Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Trauma Akan Cinta


__ADS_3

Genara kembali ke rumah dengan perasaan yang cukup kacau. Merasa bingung atas apa yang terjadi tadi siang. Edgar memang pria yang terlihat baik dan juga dia adalah sosok pria yang mungkin tidak akan pernah menyakiti. Sikapnya yang marah dan lembut, tentu adalah pria yang sangat di dambakan banyak orang. Tapi untuk dirinya yang pernah mengalami trauma yang begitu besar atas cinta, tentu saja tidak akan mudah untuk bisa kembali jatuh cinta.


Genara menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Membenamkan wajahnya di atas bantal dengan kaki yang dihentakan di atas tempat tidur. "Aaa.. Aku harus bagaimana sekarang. Kenapa dia begitu mengganggu pikiranku"


Genara yang bahkan tidak bisa lupa dengan kata-katanya tadi, Edgar yang berkata dengan lantang jika dia mengajaknya untuk menikah. Sekarang Genara yang bingung sendiri harus melakukan apa dan harus bagaimana bersikap hari esok. 


Genara bangun dan duduk bersila di atas tempat tidur itu. "Apa yang aku harus lakukan besok, rasanya kalau bertemu dia aku akan kebingungan untuk bersikap. Ah sial, dia ini kenapa harus berkata seperti itu di depan Ayah dan Kakak si"


Tok..tok...


Genara langsung menoleh ketika mendengar suara pintu yang diketuk. "Iya? Masuk saja"


Sudah menduga jika itu adalah Ibunya, dan benar saja saat pintu terbuka. Vani langsung masuk dan berjalan ke arah Genara yang sedang duduk di atas tempat tidur itu. Vania ikut duduk di pinggir tempat tidur.


"Gen, ada apa? Kenapa kelihatannya kamu sedang banyak masalah" ucap Vania sambil mengelus kaki anaknya itu.


Genara tidak menjawab, dia malah merebahkan  tubuhnya di atas pangkuan Ibunya itu. "Bu, aku sedang bingung sekarang"


Vania tersenyum, dia tahu ceritanya dari suaminya. Vania mengelus kepala anaknya yang berada di atas pangkuannya itu. "Menurut Ibu, sudah saatnya kamu mulai membuka hati lagi untuk pria lain dan cinta yang baru"


Genara hanya menghela nafas pelan, tentu saja dirinya juga bingung harus bagaimana. Bahkan sekarang Ibunya sendiri sudah tahu bagaimana kejadian tadi. Jadi apa yang akan Genara sembunyikan lagi saat ini. 


"Iya Bu, aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Dia begitu mengincarku. Di Kantor saja sudah hampir semua orang tahu" ucap Genara.


Vania tersenyum, dia mencubit gemas hidung anak perempuannya ini. "Jelas saja dia mengincar kamu, anak Ibu ini 'kan memang cantik. Lagian, kamu harusnya senang saat ada yang mengincar kamu saat ini. Karena memang seharusnya seorang perempuan itu diperjuangkan, bukan malah kamu yang berjuang sendiri"

__ADS_1


Genara terdiam, tentu saja dirinya juga tahu harus melakukan apa. Tapi memang mengingat tentang kisahnya bersama Aldo saat itu, memang hanya dirinya yang banyak berjuang.Selebihnya Aldo hanya seolah pasrah saja dengan apa yang dia lakukan. Memang baru kali ini ada seorang pria yang mengejarnya sampai seperti ini. Bahkan dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi dia menghadapinya. 


"Kalau misalkan dia hanya mempermainkan Gen lagi bagaimana? Kalau sampai dia tidak mencintai Gen, dan ternyata Gen yang sudah terlanjur mencintainya bagaimana? Gen, akan lebih hancur lagi, Bu" ucap Genara sambil menatap wajah Ibunya.


Vania menghembuskan nafas pelan, tentu saja dirinya juga tidak tahu harus melakukan apa. Karena saat ini anaknya sedang dalam masa penyembuhan dalam luka yang tercipta besar hingga menghadirkan rasa trauma yang begitu besar.


"Tidak papa, coba saja untuk mengenalnya lebih dulu. Jangan sampai kamu malah menyakiti hati orang lain dengan mengira kalau orang itu adalah sosok yang tidak baik"


Genara hanya terdiam mendengar ucapan Ibunya itu. Dia berbalik dan memeluk perut Ibunya dengan nyaman. Tentu saja dia sangat nyaman ketika dia merasakan pelukan Ibunya. Memang sosok Ibu yang selalu membuat anaknya nyaman. Dalam keadaan apapun pelukan Ibu yang membuat Genara nyaman.


"Ternyata disini, Bu" ucap Papa Gara yang baru saja masuk ke dalam kamar Genara. 


Vania menoleh dan tersenyum pada suaminya itu. "Ada apa Pa? Ibu lagi berbicara sama Gen"


"Iyalah, makanya kamu cepat menikah. Kalau sudah punya suami, pastinya kamu akan tahu rasanya. Bagaimana dengan ajakan menikah dari atasan kamu itu?" tanya Papa Garra.


Genara mendengus kesal mendengar ucapan Ayahnya itu. "Pa, aku masih belum siap menikah. Memangnya Papa sudah jatuh miskin sekarang sampai tidak sanggup lagi membiayai aku?"


Gara hanya tertawa mendengar ucapan anaknya itu. Terkadang selalu merasa kasihan karena Genara yang sebaik ini dan mempunyai ketulusan dalam mencintai.  Namun perasaan cintanya harus terbohongi oleh kekasihnya. Membuat sekarang Genara harus mengalami trauma akan cinta.


"Pikirka baik-baik tentang Edgar, Papa rasa dia memang serius padamu. Coba dulu untuk mengenalnya lebih dekat"


Genara hanya mengangguk saja mendengar ucapan Ayahnya yang sama persis dengan ucapan Ibunya. Mungkin memang harus mulai mendekatkan diri dengan Edgar untuk Genara bisa tahu bagaimana sebenarnya Edgar itu.


########

__ADS_1


Malam ini ketika Zaina terbangun entah pukul berapa. Tapi dia mulai merasakan perutnya yang mengencang, belum lagi dia yang merasakan rasa sakit yang terus silih berganti.


Apa mungkin aku sudah ingin melahirkan ya. Zaina mengelus perutnya dengan lembut. "Sayang, kalau memang sudah saatnya kamu lahir kedunia ini. Ayo kita berjuang sama-sama ya"


Benar saja, satu jam kemudian, rasa sakitnya semakin sering dan lama. Membuat Zaina sudah mulai mengeluarkan suara ringisan pelan. Segera dia membangunkan suaminya yang masih terlelap disampingnya itu.


"Mas, ayo bangun Mas"


Gevin mengerjap pelan, menatap istrinya yang sudah bangun dan sekarang sedang duduk disampingnya sambil terus mengelus perutnya. Hal itu semakin membuat Gevin merasa yakin jika Zaina sudah mulai merasakan kontraksi.


"Sayang, apa sudah saatnya?" tanya Gevin dengan sedikit panik.


Zaina tersenyum, meski dia mencoba untuk menahan diri untuk tidak menangis saat ini. "Mas, kamu ganti baju dulu sana. Ambil tas besar yang sudah disiapkan, kita ke rumah sakit sekarang"


Gevin tidak lagi menunda waktu, segera dia berlari ke ruang ganti dan melakukan apa yang di suruh oleh istrinya. Beberapa saat kemudian, Gevin kembali dengan membawa tas besar yang diminta istrinya itu. Didalam sana adalah semua perlengkapan untuk persalinan.


"Sayang, ayo biar aku gendong sekarang"


Gevin menggendong Zaina untuk keluar dari dalam kamar, dia berteriak memanggil pelayan untuk membantunya mengambilkan tas di dalam kamar. Gevin mengendarai mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Menghubungi pihak rumah sakit agar Dokter sudah bersiap, dia terus melirik istrinya yang mulai merasakan puncaknya kontraksi.


"Sabar Sayang, kita akan segera sampai"


"Iya Mas, kita akan segera bertemu dengan anak kita" ucap Zaina sambil tersenyum, meski keringat dingin sudah membanjiri keningnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2