
Pernikahan mereka yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Masih ingin menjalani berdua dengan berpacaran seperti ini. Jadi Genara dan Aldo sepakat untuk tidak buru-buru menikah.
Keluarga Aldo telah kembali, sekarang Zaina sedang menemui Genara yang sedang duduk di kursi yang berada di teras belakang dekat taman.
"Kenapa kamu gak mau cepat nikah Gen? Padahal Aldo dan kamu sudah sangat cocok loh" ucap Zaina.
Genara tersenyum mendengar ucapan Zaina barusan. Tentu saja dia juga ingin menikah, tapi sepertinya tidak untuk waktu yang cepat. "Masih ingin menikmati waktu saat ini Kak. Jadi masih belum kepikiran untuk nikah buru-buru"
Zaina mengangguk mengerti, dia menatap lampu taman yang bersinar menerangi gelapnya malam. "Akhirnya ya, kamu dan Aldo bisa bersama juga. Padahal dulu aku tidak pernah menyangka loh kalau kamua kan menyukai Aldo. Tapi memang dia sangat baik si"
Genara mengangguk setuju, memang Aldo terlihat sangat baik dan tulus hanya untuk pertama kali bertemu saja. "Dia memang sangat baik Kak, aku juga bis amerasakan ketulusan yang dia berikan padaku selama ini. Benar-benar pria yang baik sekali"
Zaina mengelus punggung tangan adik iparnya yang berada di atas meja diantara mereka berdua yang sedang duduk di atas kursi di teras belakang ini.
"Sepertinya memang kita beruntung ya, bisa mendapatkan lelaki yang baik. Aku juga tidak pernah menyesal karena bisa bersama dengan Gevin. Dia baik dan tulus padaku sekarang" ucap Zaina.
"Sebenarnya si kalau dari kisah Kak Zaina ini, seharusnya Kak Gevin yang merasa bangga dan beruntung bisa mendapatkan istri seperti Kakak" ucap Genara.
Zaina hanya tersenyum dengan ucapan adik iparnya itu. Karena memang Gevin yang begitu baik sekarang dan bisa berubah dengan cepat, maka hal ini sudah cukup membuat Zaina senang dan bahagia bisa kembali bersamanya.
"Aku memang beruntung mempunyai Zaina sebagai istriku"
Keduanya langsung menoleh ketika tiba-tiba mendengar suara Gevin yang muncul begitu saja disana. Mengagetkan mereka berdua.
"Mas, kamu ini bikin aku kaget aja deh" Zaina memukul lengan Gevin yang sekarang berdiri disampingnya.
Gevin hanya tersenyum, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. Mendengarkan percakapan antara istri dan adiknya, membuat Gevin begitu merasa beruntung karena istrinya ini begitu bahagia saat ini. Meski dulu pernah di sia-siakan oleh Gevin. Hal bodoh yang dirinya lakukan.
__ADS_1
"Masuk yuk, udah malem juga. Udaranya dingin, gak baik buat kesehatan" ucap Gevin pada istrinya.
Zaina mengangguk dan langsung berdiri dan duduknya. Menatap Genara yang sepertinya masih betah berada disana. "Gen, kamu gak mau masuk? Udah malem loh ini"
"Sebentar lagi Kak, masih nyaman duduk disini" ucap Genara sambil tersenyum.
"Yaudah kalau gitu kami masuk duluan, kamu jangan kelamaan berada di luarnya" ucap Gevin.
Genara hanya mengangguk saja.
Gevin dan Zaina langsung masuk ke dalam rumah dengan saling merangkul mesra. Sementara Genara masih diam dengan ketenangan malam yang membuatnya itu tenang juga. Ponselnya yang bergetar membuat dia langsung merogohnya di dalam saku celana. Tersenyum saat tahu siapa yang mneghubunginya.
"Hallo Kak, apa sudah sampai?" Genara benar-benar tidak bisa menahan senyumnya ketika dia tahu jika yang meneleponnya adalah Aldo.
"Iya, ini baru sampai dan langsung hubungi kamu. Kok belum tidur? Udah malam loh ini"
Senyum Genara semakin lebar saja, senang sekali mendengar suara kekasihnya yang selalu memberikan perhatian seperti ini padanya.
"Yaudah kalau gitu, tapi ingat jangan begadang ya. Kamu harus jaga kesehatan, apalagi besok juga kerja"
"Iya Kak, iya"
Perhatian yang diberikan Aldo selalu membuat Genara bahagia sekali dengan hubungan ini.
########
Zaina dan Gevin masih belum tidur, keduanya sedang berpelukan di atas tempat tidur dengan selimut tebal menyelimuti tubuh mereka.
__ADS_1
"Padahal mereka bisa langsung menikah ya"
Zaina masih saja menyayangkan keputusan adik iparnya dan temannya itu yang tidak langsung memutuskan untuk menikah. Karena usia keduanya sudah memadai untuk menikah.
"Mungkin mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan berpacaran dulu. Sayang, tidak semuanya seperti kamu yang bisa langsung mau saat di ajak menikah" ucap Gevin sambil mengelus punggung istrinya.
Zaina mendongak dan tersenyum pada suaminya. Memang dia yang langsung mau saat orang tua Gevin melamarnya untuk segera menikah dengan anak mereka ini. Ya bagaimana lagi, kan Zaina memang sudah mencintai Gevin sejak dulu.
"Karena aku sudah mencintai kamu. Jadi aku tidak bisa kalau menunggu lagi. Sudah ada kesempatan bisa menikah dengan pria yang aku cintai selama ini. Kenapa juga aku harus menolaknya coba"
Gevin hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya yang memang kenyataan. Gevin memberikan kecupan di kening istrinya dengan lembut. "Bersyukur sekali karena aku bisa dicintai oleh wanita sepertimu. Aku bahagia sekali bisa bersamamu sekarang"
Zaina tersenyum mendengar itu, dia semakin mengeratkan pelukannya. Dia juga bahagia bisa bersama kembali dengan suaminya ini. Semua hal yang pernah terjadi di masa lalu, biarkan saja berlalu begitu saja.
Pagi ini Zaina terbangun lebih awal, tidur dalam pelukan suaminya memang selalu membuatnya nyaman hingga benar-benar tidur sangat lelap. Zaina mengelus kepala suaminya, memberikan kecupan di kening suaminya dengan begitu lembut. Lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Gevin sebelum dia turun dari atas tempat tidur.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Zaina langsung keluar kamar untuk membantu Ibu mertuanya menyiapkan sarapan pagi ini. Zaina selalu seperti ini jika berada di rumah mertuanya ini. Makanya dia selalu dekat dengan Vania, terlebih memang sejak kecil dia memang cukup dekat dengan sahabat Bundanya ini hingga sekarang menjadi Ibu mertuanya.
"Kamu bangun pagi banget Za, suami kamu mana?" ucap Vania.
"Masih tidur Bu, sengaja bangun pagi agar bisa menemani Ibu membuat sarapan" ucap Zaina sambil tersenyum.
Vania ikut tersenyum, merasa senang sekali bisa mempunyai menantu perempuan yang begitu dekat dengannya. Jadi tidak ada kecanggungan diantara menantu dan mertua. Senang sekali memang jika hubungan menantu dan mertua bisa seakrab ini.
"Bu, ajari aku buat kue dong. Aku penasaran banget sama resep kue yang Ibu buat. Tapi aku tidak bisa membuatnya, makanya ajari aku ya" ucap Zaina sambil bergelayut manja di tangan Vania.
"Ya ampun, anakku ini memang manja sekali kalau ada maunya. Yaudah nanti Ibu ajari kamu kapan-kapan"
__ADS_1
Zaina langsung tersenyum dengan senang mendengar itu.
Bersambung