
Gevin baru saja sampai di rumahnya. Dia masuk ke dalam rumah dan langsung menyerbu Ibunya dengan segala pertanyaan.
"Ibu, kenapa Ibu menyembunyikan Zaina di rumahku di komplek sebelah? Ya ampun Bu, kenapa Ibu malah melakukan ini"
Vania malah tersenyum melihat kekesalan anaknya itu. Bahkan Genara sudah tertawa lebih dulu melihat kelakuan Kakaknya itu.
"Karena memang Kakak yang bodoh! Istri seperti Kak Zaina kok malah di sia-siain. Pake di ajak sandiwara pernikahan segala lagi. Kalau begitu lebih baik kita sembunyikan saja Kak Zaina dari Kakak, biar Kakak tahu rasa menyesal" ucap Genara dengan tawa puasnya
Gevin menatap adiknya dengan kesal, benar-benar kesal sampai dia hanya bisa diam dan langsung pergi begitu saja darisana.
"Jangan sia-siakan Zaina lagi, Vin. Kamu sudah merasakan sekarang bagaimana hidup kamu tanpa dia, jadi jangan pernah menyia-nyiakan istrimu lagi" ucap Vania
Gevin hanya terus melangkah menaiki anak tangga. Tapi jelas dia mendengar ucapan Ibunya dan memang dia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama.
Pagi ini Zaina sudah mendapatkan tamu, siapa lagi jika bukan suaminya yang sudah mengetahui tentang keberadaan dirinya. Tidak mungkin Gevin hanya akan diam saja ketika dia sudah bertemu dengan istrinya dan sudah mengetahui dimana istrinya tinggal dimana.
"Apa kamu tidak mau mengizinkan suami kamu ini masuk?" tanya Gevin
Zaina menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana tengilnya suaminya ini yang selalu memanfaatkan apa yang bisa dia manfaatkan. "Mau apa datang kesini pagi-pagi begini, Mas? Bukannya kamu harusnya bekerja ya sekarang"
"Aku libur hari ini, karena aku ingin menghabiskan waktu bersama denganmu"
Sebenarnya dia tidak benar-benar libur bekerja hari ini. Namun memang dirinya yang sengaja tidak berangkat bekerja dan meminta sekretarisnya saja untuk mengurus semuanya dan pastinya Papanya yang akan menghandel semuanya.
Zaina menghela nafas pelan, sudah pasti suaminya itu tidak akan menyerah begitu saja. "Yaudah masuk, Mas. Aku sedang membuat sarapan, apa kamu sudah sarapan?"
__ADS_1
Gevin masuk mengikuti Zaina, dia tersenyum mendengar ucapan Zaina barusan. Tentu saja kesempatan ini tidak akan lagi dia sia-siakan.
"Aku tidak sempat sarapan tadi, karena memang aku sedang sangat ingin menikmati masakanmu itu. Sudah lama sekali aku tidak mencoba masakanmu" ucap Gevin
Zaina hanya mengangguk dan langsung berlalu ke dapur hanya untuk menyelasaikan masakannya. Membiarkan Gevin yang sedang duduk di sofa ruang tengah rumah ini. Gevin menatap sekelilingnya, rumah minnimalis yang memang sudah di desain seusai dengan keinginannya. Rumah ini memang sudah di renovasi besar-besaran sebelumnya.
"Apa aku tinggal disini saja ya, lagian ini juga rumahku dan sekarang istriku juga ada disini. Tidak mungkin juga Zaina akan menolaknya"
Gevin sedang merencanakan sesuatu untuk bisa cepat mendapatkan kembali hati istrinya. Jujur Gevin tidak bisa menunggu terlalu lama untuk bisa mendapatkan kembali hati istrinya. Dia sudah sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini. Istrinya yang sangat dia cintai tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja.
Bodohnya hanya karena dia telah melukai hati wanitanya dan yang tidak pernah dia menyatakan cinta padanya. Membuat Zaina menyangka jika dirinya memang tidak pernah mempunyai perasaan apapun.
"Mas, sarapannya sudah siap. Kalau kamu sudah siap untuk makan, makanlah" ucap Zaina yang sudah berdiri di depan suaminya.
Gevin mendongak dan tersenyum pada Zaina, dia ingin meraih tangan istrinya namun Zaina langsung menghindar. Tentu saja Zaina masih menjaga jarak diantara mereka. Semuanya masih terlalu membingungkan bagi Zaina. Entah dia harus melakukan apa sekarang.
"Aku mau ke kamar, aku belum mau makan"
Gevin langsung meraih tangan Zaina, kali ini berhasil. Zaina tidak sempat menghindar, dan pasrah saja tangannya di pegang oleh suaminya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku belikan ya, masa kamu tidak mau sarapan" ucap Gevin lembut
Zaina menatap suaminya, dia ikut duduk di samping Gevin. Dia mengelus perutnya yang membuncit itu. "Sebenarnya aku ingin memakan bubur ayam yang berada di ujung jalan sana. Tapi malas kesananya"
Gevin mengangkat tangannya perlahan, mencoba untuk mengelus kepala istrinya itu. Tangan Gevin sedikit bergetar, dia masih merasa tidak percaya jika saat ini dia bisa kembali bersama dengan istrinya ini.
__ADS_1
"Sayang, aku belikan buburnya ya. Kamu tunggu saja disini"
Zaina menatap Gevin dengan lekat, dia tahu bagaimana Gevin yang saat ini sedang mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun Zaina malah merasa canggung begini padanya. Padahal hanya baru beberapa bulan saja mereka berpisah. Namun kecanggungan itu tetap begitu terasa sekarang.
"Tidak usah Mas, aku tidak mau merepotkan kamu" lirih Zaina
Gevin mengelus kepala istrinya dengan lembut. Dia tahu kenapa Zaina bisa menjadi canggung begini. Perpisahan mereka selama beberapa bulan ini pasti akan membuat kecanggungan yang ada disana.
"Yaudah Sayang, aku belikan dulu ya buburnya" ucap Gevin yang langsung berdiri dari duduknya.
Zaina tidak bisa lagi melarangnya, dia tahu jika Gevin sudah mempunyai keputusan maka akan sangat sulit untuk di bantah.
"Sebenarnya Mama masih belum bisa benar-benar menerima Papa kamu itu, Nak. Namun saat ini Mama juga tidak bisa melarang dia datang kesini, karena ini juga rumahnya"
Zaina mengelus perutnya, dia juga sedang bingung harus melakukan apa. Dia belum bisa menerima suaminya, namun hatinya masih merasa ragu. Zaina hanya mencoba untuk bersikap biasa saja. Zaina yang masih belum bisa meyakinkan hatinya untuk bisa kembali menerima dirinya.
########
Malam ini Zaina malah semakin bingung melihat Gevin yang masih berada di rumah sampai malam hari. "Mas, kenapa masih berada disini? Apa kamu tidak akan pulang"
Gevin yan sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Dia langsung menoleh pada Zaina yang baru datang. "Aku mau menginap disini. Kan memang ini rumah aku, jadi aku ingin mencoba untuk tinggal disini"
Zaina langsung saja terdiam ketika dia mendengar hal itu. Jika Gevin tinggal disini, lalu bagaimana dengan dirinya. Zaina masih terlalu ragu untuk berdekatan dengan Gevin dengan keadaan yang seperti ini. Meskipun Gevin masih suaminya, tapi Zaina masih merasa bingung dengan keadaan yang sebenarnya saat ini.
"Kalau memang kamu merasa takut karena aku tinggal di rumah ini bersama denganmu. Aku juga tidak akan tidur di kamar yang sama denganmu. Aku akan tidur di kamar lainnya" ucap Gevin yang melihat jelas pancaran ketakutan yang dirasakan oleh istrinya itu.
__ADS_1
Sepertinya istrinya itu memang masih belum bisa menerima keberadaannya saat ini. Gevin tahu bagaimana Zaina yang masih menjaga jarak yang terlalu jauh darinya. Semuanya akan butuh proses.
Bersambung