
Hari ini semuanya berjalan dengan sangat lancar. Terlihat sekali jika Gevin sedang senang dan mood nya yang baik. Papa Gara bahkan sampai terheran-heran melihat sikap anaknya ini yang lain dari biasanya.
"Kamu terlihat bahagia sekali, Nak?" Tanya Gara ketika mereka keluar dari ruang meeting.
Gevin tersenyum, bagaimana dia tidak bahagia karena setelah sekian lama akhirnya istrinya sendiri yang memulai percakapan tentang hal ini. Padahal sudah lama sekali dirinya menahan dirinya agar tidak sampai menyerang istrinya begitu saja. Dan akhirnya malam nanti Gevin bisa melepaskan dahaganya selama ini.
"Aku bahagia sekarang Pa, ternyata memang benar apa kata Ibu. Jika pilihan dia itu yang terbaik" ucap Gevin
Papa Gara tersenyum mendengar itu, dia menepuk bahu anaknya yang pernah mengalami hal sulit saat kecil. Hidup tanpa kehadirannya. "Papa ikut bahagia kalau memang kamu sangat bahagia sekarang. Jangan sampai membuat ibumu terluka ya, Nak. Karena dia sangat menyayangi kamu dan Genara"
Gevin mengangguk, dia tidak akan pernah bisa membantah ucapan Ibunya. Karena sekali saja dia membuat Vania kecewa, maka hatinya juga ikut hancur. Gevin yang tidak pernah bisa menyakiti perasaan Ibunya itu. Terakhir kali dia membuat Vania kecewa adalah ketika dia menjadi suami yang tidak bertanggung jawab dan malah membuat Zaina tersakiti. Padahal jelas jika Zaina adalah pilihan Vania yang pastinya yang terbaik untuk Gevin.
"Semuanya akan tetap baik-baik saja jika kamu bersyukur dengan apa yang kamu miliki saat ini. Jangan pernah tergoda dengan apa yang dimiliki orang lain, karena yang kamu miliki saat ini adalah yang terbaik untuk kamu" ucap Papa Gara.
Gevin mengangguk, memang benar apa yang dikatakan oleh Ayahnya itu. Dirinya memang harus lebih bersyukur dengan apa yang dia miliki saat ini. Karena tidak mungkin juga kalau Gevin bisa berpaling lagi setelah dia mempunyai istri seperti Zaina. Apalagi saat ini istrinya sedang mengandung anaknya.
Dan malam ini Gevin benar-benar pulang dengan wajah yang sangat bersinar. Tentu saja karena dia akan segera melepas dahaganya. Gevin masuk ke dalam rumah dan melihat Zaina yang sedang berada di ruang makan dengan banyak makanan di atas meja.
"Sayang, kamu belum makan malam?" Gevin langsung menghapirinya dan mencium puncak kepala istrinya itu dengan lembut.
Zaina menoleh pada suaminya dan tersenyum padanya. Dia sedang mengaduk makanan di depannya, sebenarnya dia sedang malas makan, tapi Mbak pelayan yang terus memaksanya karena memang perintah dari Gevin untuk memastikan makan Zaina teratur.
"Aku lagi malas makan"
Gevin menarik kursi di samping istrinya dan duduk disana. Mengelus lembut punggung tangan istrinya yang berada di atas meja.
"Makan ya, sedikit saja. Kalau tidak makan bagaimana kamu mau berikan nutrisi pada anak kita ini" ucap Gevin lembut
__ADS_1
Gevin menyendok makanan di depan Zaina dan mulai mneyuapinya. Dia harus memastikan istrinya baik-baik saja dan akan tetap mau makan meski sedikit. Karena Gevin sangat takut jika istrinya akan sakit jika dia tidak mau makan.
"Aaa.. Sedikit saja ya, ayo Sayang"
Meski dengan wajah yang kesal, namun Zaina tetap membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari suaminya itu. Dan dengan segala bujukan Gevin akhirnya Zaina bisa makan, meski tidak sampai menghabiskan makanan itu.
"Sayang harus makan, biar kuat untuk malam ini"
Tubuh Zaina langsung membeku begitu saja, sepertinya dia telah melupakan tentang hal ini. Aaa...Zaina menjerit kaget ketika Gevin yang tiba-tiba langsung mengangkat tubuhnya. Menggendong Zaina ke arah kamar mereka.
"Mas.."
Gevin menundukan pandangannya, menatap wajah istrinya yang berada dalam gendongannya itu. "Kenapa Sayang? Apa kau sudah tidak sabar?"
Ishh, Zaina langsung memukul dada suaminya dengan kesal. Gevin ini malah membuat seolah-olah Zaina yang tidak sabar untuk nanti malam. Padahal dirinya sendiri yang memang sudah tidak sabar.
Ya ampun, kenapa mau melakukannya saja sudah seperti mau malam pertama. Padahal malam pertama kita juga tidak se-dramatis ini. Zaina malah heran dan ingin tertawa rasanya saat ini. Merasa jika malam ini penuh dengan dramatis, padahal saat malam pertama mereka saja tidak seperti ini.
Setelah Gevin berlalu ke kamar mandi, Zaina juga ikut menyusul ke ruang ganti. Selain untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, dia juga harus mengambil gaun tidur yang diinginkan suaminya itu untuk dirinya pakai malam ini.
Meski malu, tapi Zaina tetap menuruti keinginan suaminya itu. Menyenangkan suami juga hal baik 'kan? Bergumam sendiri untuk meyakinkan dirinya sendiri. Setelah selesai memakai gaun tidur transparan itu, Zaina langsung keluar dari ruang ganti. Berjalan menuju tempat tidur dengan cepat, masuk ke bawah selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu.
"Aduh, kenapa aku malah seperti gadis abg yang baru menikah si. Padahal aku sudah pernah melakukannya juga. Ayolah Zaina, jangan panik seperti ini"
Zaina malah bingung sendiri dengan kelakuannya ini yang persis seperti seorang gadis yang pertama kali menikah dan akan melakukan malam pertama. Padahal dirinya sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Sampai suara pintu ruang ganti yang terbuka semakin membuat Zaina tegang, pipinya sudah terlihat memerah. Gevin yang berjalan ke arahnya dengan hanya menggunakan jubah mandi saja.
__ADS_1
Kenapa tidak pakai baju dulu? Aku 'kan sudah siapkan. Duh, Zaina semakin tegang saja ketika melihat suaminya yang tidak memakai baju, hanya memakai jubah mandi saja.
Gevin naik ke atas tempat tidur, mengukung Zaina di atas tubuhnya dengan bertumpu pada tangan dan kakinya. Menatap istrinya yang bersembunyi di balik gulungan selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Hanya matanya saja yang terlihat. Gevin terkekeh lucu dengan tingkah istrinya ini.
"Sayang, ayo buka selimutnya. Kenapa kamu malah menutupi tubuhmu seperti ini?"
Zaina menatap Gevin dengan wajahnya yang semakin memanas, dia juga tidak tahu kenapa dirinya harus bersikap seperti ini. Seolah hal ini adalah yang pertama baginya.
"Mas, aku malu. Matikan dulu lampunya"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia meraih saklar lampu dan lampu kamar langsung mati. Hanya tertinggal cahaya yang temaram dari lampu tidur. Tentu saja masih cukup jelas untuk melihat istrinya ini. Tapi masih mendingan karena Zaina tidak akan terlalu terlihat wajah malu dan gugupnya.
Entah di mulai darimana, namun pakaian yang awalnya terpasang di tubuh mereka sekarang malah sudah teronggok di atas lantai. Gevin mulai melancarkan aksinya dengan memberikan beberapa kecupan di bagian tubuh Zaina. Meninggalkan bekas kemerahan di beberapa tempat.
"Sayang, aku mencintaimu"
"Aku juga, Mas"
******* dengan ungkapan cinta yang terdengar di ruangan ini. Gevin benar-benar menunjukan perasaan cinta yang sebenarnya pada Zaina malam ini. Sengaja memberikan seluruh hatinya untuk Zaina.
"Ah, Mas.."
"Sayang, ah, kau terlalu nikmat"
Dan malam ini masih berlanjut entah sampai pukul berapa.
Bersambung
__ADS_1