakukan setelah ini, Dok"


Dokter menggeleng pelan, menandakan jika tidak ada lagi cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan Lolyta yang sudah menderita karena sakitnya selama ini.


"Hanya terus melakukan pengobatan dan tetap berdo'a untuk kesembuhan pasien"


Gevin menghela nafas pelan, ternyata dia memang tidak bisa melihat Lolyta yang menderita seperti ini. Hatinya masih mempunyai simpati padanya.


"Biasanya akan lebih bagus kalau sesekali pasien di bawa pulang ke rumah dan mendapatkan suasana rumah yang menyenangkan. Itu akan cukup efektif untuk meningkatkan semangat untuk sembuh dalam diri pasien"


Gevin mengangguk, dia tahu bagaimana Lolyta yang selama ini hanya tinggal di rumah sakit selama dia sakit, karena memang dia yang tidak mempunyai siapa-siapa di kota ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal.


"Baiklah, siapkan semuanya saya akan membawanya pulang. Biarkan di sisa terakhirnya dia merasakan suasana rumah yang nyaman"


Dokter mengangguk. "Saya akan siapkan semuanya termasuk dengan obat-obatan yang harus di minum dengan rutin"


Gevin mengangguk, dia menatap Lolyta. Wajah cantik yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya, kini terlihat sangat pucat dengan sekitaran mata yang juga menghitam.


Sembuhlah Ly, aku merasa sangat bersalah karena tidak tahu keadaan kamu ini sejak awal. Mungkin jika aku tahu, semuanya tidak akan seperti ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2