
Kedua adiknya menghampiri Zaina dan Gevin yang masih duduk di sofa ruang tamu itu. Haiden langsung bergelayut manja di lengan Kakaknya.
"Akhirnya Kakak kembali lagi kesini, gak nyangka banget kalau Kakak bakal datang lagi kesini setelah sekian lama" ucap Haiden yang selalu saja bersikap manja pada Zaina ketika bertemu.
Hilmi yang duduk di hadapan mereka hanya memutar bola mata malas melihat adiknya yang masih saja kekanak-kanakan itu.
"Kamu ini Den, sudah besar masih saja manja seperti ini pada Kakak. Oh ya, bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Zaina, pada Hilmi juga
"Baik Kak, tapi Haiden selalu saja membuat keonaran di sekolah" jawab Himi datar
Zaina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran. Kedua adiknya ini sudah abg tapi masih saja belum bisa dewasa. Masih sering berantem hanya karena masalah spele. Sebenarnya karena memang Haiden yang selalu membuat masalah. Dia yang selalu memancing kemarahan Kakaknya yang arogan.
"Den, jangan terus membuat keonaran. Kakak kamu yang pusing nanti"
Hilmi memutar bola mata malas, melihat adiknya yang selalu saja melibatkan dirinya dengan gadis-gadis yang mengejarnya dan seringkali mengirimkan surat padanya. Dan Haiden yang selalu membalas surat itu karena dirinya yang malas, bahkan hanya untuk membaca surat cinta yang diberikan para gadis.
"Dia memang pembuat masalah, Kak. Kasih nasihat saja, aku saja sudah kesal banget sama tuh anak"
Zaina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala kesal melihat tingkah kedua adiknya itu. "Sudah ah, kalian ini selalu saja rame. Kakak pusing lihatnya, Mas ayo kita ke kamar saja"
Gevin hanya tersenyum melihat istrinya yang kesal pada kedua adiknya yang selalu berdebat. Gevin meraih tangan istrinya yang sudah berdiri dan mengulurkan tangan padanya.
Zaina membawa Gevin ke kamarnya, ketika Gevin masuk ke dalam kamar dia langsung menatap sekelilingnya. Bahkan dia melihat foto istrinya saat masih gadis dan remaja terpajang disana.
"Sayang, kamu cantik sekali ya dari dulu" ucap Gevin sambil meraih salah satu figua foto disana.
Zaina duduk di pinggir tempat tidur, dia tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. "Memang aku cantik sejak dulu, kamu aja yang gak pernah sadar, Mas"
__ADS_1
Gevin menoleh, dia terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Berjalan mendekat pada istrinya itu, duduk di samping Zaina dengan merangkul bahu istrinya. Mengecup pipinya dengan lembut.
"Aku memang tidak sadar karena dulu mataku sedang tidak normal"
Zaina hanya tertawa mendengar ucapan suaminya itu. "Bukan mata kamu yang tidak normal, tapi memang dulu kamu tidak memberikan kesempatan padaku untuk masuk ke dalam hatiku dan mencintaimu"
Gevin menyandarkan kepala Zaina di bahunya, dia mengecup puncak kepala Zaina. "Karena dulu aku selalu mikir kalau kamu itu sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi aku tidak tahu kalau ternyata kamu mencintaiku. Maaf ya"
Zaina tersenyum, dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa ucapan suaminya ini. Karena memang dirinya juga tidak bisa memaksakan diri untuk membuat Gevin juga mencintainya, disaat dia tidak memberikan celah untuk Zaina masuk ke dalam hatinya pada saat itu.
"Mas, kamu mau mandi dulu? Biar aku siapkan airnya" ucap Zaina
Gevin menggeleng pelan, sampai saat ini dia tidak mau sampai membuat istrinya kelelahan lagi karena dirinya yang mencoba untuk melayani Gevin.
"Tidak usah, aku bisa siapin semuanya sendiri"
Gevin mengelus kepala istrinya, lalu dia mengecup keningnya dengan lembut. "Kamu harus banyak istirahat dan harus menjaga kandungan kamu itu baik-baik saja"
Zaina tersenyum mendengar itu, dia tidak pernah menyangka akan di perlakukan seperti ini oleh suaminya. Padahal dia tahu kalau suaminya itu pernah tidak mencintainya dan pernah sangat terpaksa dengan pernikahan yang terjadi.
"Yaudah, kalau begitu aku langsung mandi dulu ya. Gerah banget ini"
Zaina mengangguk, dia hanya diam saja dan tidak membantu Gevin untuk menyiapkan semua perlengkapan mandinya. Gevin bahkan mengeluarkan sendiri baju gantinya dari dalam tas. Sementara Zaina hanya terdiam di tempat duduknya sambil mengelus perutnya.
"Mas, padahal aku bisa bantu kamu siapkan loh"
"Sudah kamu diam saja disana"
__ADS_1
Zaina hanya menghela nafas pelan mendengar ucapan suaminya itu. Akhirnya dia biarkan saja suaminya melakukan semuanya seorang diri. Setelah suaminya masuk ke dalam ruang ganti, Zaina malah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia sudah sangat lelah setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Dan tanpa sadar dia terlelap begitu saja.
########
Gevin keluar dari kamar setelah dia selesai mandi dan berganti pakaian. Membiarkan istrinya yang sedang terlelap dikamarnya itu. Menghampiri Hilmi yang sedang duduk di teras belakang rumah ini. Langsung menghadap ke taman belakang di rumah ini.
"Hai Mi, lagi apa?" tanya Gevin berbasa-basi
Hilmi sama sekali tidak bergeming, dia hanya berdehem pelan. Gevin hanya tersenyum dengan sifat adik iparnya yang satu ini. Hilmi yang teramat cuek sampai terkesan sangat dingin kecuali dia berada di lingkungan keluarga dekatnya.
"Mi, menurut kamu bagaimana tentang aku yang kembali bersama dengan Kak Zaina?"
Hilmi mulai bergeming ketika dia mendengar pertanyaan itu. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan menatap lurus ke arah taman di depannya. Hijaunya rumput taman membuat suasana sore ini sangat terasa hening dan nyaman.
"Jangan menyakiti hati Kakak lagi, dia itu sudah sangat lemah. Meski sudah ada Bunda, tapi aku sering antar Kakak makam mendiang Ibunya dulu waktu sekolah tanpa sepengetahuan Bunda, karena Kakak tidak mau kalau sampai Bunda sedih karena ini. Dia sering menangis di makam Ibunya dan menceritakan semuanya. Dia tetap seorang anak yang merindukan Ibu kandungnya, dia juga tetap wanita yang mempunyai sisi lemahnya, meski dia kerap terlihat ceria dan tegar"
Mendengar itu Gevin jadi ingat sesuatu, dia bahkan tidak mempunyai waktu untuk menanyakan bagaimana keadaan istrinya itu. Bahkan dia tidak pernah mengajak Zaina untuk pergi ke makam mendiang Ibu kandungnya.
Suami macam apa aku ini, sampai tidak tahu apa yang di inginkan istriku selama ini.
"Ya, aku janji tidak akan pernah menyakiti Kakakmu lagi. Mulai saat ini aku akan benar-benar berubah dan menjadikan Kakakmu ratu dalam hidupku" ucap Gevin
Hilmi menoleh pada Kakak Iparnya itu, dia melihat jelas bagaimana Gevin yang terlihat tulus. Hilmi menepuk bahu Gevin. "Jaga Kakak mulai saat ini, Kak. Jangan membuat Kakak sakit lagi"
Hilmi berlalu begitu saja setelah dia megucapkan itu. Meninggalkan Gevin yang sedang berpikir tentang istrinya, dia berencana akan membawa istrinya untuk datang ke makan mendiang Ibunya itu. Gevin juga ingin meminta maaf dan meminta restu karena sudah membuat Zaina kecewa.
Bersambung
__ADS_1