
"Sayang, kamu hati-hati dengan perutnya. Masih sakit 'kan" ucap Gevin, dia bangun terduduk dan membantu istrinya untuk ikut bangun.
"Iya Mas, tapi sudah tidak terlalu sakit karena sekarang kamu ada disini bersamaku. Kalau kemarin-kemarin baru terasa begitu sakit sekali" ucap Zaina pelan.
Gevin mengelus kepala istrinya dan menciumnya dengan lembut. "Yaudah, kalau begitu aku minta maaf ya"
Zaina menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Memeluknya dengan lembut. "Jangan kayak gitu lagi ya"
"Iya Sayang, tidak akan" ucap Gevin sambil mengecup puncak kepalanya.
Pagi ini hasil dari maternty shoot baru saja sampai ke rumah. Zaina terdiam melihat foto itu. Mengelus bagian perutnya yang terlihat menonjol di foto itu. Mengingat bagaimana setelah acara maternity shoot ini, dirinya yang harus kehilangan bayi dalam kandungannya.
"Maafkan Mama Nak, karena Mama belum bisa menjadi Ibu yang baik buat kamu" lirihnya pelan.
Rasa sakit itu masih ada hingga sekarang, bagaimana Zaina yang harus merasa hancur dengan kenyataan ini. Tidak ada seorang Ibu yang akan ikhlas begitu saja saat kehilangan anaknya. Zaina saja begitu merasa hancur dengan semua ini. Semakin hari maka akan semakin terasa kehilangan anaknya yang begitu menyakitkan.
"Sayang.."
Gevin langsung menatap apa yang sedang di lihat oleh istrinya yang sedang duduk di atas sofa. Menghela nafas pelan ketika melihat foto maternity mereka yang baru saja jadi dan di kirim ke rumah. Gevin meraih kepala Zaina dan menyandarkannya di dadanya. Memeluk istrinya dengan lembut.
"Semuanya sudah terjadi dan sudah berlalu. Jadi tidak perlu kamu terus bersedih ya" ucap Gevin dengan mengecup lembut puncak kepala istrinya.
"Mas, mungkin memang karena aku yang tidak bisa menjadi Ibu yang baik. Jadi anakku memilih untuk pergi meninggalkan kita" lirih Zaina lembut.
Gevin hanya menghela nafas pelan mendengar itu. Dia tahu bagaimana perasaan istrinya, karena dia juga merasakan hal yang sama. Namun saat ini dirinya harus terlihat lebih kuat, karena istrinya juga membutuhkan dirinya untuk semua ini.
__ADS_1
"Kamu sudah menjadi Ibu yang baik juga menjadi istri yang baik. Lagian tidak ada yang bisa melakukan apapun dengan semua hal terjadi saat ini. Sekarang kita hanya perlu memulai hidup baru, dan coba ikhlas untuk apa yang sudah terjadi" ucap Gevin.
Zaina mengangguk pelan, dia tahu memang seperti itu yang harus dirinya lakukan saat ini. Jangan terus terpuruk dengan keadaan yang ada saat ini. Zaina yang benar-benar harus mencoba menjadi istri yang baik dan akan tetap ikhlas dengan semua yang telah terjadi.
"Sekarang kita harus segera mempersiapkan untuk acara keluarga ya, kata Ibu dia akan mengadakan acara keluarga untuk mndo'akan bayi kita" ucap Zaina.
"Semuanya akan dilakukan di rumah Ibu saja, biar dia yang menyiapkan semuanya. Jadi kita tidak perlu datang kesana dan kamu juga hanya perlu istrirahat saja dan tidak usah melakukan apapun" ucap Gevin.
Zaina hanya mengangguk saja, dia juga masih dalam keadaan yang belum benar-benar pulih. Jadi rasanya tidak mungkin kalau dia harus melakukan banyak hal di saat keadaannya yang seperti ini.
"Semoga saja setelah ini kita akan menemukan kebahagiaan yang baru ya, Mas" ucap Zaina sambil mendongakan wajahnya, menatap suaminya yang sedang memeluknya ini.
"Iya Sayang, tentu aku juga berharap seperti itu"
Zaina masuk ke dalam kamarnya dengan perlahan. Perutnya masih terasa sakit, meski sudah mulai mengering. Namun masih terasa ngilu. Membuat dia langsung duduk di atas sofa. Di tangannya masih terdapat figura foto dari maternity.
Hatinya tentu terasa sakit ketika melihat foto itu. Niat awalnya adalah ketika melakuan maternity shoot. Dia ingin menunjukan pada anaknya ketika dirinya sedang hamil. Namun nyatanya anaknya tidak bisa bertahan selama itu. Hingga dia tidak sempat menunjukan foto ini pada anaknya.
"Seandainya kamu masih ada disini, mungkin kamu berada dalam gendongan Mama saat ini, Nak. Tapi Mama dan Papa akan mencoba untuk ikhlas atas kepergian kamu. Meski kesedihan itu belum sepenuhnya hilang"
Semua orang akan merasakan hal yang sama jika harus kehilangan anak mereka di usia yang masih bayi. Benar-benar tidak mungkin jika bisa melupakan begitu saja. Kesedihannya pasti masih ada hingga waktu bekepanjangan. Namun, Zaina sedang mencoba untuk ikhlas.
"Sayang.." Gevin masuk ke dalam kamar dan melihat Zaina yang sedang duduk di atas sofa. Segera dia menghampirinya. "...Kamu sedang apa disini? Jalan sendiri ke dalam kamar? Kan bisa tunggu aku sebentar, aku hanya cek email saja tadi"
Semenjak Zaina pulang ke rumah beberapa hari lalu, maka sikap Gevin yang benar-benar begitu memperhatikan dirinya. Bahkan ketika Zaina ingin pergi ke kamar mandi saja, Gevin selalu membantunya. Bahkan pernah sampai harus menggendongnya. Padahal nyatanya keadaan Zaina sudah lebih baik sekarang.
__ADS_1
"Tidak papa Mas, aku sudah bisa berjalan sendiri kok. Aku sudah lebih baik sekarang. Jahitan bekas operasinya juga mulai mengering" ucap Zaina sambil tersenyum pada suaminya.
Gevin mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, kamu harus hati-hati ya. Harus menjaga kesehatan kamu, aku tidak mau kalau sampai kamu sakit"
Gevin yang tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini, setelah kepergian anak mereka yang bahkan belum sempat Zaina menggendongnya. Namun, mereka hanya bisa ikhlas. Karena apa yang bisa mereka lakukan saat ini? Tidak ada, selain ikhlas dan menerima kenyataan yang ada.
"Iya Mas, aku baik-baik saja kok. Lagian aku sudah mulai bisa berjalan. Kata Dokter juga harus tetap berusaha bergerak agar tubuh aku tidak kaku" ucap Zaina, dia tersenyum pada suaminya. Meraih tangan Gevin dan menggenggamnya.
Dengan suaminya yang kembali seperti dulu lagi, maka Zaina sudah sangat bersyukur. Dia sudah lebih baik dari sebelumnya dengan suaminya yang kembali seperti semula. Sikap Gevin yang menghindarinya waktu itu, yang membuat Zaina lebih merasa sakit dan terluka. Hingga dia merasa putus asa.
Zaina menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Mas, aku sedikit lebih tenang karena sekarang aku sudah mempu mencoba untuk ikhlas atas apa yang terjadi. Aku sadar jika anak kita itu sudah bahagia di surga"
Gevin mengangguk, dia menempelkan pipinya di puncak kepala Zaina yang menyandar di bahunya. "Nanti dia akan menjemput kita di surga sana"
Zaina mengangguk, sekarang sudah saatnya keduanya untuk lebih tegar dan bisa melupakan segala kesedihan. Meski tidak bis langsung lupa begitu saja, namun tetap harus bisa melupakan.
"Sekarang ayo kita istirahat. Kamu sudah minum obatnya?" tanya Gevin
Zaina mengangguk, lalu Gevin langsung membantunya untuk berjalan ke arah tempat tidur. Membenarkan posisi Zaina, menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Gevin juga memberikan kecupan di kening istrinya itu.
"Istiahat ya, aku mau simpan dulu foto itu"
Zaina hanya mengangguk, dia menatap suaminya yang mengambil figura foto maternity itu dan menggantungnya di dinding.
Bersambung
__ADS_1