
Zaina langsung menoleh pada suaminya dengan wajah yang begitu antusias. Senang sekali jika benar Gevin akan melakukan hal itu. Dia juga rindu dengan kota kelahirannya itu.
"Beneran ya Mas, awas kamu bohong"
Gevin tersenyum gemas dengan wajah istrinya itu. "Iya Sayang, asal kamu harus cepat pulih"
Zaina mengangguk dengan antusias, tentu saja dirinya sangat senang jika dia bisa ke kota kelahirannya. "Iya Mas, aku akan segera pulih"
"Tuh, sekarang lepasin Budanya Daddy jangan kamu tahan terus. Hari semakin siang nih, perjalanan masih jauh" ucap Hildan.
Zaina mendengus kesal, Ayahnya ini memang tidak pernah mau mengalah meski hanya dengan dirinya sebagai putrinya.
"Sudah biasa Kak, pasangan tua yang bucin ini, memang tidak pernah ingat umur" ucap Haiden dengan santainya.
Zaina hanya tertawa pelan mendengar ucapan adiknya itu. Senang juga dengan keharmonisan keluarganya ini, meski dulu pernah hampir hancur karena kelakuan Ayahnya. Namun sekarang, Zaina bersyukur karena Bundanya yang tidak pernah berhenti untuk tetap memaafkan suaminya.
Akhirnya setelah perpisahan penuh dramatis itu, kini Zaina dan Gevin baru saja sampai di rumah mereka. Gevin langsung membawa istrinya untuk ke kamar dan beristirahat.
"Sayang, kapan kamu periksa lagi?" Tanya Gevin.
Zaina sedikit berpikir sejenak, mengingat-ngingat kapan tanggal yang ditentukan oleh Dokter untuk dirinya periksa rutin setelah melahirkan. "Mungkin masih minggu depan Mas, soalnya kemarin sudah baik kata Dokter. Tinggal cek bekas luka yang ajak lagi nanti"
Gevin mengangguk mengerti, dia ingin istrinya segera sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti biasanya. Agar dia tidak terus kepikiran tentang anak mereka yang sudah tiada.
"Yaudah, nanti kasih tahu aku lagi aja kalau memang sudah waktunya untuk kontrol" ucap Gevin.
"Iya Mas"
__ADS_1
Gevin berlalu ke ruang ganti untuk mandi dan bersih-bersih. Sementara Zaina hanya diam di tempat tidur dengan pemikirannya sendiri.
#######
Genara keluar dari kampusnya setelah kuliahnya hari ini selesai. Dia masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya meninggalkan kwasan universitas. Genara jadi bingung mau kemana, pulang ke rumah malas. Dia ingin pergi dulu untuk sekedar senang-senang saja. Tapi pergi sendirian juga tidak seru.
Genara melajukan mobilnya masih belum ada tujuan yang pasti. Hingga tidak sengaja dia melihat Aldo yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan motornya yang juga berada disana. Sepertinya motornya memang sedang bermasalah, makanya Aldo terlihat sedang membungkukan tubuhnya dan menatap ke bawah motor seolah memang sedang mencari masalah dari motornya itu.
Genara menghentikan mobilnya di dekat Aldo, lalu dia segera keluar dari dalam mobil. "Kak, kenapa motornya?"
Aldo cukup terkejut dengan kehadiran Genara disana. Dia langsung menongak dan menatap Genara. "Tidak tahu Gen, tiba-tiba saja mati"
"Em, mau aku bantu teleponkan montir di bengkel langganan aku?" tanya Genara.
Aldo sedikit berpikir sebentar, dia memang harus segera kembali ke sekolah siang ini. Masih ada anak-anak kelas siang yang harus dia ajar. "Boleh deh, maaf ya ngerepotin"
Genara tersenyum, dia selalu saja merasa senang ketika melihat Aldo. Hatinya berdebar senang. "Tenang saja Kak, aku lagi free kok"
"Sudah Kak, kalau kita memang tidak tahu tentang motor, pasti juga tidak akan ketemu apa masalahnya. Sekarang tunggu saja montirnya datang kesini" ucap Genara.
Aldo mengangguk, memang percuma saja karena memang dirinya tidak tahu apapun tentang mesin motor. "Terima kasih ya Gen, sudah membantu aku menghubungi montir"
"Iya Kak, sama-sama. Sekarang kita tunggu saja di mobil yuk, panas disini" ucap Genara sambil mengangkat satu tangannya untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari yang cukup terik siang siang ini.
Aldo mengangguk, dia juga tidak mungkin membiarkan Genara yang sudah membantunya itu harus kepanasan. Aldo ikut masuk ke dalam mobil Genara, meski sebenarnya dia merasa sangat canggung untuk masuk ke dalam mobil mewah ini.
"Minum Kak" Genara menyodorkan satu botol air minum pada Aldo, di dalam mobilnya memang dia selalu menyiapkan air minum untuk dirinya sendiri. Jadi sangat kebetulan sekali.
__ADS_1
"Terima kasih"
Aldo mengambil botol air mineral itu dan segera meminumnya. Dia memang cukup haus karena cukup lama juga berdiam di jalan untuk melihat keadaan motornya yang tiba-tiba saja mati.
"Kakak, mau kemana memangnya?" tanya Genara, mencoba untuk membuka sebuah pembicaraan dengan Aldo.
"Aku harus kembali ke sekolah lagi, tadi baru saja antar Ibu guru lain yang mau rapat dan dia tidak membawa kendaraan. Eh, pas pulangnya malah mogok" jelas Aldo.
"Em, kalau gitu gimana kalau aku antar saja Kakak ke sekolah. Nanti motornya biar di suruh bawa ke bengkel saja. Kalau Kakak tidak percaya, aku kasih nomor montir itu dan nomor aku juga biar Kakak bisa tanya kalau misalkan ada hal yang terjadi dan tidak bisa di pertanggung jawabkan" ucap Genara, sengaja saja agar dia bisa mendapatkan nomor ponsel Aldo dengan alami.
Meski sebenarnya dia bisa saja langsung meminta pada Zaina. Tapi Genara ingin mendapatkannya dengan cara yang murni.
"Ah, tidak usah. Nanti malah merepotkan. Kalau memang motornya tidak bisa nyala sekarang, aku bisa naik ojek saja" ucap Aldo, tentu dia merasa canggung dan tidak enak pada Genara yang sudah membantunya ini.
Genara diam, dia tahu jika Aldo memang sedang mencoba menjaga jarak dengan dirinya. Jadi Aldo tidak mau jika Genara membantunya. Yah, gagal deh dapat nomor ponselnya. Sepertinya memang aku harus minta langsung saja pada Kak Zaina.
Sampai montir bengkel itu datang dan memeriksa motor Aldo. Benar saja jika kerusakan pada motor Aldo ini tidak bisa di bereskan dengan cepat. Jadi tetap harus di bawa ke bengkel terlebih dahulu. Membuat Genara sedikit bersorak senang dalam hatinya.
"Udah Kak, biar aku antar saja daripada semakin lama menunggu dan malah tidak jadi berangkat ke sekolah" ucap Genara.
Aldo menghela nafas pelan, dia juga bingung harus bagaimana. Mau menolak ajakan Genara juga tidak enak, tapi dia juga merasa canggung jika terus merepotkan Genara.
"Sudah ayo"
Melihat Aldo yang banyak berpikir, membuat Genara langsung menarik tangan Aldo untuk kembali ke mobilnya. Memang sedikit memaksa si, tapi tidak papa karena cinta memang butuh perjuangan dan sedikit paksaan.
Akhirnya Aldo juga tidak bisa menolak lagi, dia memilih untuk menuruti saja ucapan Genara yang ingin mengantarnya sampai ke sekolah. "Terima kasih ya Gen, maaf sudah merepotkan"
__ADS_1
"Santai saja Kak, gak repot sama sekali kok"
Bersambung