Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Belum Punya Anak!


__ADS_3

"Jadi beneran kalau kamu nolak Genara, Al"


Zaina yang langsung menghubungi Aldo pagi ini. Dia tetap penasaran dengan kejadian kemarin saat Genara berada di rumahnya. Zaina benar-benar ingin tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Iya, aku tidak bisa menerima dia Za. Dia terlalu sempurna untuk aku. Lagian dia juga bis mencari yang lebih baik daripada aku. Semoga saja dia bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada aku" jelas Aldo.


Zaina menghela nafas pelan, masih tidak menyangka dengan apa yang dia dengar barusan. "Jadi, maksudnya kamu melakukan semua ini karena kamu yang merasa tidak pantas dengan Genara? Kenapa Aldo? Kamu baik dan bisa memikat Genara begitu saja.Kenapa kamu malah berpikir seperti itu?"


"Za, aku ini hanya orang biasa dan sederhana. Genara bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku. Jadi lebih baik dia mencari lagi seseorang untuk tambatan hatinya"


Mendengar penjelasan Aldo itu, malah membuat Zaina semakin yakin jika sebenarnya Aldo juga mempunyai perasaan yang sama pada Genara, hanya saja dia yang merasa tidak setara membuat dia harus membohongi perasaannya sendiri.


"Begini saja, kamu tenangkan dulu diri kamu dan hati kamu. Coba untuk meyakinkan perasaan kamu itu, apa memang benar kamu tidak pernah sedikit pun mempunyai perasaan pada Genara. Kalau memang kamu tidak mempunyai perasaan itu, maka aku juga akan mendukung kalau memang kamu mau menolak Genara. Tapi, kalau misalkan kamu mempunyai sedikit saja perasaan yang sama pada Genara. Aku akan membantu kamu untuk kembali padanya"


Zaina memutuskan sambungan teleponnya setelah dia mengatakan hal itu. Berharap jika Aldo akan memikirkan dengan jelas bagaimana perasaannya saat ini. Zaina hanya ingin jika Aldo harus yakin dengan apa yang dia rasakan pada Genara.


"Sayang, kamu sedang berbicara dengan siapa?"


Zaina terlonjak kaget mendengar suara serak suaminya. Dia menoleh ke arah tempat tidur dan melihat Gevin yang masih bergelung di bawah selimut pagi ini, meski kedua matanya sudah terbuka. Zaina segera menghampiri suaminya itu.


"Hanya menghubungi teman saja" jawab Zaina, tidak mungkin dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karena pastinya Gevin akan marah dan cemburu tidak jelas seperti sebelumnya.


Gevin beringsut mendekati istirnya yang duduk di pinggir tempat tidur. Dia memeluk perut istrinya itu dengan menyandarkan kepalanya di paha istrnya itu. Masih ingin bermalasa-malasan di akhir pekan kali ini.


"Mas, bukannya hari ini ada undangan ke acara pernikahan teman kamu itu ya?" tanya Zaina sambil mengelus kepala suaminya ini.

__ADS_1


Gevin mengangguk, tapi tidak berkata apapun. Karena memang dirinya yang masih sangat ingin bermalas-malasan bersama istrinya pagi ini. Zaina hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Dia biarkan saja Gevin memeluknya seperti ini dan dirinya yang memainkan ponsel. Hanya sekedar men-scrol sosial media saja, meski tidak ada yang menarik.


"Sayang, kamu siap-siap ya. Nanti kita pergi ke acara pernikahan teman kuliah aku itu. Ah, sebenarnya aku sangat malas, ingin menghabiskan waktu saja di rumah bersamamu" ucap Gevin yang baru bisa lepas dari istrinya dan terbangun.


Zaina hanya tersenyum, dia mengerti menghabiskan waktu yang dimaksud oleh Gevin seperti apa. Jadi dirinya tidak akan pernah mau tertipu, lebih baik pergi ke acara pernikahan saja daripada harus menghabiskan waktu bersama dengan suaminya itu.


"Yaudah, kamu mandi dulu sana. Aku sudah selesai mandi tadi, jadi tinggal ganti baju dan siap-siap saja" ucap Zaina.


Gevin mengangguk, meski dirinya benar-benar merasa sangat malas sekarang.Tapi tetap saja dia harus melakukannya. Turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke aah ruang ganti dengan langkah gontai. Zaina hanya menggelengkan kepala heran melihat kelakuan suaminya itu.


Akhirnya siang ini keduanya pergi ke acara pernikahan dari teman kuliah Gevin itu. Zaina yang sudah terlihat berbeda dengan dress dan riasan di wajahnya. Meski riasannya juga tidak terlalu mencolok, tapi justru itu yang membuat Zaina terlihat lebih menarik.


Masuk ke dalam gedung dengan saling bergandengan. Gevin yang seolah tidak mau sampai istrinya akan diambil orang, sampai akhirnya dia selalu memegangi tangan Zaina dan terkadang merangkul pinggangnya dan bahunya juga.


Ya ampun, aku malah ingin tertawa sekarang. Harusnya aku yang bilang seperti itu padanya. Zaina hanya menggeleng pelan dengan tingkah suaminya ini yang selalu saja takut jika Zaina akan di goda oleh pria lain.


"Harusnya aku yang bilang seperti itu padamu, Mas. Kan disini tentu saja banyak sekali wanta-wanita cantik dan menarik" ucap Zaina sambil tersenyum menggoda pada suaminya.


Gevin mencubit gemas pipi istrinya itu, benar-benar tidak bisa menyembunyikan tentang perasaan cintanya yang semakin besar pada istrinya ini. "Aku jadi ingin menciummu sekarang"


"Apaan si kamu ini, Mas. Jangan aneh-aneh deh" Zaina langsung melengos kesal dengan ucapan suaminya itu. Tentu saja wajahnya sudah memerah sejak tadi.


Gevin hanya terkekeh pelan melihat ekspresi istrinya itu yang selalu menggemaskan. Gevin mengelus kepala istrinya dengan lembut sekali. Dia tentu saja tahu bagaimana dirinya yang tidak pernah bisa berpaling dari Zaina, setelah dulu dia melakukan kesalahan yang besar terhadap istrinya ini. Sekarang Gevin sedang mencoba menebusnya.


Mereka mengucapkan selamat pada pengantin baru hari ini. Setelah itu Gevin membawa istrinya untuk bertemu dengan beberapa teman sekolahnya dulu, bahkan ada yang menjadi rekan bisnisnya juga sekarang. Kebanyakan dari mereka memang sudah menikah, bahkan ada juga yang sudah mempunyai dua anak dengan usia berdekatan.

__ADS_1


"Hai Vin, ini istrimu?"


Gevin mengangguk dan dengan bangga memperkenalkan istrinya pada teman kuliahnya itu. "Iya, ini istriku, Zaina"


Zaina mengangguk sambil tersenyum ramah, lalu dia menyalami istri dari teman suaminya itu yang terlihat kerepotan dengan dua anaknya yang usianya berdekatan.


"Anaknya berapa tahun Kak?" tanya Zaina sopan, melihat anak kecil selalu membuatnya antusias.


"Yang besar 3 tahun dan yang kecil baru 1 tahun lebih"


Zaina mengangguk mengerti, dia mengajak mengobrol anak yang menjadi Kakak disana. Anak berusia 3 tahun yang begitu menggemaskan dengan cara bicaranya yang masih terdengar cedel.


"Anaknya tidak di bawa Mbak?"


Zaina terdiam mendengar itu, dia mencoba untuk tersenyum meski hatinya merasa cukup tidak nyaman dengan apa yang dipertanyakan oleh istri dari teman suaminya itu.


"Belum Kak, saya belum punya anak" jawab Zaina dengan tersenyum simpul.


"Ah belum ya, masih pengantin baru kayaknya. Gak papa, habiskan saja dulu waktu berdua"


Zaina hanya tersenyum, meski sebenarnya dia ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun dirinya sadar jika tidak ada gunanya juga bercerita pada orang lain yang tidak akan pernah mengerti posisi kita bagaimana saat ini.


"Iya Kak" jawab Zaina sambil tersenyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2