
Makan malam kali ini terasa sangat ramai karena menambah orang yang makan bersama di rumah keluarga ini. Gevin menatap Hildan yang sudah mulai menunjukan sikap baiknya, meski sedikit kaku.
"Jadi Gevin, apa rencana kamu selanjutnya? Sebentar lagi Zaina akan melahirkan, kamu harus sabar menghadapi wanita yang sedang hamil. Karena terkadang kemauannya itu terkendali oleh kehamilannya yang ada" ucap Jenny
Gevin mengangguk, meski dia belum pernah disusahkan oleh istrinya itu sejak mereka kembali bersama. Entah memang Zaina yang tidak mengidam yang aneh-aneh, atau memang dirinya tidak mau bilang pada Gevin dengan alasan tertentu.
Hildan melirik istrinya itu, karena memang ketika Jenny hamil Hilmi dan Haiden semua keinginannya itu selalu yang aneh-aneh dan tidak mempunyai waktu. Terkadang di tengah malam membangunkan dia hanya karena menginginkan sesuatu.
Selesai makan malam, mereka langsung berkumpul di ruang tengah. Hildan memperhatikan bagaimana menantunya memperlakukan anaknya. Gevin yang sedang meletakan bantal di belakang tubuh Zaina di atas sofa itu, membuat Hildan cukup mengerti jika ternyata Gevin memang sudah benar-benar memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Akhirnya kamu medapatkan orang yang benar-benar tulus.
Suara hati Jenny dan Hildan yang hampir sama. Keduanya sangat bersyukur karena bisa melihat sendiri bagaimana anaknya di perlakukan dengan baik oleh suaminya. Mereka mulai percaya jika Gevin memang sudah benar-benar berubah dan menyesali perbuatan yang di perbuatnya.
"Sayang sudah ngantuk ya, kita ke kamar kalau begitu"
Gevin yang menatap istrinya yang sudah mengantuk, membuat dia langsung sigap dan menggendong istrinya itu. "Daddy, Bunda, semuanya aku izin bawa Zaina ke kamar ya. Dia sudah sangat mengantuk"
"Iya Nak" jawab Jenny, sementara Hildan hanya menatapnya saja dengan wajah serius.
Jenny meraih tangan suaminya dan menggenggamnya dengan lembut. "Mas, kamu lihat sendiri 'kan kalau Gevin itu memang sudah benar-benar berubah. Kita coba saja untuk memberinya kesempatan kedua dan mencoba untuk percaya kembali padanya. Aku yakin jika dia memang sudah benar-benar berubah"
Hildan menghela nafas pelan, dia menoleh dan menatap istrinya dengan lekat. Lalu, dia mengangguk, mungkin memang sudah saatnya dia untuk percaya padanya. Hildan harus percaya pada Gevin yang terlihat memang benar sudah berubah.
Gevin masuk ke dalam kamar dan menidurkan istrinya dengan lembut di atas tempat tidur. Menarik selimut sampai ke pinggang Zaina, lalu dia mengelus kepalanya dan memberi kecupan disana.
__ADS_1
"Selamat tidur Sayangku"
Gevin ikut naik ke atas tempat tidur dan ikut berbaring di samping istrinya. Menatap Zaina yang sedang terlelap sambil mengelus kepalanya lembut. Gevin menatap Zaina dengan tangan yang menopang kepalanya. Dia tersenyum sendiri melihat wajah tenang istrinya.
"Sayang, aku tidak pernah menyangka jika kamu akan kembali bersama denganku"
Untuk kesekian kalinya Gevin masih berpikir tidak menyangka jika istrinya akan kembali lagi bersama denganku. Dia sangat teramat bahagia ketika bisa menerima kesempatan kedua dari Zaina setelah banyak kesalahan yang dia lakukan.
"Maafkan aku karena pernah menghancurkan hidupmu" lirih Gevin dengan matanya yang berkaca-kaca
Nyatanya penyesalan dan rasa bersalah itu masih ada yang tidak akan pernah bisa benar-benar Gevin lupakan dan hilangkan di hatinya. Melihat senyum istrinya yang begitu tulus padanya, malah membuat Gevin selalu merasa sakit. Hatinya terluka melihat itu, bagaimana istrinya yang begitu baik dan bahkan masih bisa tersenyum begitu tulus padanya. Setelah yang dia lakukan selama ini. Gevin yang hanya bisa diam dengan rasa penyesalannya yang semakin besar.
########
Pagi ini ketika Zaina terbangun, dia tidak melihat lagi keberadaan suaminya disana. Zaina juga bingung kenapa Gevin tidak ada di dalam kamar. Zaina segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
"Bun, lihat Gevin gak? Kemana ya dia"
"Suami kamu pergi lari pagi sama Daddy, mungkin sebentar lagi pulang" jawab Jenny sambil berlalu ke kamar dua jagoannya itu.
Zaina masih terdiam mendengar ucapan Jenny barusan. Suaminya pergi bersama dengan Ayahnya? Entah kenapa Zaina malah berpikir hal yang tidak-tidak akan terjadi. Takut jika Ayahnya akan menekan Gevin atas masa lalu yang telah terjadi diantara dirinya dan Gevin.
Di jalan komplek perumahan ini masih cukup sepi di pagi hari ini. Hanya ada beberapa orang yang sedang berlari pagi saja yang terlihat. Paling juga seorang Ibu yang sedang menyiram tamaanan di depan rumah mereka. Gevin dan Hildan masih berlari santai di jalanan itu. Masih belum ada pembicaraan yang terbuka sejak tadi.
"Vin, Daddy tahu kalau saat ini kamu sudah merasa penyesalan yang sangat atas perbuatan kamu. Dulu, Daddy juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi hanya satu yang Daddy minta, untuk tetap terus menanamkan penyesalan itu agar kamu tidak mengulangi hal yang sama"
__ADS_1
Terkadang sesuatu yang di anggap harus disudahi dan dihilangkan dari diri kita, tapi malah menjadi penguat untuk kita untuk menjadi lebih baik lagi. Seperti yang di alami Hildan selama ini. Dia selalu merasakan penyesalan ketika dia melihat senyum istrinya dan anak-anaknya. Masih berpikir jika saja dulu dia terlambat mneyadari tentang penyesalan ini, mungkin sampai saat ini dia tidak akan pernah bisa kembali bersama dengan istrinya dan mempunyai dua jagoan.
Gevin mengangguk, dia juga tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Bahkan untuk menatap wajah cantik istrinya saja, selalu membuat dia terbayang dengan apa yang pernah dia lakukan pada Zaina di waktu dulu.
"Iya Dad, aku mengerti. Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk bisa kembali bersama dengan Zaina"
Hildan mengangguk sambil menepuk bahu menantunya itu. Mereka kembali berlari sampai cukup berkeringat, barulah kembali ke rumah.
Zaina sudah menunggunya di ruang makan ketika suaminya sampai. Zaina langsung menghampiri Gevin dengan cemas, mengajaknya untuk pergi ke kamar agar dia bisa leluasa untuk berbicara dan bertanya pada suaminya.
"Mas, Daddy tidak apa-apain kamu 'kan?"
Gevin yang sedang duduk di atas sofa di kamar itu hanya tersenyum melihat wajah istrinya yang panik. "Tidak, memangnya apa yang akan Daddy lakukan padaku? Sayang, Daddy kamu itu sudah merestui kembali hubungan kita ini. Dia bahkan sudah memberikan kesempatan kedua untuk aku kembali bersama putri kesayangannya ini"
Zaina menghela nafas lega mendengar itu, dia langsung menghampiri Gevin dan duduk di samping suaminya itu. "Yaudah kalau gitu, syukur deh. Sekarang lebih baik kamu mandi, kita sarapan bareng di luar"
Gevin meraih tangan istrinya dan menggenggamnya lembut. Mengecuo punggung tangan mungil itu. "Nanti agak siangan kita pergi ke makam Ibu kamu ya"
Deg..
Mata Zaina langsung berkaca-kaca mendengar itu. Jelas dia sudah lama tidak berkunjung ke makam Ibu kandungnya dan memang dia ingin berziarah ke makan Ibu kandungnya itu.
"Beneran Mas?" tanya Zaina dengan mata yang berbinar
"Iya Sayang"
__ADS_1
Bersambung