
Zaina dan Gevin telah sampai di rumah dan mereka berpapsan dengan Genara yang hendak keluar dari rumah itu. Zaina melihat tatapan penuh kesedihan dan kekecewaan dari Genara. Membuat dia berpikir jika apa yang telah dia rencanakan malah gagal.
"Gen, kamu mau kemana?" tanya Zaina dengan memegang lenganadik iparnya itu.
Genara menoleh dan mencoba tersenyum pada Zaina, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Aku pulang dulu ya Kak, tadi Ibu telepon suruh aku untuk segera pulang"
Zaina tidak bisa lagi menahan Genara saat dia langsung berlalu pergi begitu saja tanpa berbicara apapun lagi. "Apa mungkin dia di tolak sama Aldo ya? Aku harus tanyakan hal ini langsung pada Aldo"
"Jangan macam-macam Sayang, maksudnya kamu mau bertemu berdua dengannya dan berbicara berdua juga dengannya?" ucap Gevin dengan tatapan tidak suka pada istrinya, entah kenapa sampai saat ini dirinya memang masih saja merasa tidak suka pada jika istrinya berinteraksi terlalu dekat dengan Aldo.
Zaina langsung merangkul tangan suaminya dan tersenyum padanya. Mengajak Gevin untuk segera masuk. "Kamu ini Mas, masih saja merasa cemburu dan tidak suka pada Aldo. Padahal kenyataannya aku tidak mempunyai alasan apapun untuk berpaling dari kamu. Tentu saja karena hatiku sudah sepenuhnya untukmu"
Gevin hanya terdiam mendengar itu, tentu saja dia tahu tentang perasaan Zaina yang masih sama sampai saat ini. Namun dirinya tetap tidak suka jika istrinya berinteraksi berlebih dengan pria manapun, termasuk Aldo.
"Cuma aku merasa heran saja dengan sikap Genara barusan. Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana Genara yang terlihat kecewa" ucap Zaina yang masih memikirkan tentang adik iparnya itu.
Gevin membuka pintu kamar dan masuk bersama dengan istrinya itu. Memang dia juga melihat perbedaan Genara, namun dia tidak berpikir jika dirinya di tolak cinta oleh Aldo juga.
"Mungkin Gen hanya sedang tidak mood saja. Lagian dia juga belum tentu mau mengungkapkan perasaannya duluan, kamu tahu sendiri bagaimana dia" ucap Gevin yang menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Zaina hanya menghela nafas pelan mendengar itu, tentu saja dia juga tahu jika Genara juga selalu bilang jika dirinya tidak berani jika harus mengungkapkan perasaan lebih dulu pada Aldo. Mungkin memang bukan karena ditolak cinta, dia seperti itu. Gumamnya dalam hati.
"Yaudah kalau gitu aku mau mandi duluan ya" ucap Zaina yang langsung berlalu ke ruang ganti.
__ADS_1
Zaina tidak sadar jika suaminya itu mnegikutinya masuk ke dalam ruang ganti. Ketika Zaina yang sedang melepas pakaiannya dan berganti dengan jubah mandi, Gevin langsung memeluknya dari belakang. Membuat Zaina terlonjak kaget.
"Mas, kamu ngagetin aku aja deh"
Gevin hanya tersenyum, dia menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu. Zaina bahkan belum sempat menarik tali jubah mandi yang di pakainya, membuat sekarang tubuh depannya masih polos dan tidak tertutup apapun.
"Ayo mandi bersama, sudah lama kita tidak melepas rindu" ucap Gevin sambil mengecup bahu istrinya.
Zaina menghela nafas pelan, apalagi ketika tangan suaminya yang sudah mulai merayap naik ke bagian dadanya. Sudah pasti mandi kali ini akan membutuhkan durasi yang lebih lama. Tapi Zaina juga tidak bisa menolak karena memang dirinya tidak mempunyai keberanian sebesar itu untuk menolak keinginan Gevin.
Dan sore ini, keduanya menghabiskan waktu di kamar mandi.
########
"Maaf Genara, tapi aku tidak merasa pantas untuk mendapatkan perasaan cinta tulus kamu itu. Lebih baik kamu lupakan saja perasaan kamu itu padaku"
Kalimat yang diucapkan oleh Aldo sebelum dia yang langsung pergi begitu saja. Bukan masalah penolakan yang diberikan oleh Aldo padanya, tapi tentang bagaimana Aldo yang meminta Genara untuk melupakan perasaannya pada Aldo. Sementara Genara tidak akan pernah bisa untuk melupakan perasaan yang sudah terlanjur tumbuh di hatinya ini.
Aaa.. Aku harus bagaimana sekarang? Bertemu lagi dengan dia pasti akan membuat aku malu dan semuanya tidak akan sama lagi. Genara memebenamkan wajahnya di atas bantal dengan air mata yang menggenang. Dia masih mencoba untuk menahan diri agar tidak menangisi semua ini. Namun semuanya tetap runtuh juga pada akhirnya.
Bodoh! Aku menyesal karena sudah mengungkapkan perasaan aku ini. Karena aku yang memang terlalu berharap jika dia akan menerima perasaan aku ini. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku menyesal mengungkapkan perasaanku ini.
Tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin Genara akan lebih memilih untuk diam dan tetap memendam perasaannya ini. DIa tidak mau sampai harus membuat hubungannya dan Aldo merenggang setelah ini. Karena hal itu pasti saja terjadi setelah ungkapan cintanya yang tidak diterima oleh Aldo.
__ADS_1
Tok..tok..
"Gen, ini Ibu, boleh Ibu masuk?"
Mendengar suara Ibunya di balik pintu kamar, Genara langsung bangun dan menghapus air matanya yang mengalir begitu deras di pipinya. Dia tidak boleh sampai terlihat sedih oleh Ibu, meski sebenarnya Ibu selalu saja peka dengan perasaan setiap anaknya.
"Masuk saja Bu, tidak di kunci kok" teriak Genara.
Vania langsung memutar handel pintu dan membukanya. Dia masuk ke dalam kamar putrinya ini dan melihat Genara yang sedang duduk bersila di atas tempat tidur. Segera Vania menghampirinya dan duduk di pinggir tempat tidur itu.
"Gen, apa kamu baik-baik saja?" tanya Vania, dia melihat anaknya yang pulang dari rumah Kakaknya dengan wajah sendu dan langsung masuk kamar begitu saja. Tentu saja Vania sangat khawatir dengan keadaan anaknya ini.
Genara tersenyum pada Ibunya, tentu saja dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya ini pada Ibu. "Baik-baik saja Bu, memangnya Gen kenapa?"
Vania tersenyum mendengar itu, meski entah kenapa hatinya masih belum percaya dengan anaknya ini. "Ibu takut kalau kamu sampai kenapa-napa, soalnya tadi langsung masuk begitu saja ke dalam kamar"
Lagi-lagi Genara tersenyum, mencoba menutupi semuanya dengan sebuah senyuman. Dia meraih tangan Ibu dan menggenggamnya dengan lembut. "Tadi aku lagi kebelet pipis Bu, jadi cepa-cepat ke kamar mandi deh"
Alasan yang cukup masuk akal yang diberikan oleh Genara membuat Vania sedikit lega jika anaknya ini memang baik-baik saja dan tidak ada hal yang terjadi padanya.
"Kalau ada apa-apa, kamu langsung bilang ya sama Ibu. Jangan memendamnya sendiri" ucap Vania sambil mengelus punggung tangan putrinya
Genara mengangguk dan tersenyum, dia memang selalu terbuka pada Ibunya tentang apapun. Bahkan tentang perasaannya pada Aldo saja dia bilang pada Ibu. Tapi untuk kali ini Genara benar-benar tidak bisa menceritakan semuanya. Alasannya karena dia merasa sangat malu setelah perasaan cintanya di tolak.
__ADS_1
Bersambung