
Setelah semuanya bisa bersama dengan orang yang dicintai. Maka sekarang Zaina bisa lebih memikirkan tentang keluarga kecilnya, berusaha keras untuk tetap membuat keluarga kecilnya ini bahagia dan tetap harmonis sampai saat ini.
Waktu yang terus berlalu seiringnya kehidupan yang terus berjalan. Dilalui tanpa merasa terbebani, tetap dilalui seperti air mengalir. Begitulah yang Zaina dan Gevin rasakan saat ini. Tentunya karena memang keduanya sangat menginginkan kehidupan yang damai dan tentram dalam penikahannya ini. Jadi tidak pernah sekalipun terpikirkan oleh Gevin untuk berpaling dari istrinya yang sudah nyaris segalanya bagi hidupnya itu.
"Mas, nanti malam jadi datang ke acara makan malam bersama dengan keluarga Aldo itu?" ucap Zaina yang sedang membantu suaminya memakaikan jas.
Gevin mengangguk, dia memberikan kecupan di kening istrinya itu. "Kamu siap-siap saja, nanti pas pulang kerja kita akan langsung datang kesana"
Zaina mengangguk, mengusap bagian dada suaminya seolah sedang mengusir debu di jas suaminya itu. "Sudah tampan, sekarang sudah bisa berangkat"
Gevin hanya tersenyum, dia memeluk istrinya dan menghujani wajah sang istri dengan kecupannya. Tentu saja dia sangat senang mempunyai istri pengertian seperti Zaina.
"Tidak terasa juga ya, hubungan Aldo dan Genara sudah berjalan 4 bulan. Apa mungkin mereka akan segera menikah?" ucap Zaina dengan kepala yang bersandar begitu nyaman di dada suaminya.
"Sepertinya tidak, mereka masih ingin banyak waktu untuk bermain dulu. Jadi mungkin tunggu sampai mereka berdua siap" ucap Gevin.
Zaina mengangguk mengerti, dia jadi teringat bagaimana dulu dia yang iku pusing dengan kisah cinta Genara dan Aldo ini yang banyak sekali kesalah fahaman diantara keduanya.
"Yaudah Mas, sekarang kamu berangkat sana. Nanti malam aku akan siap-siap sebelum kamu pulang bekerja" ucap Zaina.
Gevin mengangguk, dia mengecup kening istrinya lalu segera pergi bekerja. Sementara Zaina ke taman belakang setelah suaminya pergi bekerja. Dia duduk di sebuah bangku taman dengan sinar matahari pagi yang sedang hangat-hangatnya.
Senang juga bisa menikmati waktu sendiri seperti ini, bahkan Zaina juga tidak pernah lagi merasa hampa dan kesepian sejak dia memutuskan kembali lagi pada Gevin. Karena meskipun sedang berada di Kantor, jika ada waktu senggang Gevin akan menghubungi Zaina hanya untuk sekedar menanyakan sudah makan atau belum. Tapi hal sederhana seperti ini yang membuat Zaina merasa sangat di perhatikan oleh suaminya ini.
Entah apa yang membuat dia mengelus perutnya itu. Begitu tiba-tiba sekali, namun Zaina seolah sedang merindukan kehadiran seorang bayi di dalam perutnya itu.
__ADS_1
Sebentar lagi Zaina, setelah genap satu tahun sejak kelahiran anak pertamaku. Maka aku akan segera melepas kontrasepsi. Aku ingin segera memberikan keturunan untuk suamiku.
Penantian Zaina semoga tidak akan pernah sia-sia. Dia ingin segera memberikan seorang anak pada Gevin. Setelah mereka mengalami gagal untuk menjadi orang tua.
"Aku bahagia sekarang, setidaknya sudah bisa mendapatkan cinta dari suamiku dengan sepenuhnya"
Zaina menatap langit yang begitu cerah di atas sana. "Mommy, aku bahagia. Mempunyai Bunda yang baik dan adik-adik yang sedikit nakal dan menyeballkan, tapi mereka begitu perhatian padaku. Kalau bisa datang ke mimpiku ya, aku ingin melihat wajah Mommy lagi. Aku rindu"
Setiap dia merasa merindukan Ibu kandungnya yang sudah meninggal, maka dia akan melihat langit karena merasa jika Ibunya itu akan melihatnya dari atas sana. Zaina selalu senang ketika dia bermimpi ditemui Ibunya itu. Karena mau bagaimana pun dia adalah seorang anak yang bahkan tidak pernah di gendong Ibu kandungnya sejak lahir. Karena Ibunya yang meninggal saat dia lahir.
Zaina tersenyum, dia berdiri dan segera berlalu masuk ke dalam rumah.
########
Malam ini rumah Papa Gara terasa cukup ramai karena kedatangan keluarga Aldo. Keluarga mereka langsung disambut hangat oleh Papa Gara dan Ibu Vania. Berkumpul di meja makan dengan hidangan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja makan ini. Gevin dan juga Zaina sudah datang.
Sebenarnya Ayah dan Ibu Aldo sangat tidak menyangka jika anaknya bisa menjalin kasih dengan keluarga terpandang seperti ini. Genara yang sudah beberapa kali datang ke rumah, bahkan tidak menunjukan jika dia adalah anak orang kaya.
"Ah, tidak usah sungkan Pak. Panggil saja Gara saja, kita adalah calon besan dan nantinya akan menjadi keluarga. Jadi hilangkan panggilan Nyonya dan Tuan, saya merasa aneh mendengarnya" ucap Gara dengan tersenyum.
Ayah mengangguk, sungguh dia tidak pernah menyangka akan bisa berbesanan dengan orang seperti Gara dan Vania. Tentu untuk sekedar bermimpi pun tidak pernah bisa.
"Hari ini senang sekali bisa kedatangan keluarga Aldo. Saya selalu ingin bertemu dengan Ibunya ini" ucap Vania.
Ibu mengangguk dan tersenyum, tentu saja dirinya juga merasa canggung dengan keadaan saat ini. "Iya Bu, saya juga senang bisa bertemu dengan Ibu dari Nak Genara ini. Anak Ibu adalah gadis yang baik dan sederhana"
__ADS_1
Vania tersenyum mendengar itu, senang juga mendengar ucapan Ibu barusan. Menatap anak gadisnya yang sekarang sudah benar-benar dewasa. Sebentar lagi akan menikah dan mempunyai keuarganya sendiri. Terkadang Vania merasa waktu terlalu cepat berlalu. Melihat Gevin yang juga sekarang sudah menjadi suami yang begitu bertanggung jawab pada isrinya.
"Yah, kita sebagai seorang Ibu pasti merasa jika anak kecil kita ini sangat cepat tumbuh besar. Padahal rasanya baru saja kemarin melahirkan dia" ucap Vania sambil menatap kedua anaknya dengan saling bergntian.
"Ya, begitulah. Waktu memang cepat berlalu"
Vania tersenyum melihat gadis remaja yang sejak tadi diam saja. Sepertinya dia adalah gadis yang cukup pendiam. "Apa dia adikmu? Siapa namanya?"
Aldo mengangguk dia menatap adiknya yang duduk di sampingnya itu. "Iya Bu, dia adik saya. Namanya Ersya. Perkenalkan dirimu Er"
Ersya mengangguk, dia langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya pada keluar calon Kakak Iparnya ini. Dan setelah itu dia kembali duduk, dan diam kembali. Mungkin memang dirinya seperti itu.
"Dia memang pendiam ya" ucap Vania.
Aldo mengangguk sambil tersenyum, menatap anaknya yang pendiam yang memang selalu tidak pernah banyak berbicara.
"Dia memang begitu Bu, anak gadis tapi pendiam" ucap Ibu sambil terkekeh pelan.
Vania hanya tersenyum, dia merasa senang dengan keluarga Aldo yang memang terlihat dari keluarga yang baik, sopan dan ramah. Jadi rasanya Vania langsung bahagia sekali jika bis berbesanan dengan keluarga ini.
Makan malam ini terus berlanjut sampai mereka selesai makan dan langsung berkumpul di ruang tengah hanya untuk sedikit berbincang saja. Membahas tentang pernikahan juga. Karena sepertinya kedua orang tua yang ingin segera menikahkan kedua anaknya.
"Sebaiknya semuanya kita serahkan saja pada anak-anak" ucap Ayah.
"Nah saya setuju itu" ucap Papa Gara.
__ADS_1
Dan pembahasan terus berlanjut.
Bersambung