
"Maaf Mas, kalau memang kamu ingin tinggal disini. Maka aku akan segera pergi saja dari sini. Aku masih belum bisa untuk tinggal disini bersama denganmu"lirih Zaina
Mendengar itu benar-benar bagaikan sebuah sambaran petir untuk Gevin. Bagaimana dia yang bersusah payah untuk menemukan istrinya dan sekarang haus membiarkan istrinya pergi lagi? Tentu saja Gevin tidak akan melakukan itu.
"Yasudah, kalau memang kamu tidak mau aku tinggal disini. Maka biarkan aku pulang sekarang, kamu hati-hati ya di rumah"
Gevin berdiri dan langsung mengelus kepala Zaina dan memberi kecupan di keningnya. Zaina hanya mengangguk saja, dia juga tidak akan kenapa-napa jika tinggal sendiri. Selama ini sudah biasa sendiri dan dia baik-baik saja. Jadi untuk saat ini Zaina benar-benar belum mau untuk bersama lagi dengan Gevin.
Akhirnya malam ini Gevin benar-benar pergi dari rumah yang di tempati oleh Zaina. Karena dia tidak mau sampai membuat istrinya tidak nyaman sampai harus pergi meninggalkan rumah ini. Gevin tentu tidak mau hal itu terjadi.
Setelah kepergian Gevin, Zaina langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia tiduran, namun tetap tidak bisa memejamkan matanya Pikirannya masih melayang memikirkan tentang bagaimana hidupnya setelah ini.
Aku hanya takut kecewa lagi, dan aku juga takut jika aku akan membuat anakku terluka nantinya. Entah keputusan apa yang harus aku ambil selanjutnya?
########
Vania masuk ke dalam kamar anaknya, namun tidak melihat keberadaan Gevin disana. Sampai dia melihat pintu ke arah balkon kamar yang trbuka, membuat Vania langsung berjalan ke arah balkon dan menemui anaknya yang sedang duduk di kursi yang ada di balkon itu.
"Vin, bagaimana dengan Zaina?" tanya Vania, dia berdiri menyandar di pembatas pagar dengan menghadap pada Gevin.
Gevin menghela nafas pelan, dia menatap Ibunya dengan tersenyum. "Dia masih mencoba untuk menjaga jarak dariku, Bu. Bahkan dia tidak banyak bicara denganku, jika tidak aku yang memulai, maka dia tidak akan bicara.Itupun hanya menjawab semestinya saja. Mungkin Zaina masih sangat kecewa denganku"
Vania mengangguk mengerti, dia pun sebagai seorang wanita tentu saja tidak akan semudah itu untuk melupakan semua yang pernah terjadi. Mungkin saja melupakan bisa, tapi untuk sebuah traumanya belum tentu bisa cepat di hilangkan dalam waktu dekat ini.
"Ibu bisa mengerti perasaan kamu yang ingin segera memperbaiki semuanya dan memulainya dari awal lagi. Tapi, kamu juga harus memikirkan tentang Zaina, istrimu pasti sangat sulit untuk tetap terlihat biasa saja di saat dia bertemu denganmu. Dia sudah begitu apik, menjaga emosinya agar tidak meluap-luap saat bertemu denganmu"
__ADS_1
Gevin terdiam, dia mengangguk saja. Cukup faham dengan apa yang diucapkan oleh Ibunya. Mungkin memang Gevinnya saja yang tidak tahu diri sampai langsung mendekati Zaina begitu saja, di saat istrinya itu sedang menahan diri agar tidak marah padanya atas semuanya yang pernah dia lakukan.
"Bu, apa Zaina akan memaafkanku dan menerima aku lagi sebagai suaminya?" tanya Gevin dengan segala kebingungan dan keputus asaan yang terlihat dari sorot matanya. Gevin benar-benar tidak tahu harus bagaimana menyikapi semua ini.
"Percayalah jika masih ada sosok perempuan yang masih mempunyai maaf seluas samudera. Jika memang kamu bersungguh-sungguh, maka Zaina juga akan memaafkanmu"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia tahu siapa yang mempunyai maaf dan sabar seluas samudera itu adalah seperti Ibunya. Bagaimana dia yang bisa memaafkan Ayahnya dan Kakeknya yang pernah menghancurkan kehidupannya di masa lalu.
Namun Vania masih saja bisa memaafkan dan menerima kembali Gara. Semuanya hanya ada pada satu alasan, jika Vania hanya mempunyai cinta yang tulus untuk Gara. Hingga dia bisa menerima kembali suaminya dengan segala masa lalunya dan latar keluarganya.
"Papa memang jadi laki-laki yang beruntung ya Bu, bisa mendapatkan wanita seperti Ibu yang bisa menerima dia dengan segala masa lalunya dan latar belakang keluarganya" ucap Gevin
Vania hanya tersenyum, kisah hidupnya bahkan lebih sulit dari yang anaknya rasakan saat ini. Namun bersyukur karena dia masih bisa melewati semuanya.
"Istirahatlah, kamu harus banyak energi untuk mendapatkan maaf dari istrimu itu" ucap Vania sambil menepuk bahu anaknya sebelumberlalu pergi dari sana.
Semoga saja Zaina memang masih mencintaiku.
########
"Loh Mbak siapa ya?" tanya Zaina bingung, ketika dia melihat seorang perempuan yang berada di dapur rumah ini
"Saya pelayan yang di suruh oleh Tuan Gevin untuk menemani Nona disini"
Zaina terdiam mendengar itu, tidak menyangka juga Gevin akan melakukan ini hanya karena semalam dia tidak mau tinggal bersama dengannya. Dan sekarang Gevin malah menugaskan seorang pelayan untuk menemaninya di rumah ini.
__ADS_1
"Emm. Kalau begitu saya akan siapkan sarapan dulu untuk Nona ya, pagi ini Nona mau sarapan apa?" tanyanya sopan
"Apa saja Mbak, asal jangan yang ada kacangnya. Saya alergi kacang"
"Baik Nona"
Zaina kembali ke kamarnya, dia pintu kaca menuju ke balkon untuk membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamarnya. Zaina diam di balkon kamar sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Berharap pagi ini akan membuat dirinya semakin bahagia.
Tangannya mengelus perutnya, hanya begini rutinitas yang di lakukan Zaina setiap harinya. Selalu ada kiriman uang dai orang tuanya dan mertuanya yang sering memberi paling besar, membuat Zaina tidak perlu bekerja.
"Bersyukur karena Mama masih di kelilingi banyak orang yang baik"
Masih dengan perasaan yang sebenarnya belum terlalu yakin untuk kembali dengan suaminya. Hatinya yang benar-benar terluka, ketika ucapan terakhirnya sebelum dia pergi. Bagaimana Gevin yang begitu marah dan sampai menyebutnya sebagai wanita munafik.
"Semuanya masih terngiang, jadi untuk aku melupakannya benar-benar tidak akan bisa untuk saat ini. Semuanya masih teringat dan benar-benar melukai hatiku"
Gevin terdiam mendengarnya, dia berdiri di ambang pintu kamar dan jelas mendengar ucapan Zaina barusan. Dia sedang melihat bagaimana istrinya yang benar-benar terluka dengan semua perkataannya waktu itu.
"Sayang.."
Zaina langsung menoleh dan menatap Gevin yang berdiri di ambang pintu. Dia langsung menghampirinya, dia tidak mengerti kenapa sampai ada Gevin disana. Lupa jika memang dirinya yang waktu tadi masuk tidak membuka pintu. Tidak sadar sepertinya jika dia memang lupa menutup pintu tadi.
"Mas, kapan kamu datang?" tanya Zaina
"Baru saja, Za ada yang harus aku bicarakan dengan kamu. Boleh kita berbicara di kamar saja?"
__ADS_1
Bersambung