Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Bantu Keringkan Rambut Kamu?


__ADS_3

"Mas, besok siang aku izin keluar ya. Mau ketemu sama teman"


Gevin langsung menoleh pada istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur. Sementara dirinya sedang tiduran di atas sofa bed disana.


"Pergi kemana? Sama siapa?"


Zaina sedikit mengerutkan keningnya ketika dia mendengar nada ketus dari suaminya itu.  "Teman Mas, dia baru pulang dari luar kota dan ingin bertemu denganku"


"Yaudah, aku antar"


"Eh jangan!" Refleks Zaina langsung menjawab dengan setengah berteriak.


Gevin langsung menatap pada istrinya dengan tatapan tidak suka. "Siapa yang mau temui? Pria?"


"Bukan Mas, perempuan kok"


"Yaudah, pulangnya jangan kesorean"


Gevin langsung berbalik badan membelakangi Zaina yang masih duduk di tempat tidur. "Aduh, kenapa aku bersikap seperti ini? Apa aku cemburu?"


Zaina mengangkat bahunya acuh, melihat sikap Gevin yang tiba-tiba terasa aneh. Zaina merebahkan tubuhnya dan melanjutkan menonton di ponselnya, dia tertawa cekikikan ketika melihat adegan lucu di drama yang dia tonton itu. Hal itu membuat Gevin menoleh ke arah Zaina yang tertawa sambil melihat layar ponselnya yang tidak di ketahui sedang melihat apa di layar ponselnya itu.


"Ck, sudah malam tidur bukan malah main hp terus"


Zaina menoleh pada suaminya, dia mematikan layar ponselnya itu. "Iya Mas"


Aneh banget si dia hari ini.


Gevin menghela nafas pelan, dia mulai merasakan perasaan yang berbeda saat beberapa hari terus tinggal bersama dengan Zaina. Mungkin karena Zaina yang sudah menjadi istrinya membuat Gevin merasa memiliki Zaina, dan dia paling tidak suka jika apa yang sudah menjadi miliknya di ambil oleh orang lain.


"Aku tidak mungkin cemburu, masa iya aku jatuh cinta sama Zaina yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri"


Ketika pagi ini keduanya terbangun berbarengan. Gevin menatap wajah Zaina yang baru saja bangun tidur, wajah yang masih terlihat bingung. Ekspresinya ini malah terlihat lucu dimata Gevin.


"Kamu juga baru bangun, Mas? Aku duluan ya ke kamar mandinya, mau bikin sarapan soalnya"


"Iya"


Zaina langsung turun dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju ruang ganti. Apa yang dilakukan oleh Zaina itu sangat terlihat lucu dimata Gevin. Sampai Gevin mengusap wajahnya untuk menyadarkan dirinya untuk tidak terus menatap Zaina.


"Aku sudah selesai Mas, kamu mandi sana"

__ADS_1


Gevin melihat Zaina yang baru saja keluar dari ruang ganti. Wajahnya sudah terlihat sangat segar dengan rambut yang masih basah. Gevin berdiri dan menghampiri Zaina yang sedang duduk di depan meja rias. Meraih handuk kecil di tangan Zaina.


"Biar aku bantu keringkan rambut kamu"


Zaina terdiam dengan keterkejutannya atas apa yang dilakukan oleh Gevin. Padahal selama beberapa hari ke belakang, Gevin selalu terlihat menjaga jarak darinya.


"Udah, aku cuma pengen bantu kamu aja sekalian mainin rambut curly kamu ini. Lucu sekali"


Deg...


Jantung Zaina benar-benar berdegup kencang ketika Gevin yang mencium rambutnya itu. Merasa aneh dengan sikap Gevin ini.


"Wangi sekali rambut kamu ini"


"Mas aku bisa sendiri, kamu mandi saja"


Gevin tidak menghiraukan dia malah asyik bermain-main dengan rambut istrinya. Mencium wangi rambutnya dengan menggulung-gulung rambut di tangannya.


"Kenapa si, mainin rambut istri sendiri masa tidak boleh. Padahal aku bisa loh mainin yang lainnya juga, kan kamu istri aku"


Berkali-kali Gevin membuat jantung Zaina berdebar kencang, tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari suaminya setelah beberapa hari lalu Gevin sendiri yang bilang kalau dia tidak akan pernah bisa memberikan nafkah bathin pada Zaina. Tapi sekarang tiba-tiba dia mengatakan itu pada Zaina barusan.


Gevin mengecup puncak kepala Zaina. "Yaudah aku mandi dulu, masak sarapan yang enak ya, Za"


Zaina menatap Gevin yang berlalu begitu saja ke ruang ganti. Sementara dirinya yang masih cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Mungkin dia sedang latihan sandiwaranya kali"


#######


Zaina masuk ke dalam cafe yang di tentukan oleh Qori untuk bertemu siang ini. Zaina menunggu beberapa saat sampai Qori datang.


"Sory sory, aku datang terlambat"


"Tidak papa, mau pesan minum dulu atau makan mungkin?"


"Tidak usah Za, aku juga buru-buru ini. Lagi ada kerjaan aja di sekitar sini"


Zaina mengangguk mengerti, dia me,natp Qori dengan serius. Tidak ma,u berbasa-basi lagi, Zaina ingin langsung bertanya intinya saja. "Maaf Qori karena aku ngajak kamu ketemu mendadak begini. Tapi ada yang ingin aku tanyakan sama kamu"


"Ya, mau bertanya apa?"

__ADS_1


Zaina menghela nafas pelan, dia mencoba menyiapkan diri dan hatinya untuk siap mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan kepergian Lolyta. "Apa kamu tahu tentang kepergian Lolyta? Apa kamu mengetahui kemana dia pergi dan apa alasan dia pergi?"


Qori terdiam beberapa saat, dia sedikit tidak menyangka jika Zaina akan menanyakan tentang sahabatnya yang sudah lama menghilang.


"Kenapa kamu bertanya begitu? Bukannya kamu sudah menikah dengan Gevin, apa ini Gevin juga yang menyruhmu?"


Zaina terdiam mendengar itu, tidak menyangka jika Qori akan mengetahui tentang ini. Padahal saat pernikahannya, dia tidak melihat Qori datang ke acara pernikahan mereka.


"Lolyta pergi meninggalkan Gevin karena memang sengaja meninggalkannya karena alasan"


"Apa alasannya Qori? Tolong beri tahu aku"


"Alasannya..."


#######


Zaina kembali ke Apartemen setelah mendengar semua penjelasan dari Qori. Dia masuk ke Apartemen dengan wajah yang murung, ada hal yang baru saja dia ketahui dan sekarang benar-benar membuatnya dilema setengah mati. Apa dia harus memberi tahukan semuanya pada Gevin atau tidak. Zaina benar-benar bingung.


"Za.."


Zaina mengerjap, dia menoleh dan menatap suaminya yang sedang duduk di sofa. Segera Zaina menghampirinya dan menyalami Gevin dengan sopan, sebagai baktinya kepada seorang suami.


Zaina duduk di samping suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Gevin. Pikirannya benar-benar membuat Zaina merasa lelah sendiri.


Gevin mengelus kepala Zaina dan mengecupnya. "Kenapa hmm? Abis pergi ketemu temen kok malah lemes kayak gini?"


"Capek aja, aku kayaknya gak masak makan malam ya. Kita gofoood aja"


Gevin mengangguk, dia kembali mengelus kepala Zaina. Dalam dirinya sudah mulai ada rasa simpati dan sayang untuk Zaina.


Sepertinya memang aku sudah seharusnya mencoba membuka hati untuk istriku.


Gevin mulai merasakan hal yang berbeda beberapa hari bersama dengan Zaina. Ternyata ketulusan Zaina membuat Gevin mulai tersentuh, dia tidak bisa mengendalikan perasaannya jika memang dia mulai menerima keberadaan Zaina sebagai istrinya.


Gevin meraih ponselnya di atas meja lalu dia mulai membuka aplikasi untuk memesan makanan. "Mau pesan apa? Biar aku pesankan sekarang"


"Apa aja deh, terserah Mas saja. Asal jangan yang ada kacangnya. Aku alergi kacang"


"Oke"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2