
Seolah mendapatkan kejutan yang sangat besar, tadi pagi Bunda datang ke kamarku dan bilang kalau pria yang selama ini aku cintai bersedia menikah denganku.Tentu saja mungkin atas paksaan dari Ibunya.
Karena memang sudah sejak lama Bibi Vania dan Bunda merencanakan perjodohan aku dan Gevin. Hanya saja Gevin yang mempunyai pacar membuat mereka tidak bisa melakukan itu. Dan hari ini, kabar baik datang menghampiriku. Sungguh aku sangat senang sekali karena ternyata aku bisa menikah dengan pria yang aku cintai selama bertahun-tahun.
Deg..
Buku itu terlepas begitu saja dari genggaman tanagnnya. Jatuh ke atas lantai dan sedikit membentur kakinya. Gevin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.
Aku? Ya, aku yang Zaina cintai selama ini. Pria yang dia bilang dia cintai sejak dia SMA adalah aku. Ya Tuhan, kenapa aku sampai tidak sadar.
Air mata Gevin menetes begitu saja di pipinya. Penyesalan karena baru sekarang dia tahu tentang perasaan Zaina yang sesungguhnya padanya.
"Maafkan aku Sayang, kenapa aku sampai bodoh sekali tidak tahu tentang perasaanmu itu"
#######
Pagi ini Gevin terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Semalaman dia tidak benar-benar tidur, hanya menangisi kepergian istrinya itu. Buku itu masih berada dalam genggaman tangannya. Gevin bangun dengan perlahan di atas tempat tidur, dia meletakan buku Zaina di atas nakas. Lalu mulai beringsut ke pinggir ranjang untuk menurunkan kakinya.
"Ternyata ini nyata ya, aku kira hanya mimpi. Istriku benar-benar pergi" lirih Gevin dengan air mata yang kembali menetes begitu saja di pipinya
Untuk pertama kalinya dia terlihat begitu rapuh karena kehilangan Zaina. Masih tidak menyangka dengan apa yang sudah di lakukan oleh istrinya. Wanita yang selalu terlihat sabar dalam menghadapi apapun, bahkan menghadapi kemarahan Gevin pun Zaina selalu sabar. Namun, ternyata ketika kesabarannya sudah di batas wajar. Maka dia menyerah dan pergi begitu saja.
Gevin berjalan gontai ke kamar mandi, hari ini dia juga harus mencari Zaina. Berharap akan bisa menemukan Zaina di tempat dia mengajar.
Di tempat yang berbeda, Zaina baru saja selesai sarapan. Meski pengecap rasanya hambar, namun Zaina tetap memaksakan untuk sarapan karena tidak enak dengan Ibu mertuanya yang sudah menyiapkan sarapan untuknya.
__ADS_1
"Kamu yakin mau ke sekolah sekarang, Za?" tanya Vania
Zaina mengangguk, dia memang sudah siap untuk pergi ke sekolah. "Hari ini Za mau menyerahkan surat pengunduran diri Bu. Setelah itu Za akan pergi ke luar kota, menemui Daddy dan Bunda. Za masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang akan Za ambil untuk langkah selanjutnya dalam hidup Za ini"
Vania meraih tangan Zaina, dia menggengamnya dengan lembut. "Maafkan Ibu ya Nak, karena anak Ibu ternyata sudah menghancurkan kehidupan kamu selama ini"
"Kami akan mendukung setiap keputusan yang akan kamu ambil Za. Karena semua ini memang kesalahan anak Papa, mungkin salah Papa sendiri yang tidak bisa mendidik anak Papa itu untuk menghargai perempuan" ucap Papa Gara
Zaina mengangguk, dia bersyukur karena keluarga suaminya itu sama sekali tidak menyalahkan Zaina atas keputusan yang dia ambil itu. "Zaina mohon sama Papa dan Ibu, untuk tidak memberi tahu Gevin tentang keberadaan Za, sampai Za berhasil menenangkan diri dan siap untuk bertemu dengannya lagi"
Vania menganguk, dia juga pernah berada di posisi Zaina. Bahkan lebih parah dari ini, Vania tentu mengerti bagaimana menjadi Zaina saat ini. Karena menurut Vania, memang di saat seperti ini pergi adalah keputusan yang terbaik untuk menenangkan diri. Mungkin Zaina juga merasakan hal yang sama.
"Ibu janji tidak akan pernah memberi tahu Gevin, karena Ibu juga bisa merasakan bagaimana berada di posisi kamu pada saat ini"
Selesai sarapan, Zaina langsung pergi ke sekolah tempat dia mengajar dengan di antar oleh Genara. Karena Vania yang tidak mau sampai Zaina kenapa-napa, apalagi dengan keadaannya yang sedang sangat kacau saat ini.
Zaina menghentikan langkahnya ketika dia melihat Aldo yang menunggunya di depan gerbang sekolah itu. "Hai Do, sedang apa kamu disini?"
Aldo terdiam, dia menatap Zaina dengan tatapan sendu. "Kenapa kamu berhenti Za? Padahal baru sebentar sekali aku bersama denganmu dan bisa berteman dengan nyaman"
Zaina tersenyum, dia menatap Aldo. "Aku harus pindah Do, banyak hal yang tidak mungkin aku ceritakan padamu juga. Jadi, semangat terus ya, aku yakin kamu akan menjadi guru yang baik untuk anak-anak. Aku pergi ya Do"
Zaina menepuk bahu Aldo sebelum dia pergi dan masuk ke dalam mobil adiknya. Genara yang sejak tadi menunggu di dalam mobil, tentu melihat adegan itu.
"Kak, siapa pria tadi?" tanyanya
__ADS_1
"Aldo, guru olah raga disini" jawab Zaina sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
Genara mengangguk mengerti, dia mengendarai mobilnya untuk meninggalkan kawasan sekolah ini. Zaina sudah lebih dulu memberikan surat pengunduran diri ke sekolah satunya lagi. Jadi sekolah ini adalah yang terakhir.
"Tampan ya, Kak"
Zaina langsung menoleh pada adik iparnya itu, dia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat senyuman di wajah Genara. "Jangan bilang kamu suka sama dia, Gen?"
Genara hanya tersenyum penuh arti pada Zaina. "Tapi dia memang belum menikah 'kan Kak?"
"Belum si, bahkan dia juga tidak mempunyai pacar"
Genara tidak menjawab lagi, dia hanya tersenyum sambil terus fokus mengemudi. Sementara Zaina hanya menatap ke luar jendela, sampai dia melihat seseorang yang jelas dia kenal.
"Berhenti dulu, Gen"
Genara langsung menoleh pada Kakaknya, namun dia tetap menuruti untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. Genara mengikuti tatapan Zaina, dan dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya.
"Kak Gevin? Sial, kenapa dia masih saja mementingkan wanita itu" kesal Genara
Zaina tidak banyak bicara, dia hanya menatap ke arah suaminya. Dimana Gevin yang keluar dari gang yang menuju ke rumah yaang di tempati oleh Lolyta. Gevin menggendong Lolyta dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia melajukan mobilnya. Zaina menghembuskan nafas kasar untuk menyamarkan rasa sesak di dadanya ini.
"Jalan Gen, kita pulang sekarang" ucap Zaina dengan suara yang terdengar parau, seolah sedang menahan sesuatu.
Rasa sesak di dadanya benar-benar membuatnya ingin menangis saat ini juga. Di saat dia pergi saja, bahkan Gevin tidak mencari keberadaannya. Semuanya hanya Karena Zaina yanh memang tidak pernah berarti untuk Gevin.
__ADS_1
Bersambung