Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Memendam Cinta!


__ADS_3

Hari ini adalah tentang semua yang pernah kita lalui. Tentang bagaimana sandiwara pernikahan ini sudah berakhir. Berubah menjadi sebuah pernikahan yang sebenarnya. Sampai saat ini, aku bahagia. Meski baru saja kami mendapatkan sebuah cobaan yang besar dalam sebuah pernikahan ini. Bagaimana anak kami yang meninggal dunia saat dilahirkan. Tapi aku sadar jika semuanya hanya sebuah coban. Karena tidak ada sebuah pernikahan yang berjalan tanpa sebuah cobaan.


Zaina menutup catatan hariannya, dia sudah menutup tentang kisah cinta terpendamnya di buku sebelumnya. Sebuah buku yang diberikan pada Gevin sampai akhirnya Gevin mengetahui tentang perasaannya. Namun sekarang dia membuka lembaran baru di buku yang baru. Cerita tentang pernikahan dirinya dan Gevin. Setelah tentang sandiwara pernikahan mereka yang telah berakhir.


"Sayang, aku pulang"


Zaina langsung menoleh pada suaminya yang masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum melihat suaminya itu, lalu dia menyimpan buku itu di dalam laci. Zaina segera menghampiri Gevin.


"Mas kamu sudah pulang ternyata, aku sedang menunggu kamu sejak tadi" ucap Zaina yang langsung memeluk suaminya.


Gevin mengelus kepala istrinya, mengecup puncak kepalanya. Senang rasanya ketika dia bisa melihat istrinya bermanja seperti ini. "Sayang sedang menulis apa? Aku lihat tadi masukin buku ke dalam laci"


Zaina mendongak, menatap wajah suaminya sambil tersenyum. "Rahasia dong, itu tentang duniaku"


Gevin tersenyum, dia mencium gemas hidung mancung istrinya. Merasa gemas juga dengan istrinya ini. "Mulai main rahasia-rahasiaan ya sama aku ya"


Zaina hanya tertawa pelan, dia membalik tubuh suaminya. Lalu mendorongnya ke arah ruang ganti. "Sudahlah, sekarang kamu mandi saja, aku siapkan dulu makan malam ya"


"Biar Mbak saja, kamu tidak perlu menyiapkan makan malam. Kamu masih harus menjaga kesehatan kamu" ucap Gevin dengan nada penuh kekhawatiran.


Zaina hanya tersenyum mendengar itu, tentu saja dia tahu bagaimana suaminya yang selalu mengkhawatirkan dia. Padahal sudah satu bulan sejak operasi berlangsung. Sejak kelahiran anak pertama mereka.


"Aku sudah baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir lagi tentang aku" ucap Zaina

__ADS_1


Gevin hanya menghela nafas pelan, lalu dia masuk ke dalam ruang ganti. Tahu jika istrinya memang selalu bicara seperti itu jika dia menyuruhnya untuk beristirahat dan tidak terlalu banyak mengerjakan banyak hal. Ya, karena memang Gevin yang selalu merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.


Zaina kembali duduk di sofa, menuruti saja ucapan suaminya yang melarangnya untuk melakukan apapun. Dia tersenyum mengingat tentang banyak hal yang sudah dia lalui untuk tetap bisa bersama dengan suaminya sampai saat ini. Tentang awal sandiwara pernikahannya dan Gevin yang akhirnya berakhir juga.


Semuanya berlalu begitu cepat, aku masih tidak percaya jika sampai saat ini aku masih bisa bertahan dan masih bisa bersama dengan Gevin.


Cinta terpendam yang selama bertahun-tahun itu, akhirnya tersampaikan juga. Dan bersyukur karena sekarang Zaina telah mendapatkan balasan atas cintanya itu.


########


Ternyata memang tidak mudah sebagai perempuan yang memendam sebuah perasaan cinta untuk seorang pria. Tidak mempunyai keberanian tinggi untuk mengungkapkannya. Begitulah yang saat ini sedang di alami Genara. Bagaimana dirinya yang harus hancur karena semuanya, hubungan dia dan Aldo memang baik. Semuanya baik-baik saja, bahkan selama hampir beberapa minggu ini keduanya bisa berbincang tanpa ada lagi kecanggungan dari diri Aldo.


Namun semuanya masih sama, Genara tetap tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini. "Ah, susah juga menjadi perempuan ya.Tidak tahu harus melakukan apa dan harus seperti apa"


Genara yang sekarang sedang bingung untuk bisa menyatakan apa yang dia rasakan saat ini.Meski sekarang Genara sudah merasa lebih dekat dengan Aldo, namun dirinya tetap tidak bisa jika harus terus menahan perasaan yang semakin hari akan semakin besar.


Suara ketukan pintu kamar dan suara lembut Ibu membuat Genara langsung bangun dari tidurannya di atas tempat tidur. "Iya Bu, masuk saja"


Vani masuk ke dalam kamar anak perempuannya itu. Duduk di pinggir tempat tidur.  Menatap anaknya yang sejak tadi selalu berada di dalam kamar saja.


"Gen, kamu kenapa? Kok akhir-akhir ini Ibu lihat kamu itu seperti sedang banyak pikiran. Apa tentang acara wisuda kamu? Kan semuanya sudah selesai di persiapkan" ucap Vania, lagi-lagi insting seorang Ibu memang tidak pernah terkalahkan. Dia selalu tahu dan peka dengan apa yang sedang dirasakan oleh anaknya.


Genara menghela nafas pelan, dia beringsut mendekati Ibu dan memeluknya dengan lembut. "Bu, aku sedang jatuh cinta. Tapi aku galau sekarang"

__ADS_1


Vania tersenyum mendengar itu, memang Genara itu yang selalu apa adanya dan tidak pernah bisa berbohong pada keluarganya. Apalagi pada Ibunya. Vania mengelus kepala Genara dengan penuh kasih sayang.


"Memangnya kamu jatuh cinta pada siapa? Dan kenapa harus galau, bukannya jatuh cinta itu adalah hal yang menyenangkan ya" ucap Vania.


Genara menghela nafas pelan, dia mendongak dan menatap wajah Ibunya dengan bibir yang cemberut. "Masalahnya pria yang aku sukai itu, tidak menunjukan kalau dia mempunyai perasaan yang sama denganku, Bu"


"Siapa yang kamu cintai itu?" tanya Vania lagi, begitu penasaran dengan siapa yang telah membuat anak perempuannya ini jatuh cinta.


Genara melerai pelukannya, dia menatap Ibu dengan helaan nafas pelan. Sebenarnya dia sangat malu untuk mengatakan siapa yang dia cintai sebenarnya. Tapi, dia tetap tidak akan bisa berbohong pada Ibunya. Tetap saja harus mengatakan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Kak Aldo Bu" ucap Genara pelan.


Vania terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia tersenyum. Mengelus pipi anaknya dengan lembut. "Dia memang anak yang baik dan begitu sopan. Wajar saja jika kamu memang jatuh cinta padanya"


Genara mengangguk pelan, memang tidak ada yang tidak akan bisa jatuh cinta pada pria seperti Aldo. Yang selalu baik dan sopan, sikapnya yang begitu ramah ini yang telah berhasil membuat Genara jatuh cinta.


"Iya Bu, makanya aku jatuh cinta padanya.Tapi dia terlihat biasa saja dan tidak mempunyai perasaan apapun padaku" ucap Genara dengan helaan nafas pelan.


Vania tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. Mencoba mengerti apa yang sedang dia rasakan. "Mungkin bukan karena dia yang tidak mempunyai perasaan apapun padamu. Tapi memang dia malu atau mungkin merasa canggung sama kamu. Lagian kalian juga 'kan baru pertama kali kenal. Kalau memang mau tahu bagaimana perasaan dia. Lebih baik kamu langsung ungkapkan saja perasaan kamu itu dan kamu akan tahu bagaimana perasaan dia yang sebenarnya"


Genara terdiam mendengar ucapan Ibu itu, mungkin memang dirinya harus segera mengungkapkan perasaan ini agar dia tidak merasa terus mengganjal di hati selama ini. Tapi aku takut jika nanti Kak Aldo akan menolakku. Genara yang masih kebingungan dengan perasaannya sendiri dan cara dia untuk mengungkapkannya.


"Coba saja dulu, Ibu yakin kamu tidak akan menyesal jika kamu berani mengungkapkan perasaan kamu itu padanya" ucap Vania.

__ADS_1


Genara hanya diam dengan segala pemikirannya saat ini.


Bersambung


__ADS_2