Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Mencoba Ikhlas?


__ADS_3

Gevin kembali ke kamarnya bersama dengan Zaina. Dia menatap istrinya yang tidur membelakanginya. Gevin langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk Zaina dari belakang. Dia tahu jika istrinya belum tidur, dia hanya sedang berpura-pura tidur saja.


"Sayang, aku melakukan ini hanya aku kasihan pada Lolyta. Dokter juga sudah bilang jika tidak ada harapan lebih untuk kesembuhan Lolyta kali ini. Karena mau bagaimana pun, aku tidak tega dengan keadaannya sekarang"


Zaina benar-benar masih bertahan dengan posisi yang berpura-pura tidurnya. Dia sedang tidak ingin membahas tentang Lolyta. Karena semua tentang Lolyta dan Gevin hanya membuat dadanya semakin sesak.


Gevin menghela nafas pelan, dia mengelus kepala Zaina dengan lembut lalu memberinya kecupan lembut di bahu istrinya itu.


"Selamat tidur Sayang" bisiknya sambil memeluk Zaina semakin erat.


Merasakan hembusan nafas Gevin yang teratur, membuat Zaina langsung membuka matanya. Dia berbalik dan menatap Gevin yang sudah terlelap dengan tangan yang masih memeluk tubuhnya. Air mata Zaina menetes begitu saja, bukan karena dia adalah wanita hebat yang bisa dengan mudah merelakan suaminya untuk menikahi mantan istrinya itu. Namun karena dirinya yang tahu bagaimana keadaan Lolyta, dan Gevin yang juga masih mencintai mantan kekasihnya itu.


Jadi mau bagaimana pun, Zaina tidak bisa untuk terus egois dan mempertahankan pria yang dia cintai.Sementara ada hati lain yang mencintai dan dicintai suaminya itu.


Aku melakukan ini hanya untuk kebahagiaan kamu. Apalagi dengan kondisi Lolyta yang seperti ini membuat aku merasa menjadi manusia paling jahat, jika tidak memberikan dia kesempatan untuk bisa menikah denganmu.


Mungkin memang seperti itu kisah Zaina seharusnya. Bukan karena dia bodoh dan terlalu baik sampai melakukan hal seperti ini. Namun, dia hanya sedang mendahulukan hati nurani dan kemanusiaannya. Zaina tahu bagaimana rasanya mencintai, tapi tidak dicintai.  Begitu sakit dia rasakan. Apalagi jika seperti Lolyta dan Gevin, yang saling mencintai tapi tidak bisa bersama. Perasaannya pasti akan lebih sakit.


Tuhan, ajarkan aku untuk ikhlas. Kuatkan aku, Ya Tuhan.


#######


Pagi ini ketika Zaina sedang memasak untuk sarapan, Lolyta menghampirinya dengan kursi roda yang dia gunakan.


"Za, aku ingin bicara sebentar dengan kamu"


Zaina mengangkat nasi goreng buatannya ke dalam wadah. Lalu menyimpannya di atas meja makan. Zaina menghela nafas pelan, dia mencoba untuk bersikap biasa saja pada Lolyta.

__ADS_1


Jangan sampai menunjukan jika Zaina sebenarnya sangat merasa tidak nyaman dengan keberadaan Lolyta saat ini. Hanya saja Zaina benar-benar harus terbiasa dengan semua itu. Karena sebentar lagi, Lolyta akan benar-benar menjadi madunya.


"Ada apa?" tanya Zaina, mencoba untuk sesantai mungkin karena dia tahu apa yang ingin di bicarakan oleh Lolyta.


"Za, apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan kamu itu? Za, aku tahu jika kehadiran aku akan membuat kamu tidak nyaman. Maaf karena aku juga tidak tahu sebelumnya, kalau kalian itu sudah menikah. Tapi, jujur aku tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Gevin dan menjadi yang kedua"


Lolyta juga bukan wanita serakah yang ingin merebut pria yang dicintainya dari wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Namun dia akui jika hatinya memang benar-benar hancur ketika mendengar jika Gevin telah menikah dengan Zaina.


Zaina menghela nafas pelan, dia menatap Lolyta dengan matanya yang masih sembab karna terlalu banyak menangis kemarin. "Aku tahu jika kalian saling mencintai. Pernikahan aku dan Gevin juga terjadi karena sebuah perjodohan. Karena sampai saat ini hati dan cinta Gevin hanya untuk kamu. Selama ini kita hanya melakukan sandiwara pernikahan di depan orang tua kita, seolah kita memang sepasang suami istri yang bahagia dan saling mencintai"


"Tapi Za, bagaimana kalau sampai orang tua kalian tahu tentang semua ini. Mereka akan marah besar padaku dan juga kalian"


Zaina tersenyum tipis mendengar itu, dia mengelus punggung tangan Lolyta yang berada di atas pangkuannya. "Untuk itu, jangan sampai mereka tahu. Aku dan Gevin akan tetap bersandiwara di depan mereka semua. Jadi kamu menikah dengan Gevin tanpa sepengetahuan mereka. Gak papa 'kan?"


Lolyta mengangguk seiring dengan air mata haru yang jatuh begitu saja. Dia begitu terharu dengan ketulusan Zaina ini. "Sangat tidak papa, Za. Sudah bisa merasakan menikah dengan Gevin saja sudah bagaikan mendapatkan surga dalam hidupku. Terima kasih Za, karena kamu sudah begitu baik padaku. Memberikan aku kesempatan untuk merasakan menikah dengan pria yang aku cintai sejak dulu"


"Sekarang sarapan dulu saja Ly, aku mau panggilkan dulu Gevin untuk sarapan bersama" ucap Zaina


"Iya Za, terima kasih"


Zaina berlalu ke kamarnya untuk melihat suaminya. Tepat pada saat Zaina masuk ke dalam kamar, Gevin juga baru keluar dari ruang ganti. Dia sudah rapi dengan pakaian kantornya itu.


"Selamat pagi, Sayang" ucap Gevin sambil tersenyum lebar pada Zaina


Dia terlihat sangat bahagia, mungkin karena sekarang dia bisa menikah dengan wanita yang dicintainya. Gumam Zaina  dalam hatinya. Dia menghampiri Gevin, membenarkan dasi yang di pakai suaminya yang sedikit miring.


"Mas kamu bekerja juga? Lalu Lolyta dengan siapa di rumah?" tanya Zaina bingung, karena dia juga harus tetap bekerja.

__ADS_1


"Aku sudah membayar perawat yang menemani Lolyta jika kita sedang tidak ada di rumah. Kamu tenang saja" ucap Gevin sambil mengelus kepala istrinya itu.


"Oh ya, dimana Lolyta sekarang?" tanya Gevin pada Zaina yang sedang berias di depan meja rias. Sebentar lagi dia harus berangkat mengajar ke sekolah.


"Sedang sarapan, aku sudah buat nasi goreng untuk kita"


"Pedas tidak nasi gorengnya?" tanya Gevin


"Aku kasih cabe si, tapi tidak banyak dan tidak terlalu pedas juga menurutku"


"Ya ampun Sayang, itu 'kan menurut kamu tapi berbeda dengan Lolyta yang sedang sakit" sarkas Gevin dengan nada suara yang sedikit tinggi pada Zaina.


Zaina terdiam, dia menatap Gevin yang berlalu begitu saja keluar kamar karena khawatir Lolyta akan kenapa-napa karena memakan nasi goreng buatannya yang sedikit pedas.


"Padahal kalau dia sadar dia sedang sakit, dia bisa membuat roti lapis saja kalau memang dia tahu makanan yang aku buat pedas" guman Zaina pada dirinya sendiri.


Zaina segera menyelesaikan bersiapnya, lalu dia menyusul Gevin keluar dari kamar. Zaina melihat suaminya yang sedang menuangkan segelas susu untuk Lolyta.


Rasanya belum pernah sekalipun Gevin berperilaku seperti itu padaku selama ini. Mungkin karena memang aku tidak dia cintai, berbeda dengan Lolyta.


"Lolyta, maaf ya aku lupa kalau ada kamu. Jadi nasi gorengnya malah aku pedasin"


Lolyta tersenyum pada Zaina, dia tahu tidak mungkin juga Zaina sengaja. "Tidak papa Za, aku tahu kok kalau nasinya pedas. Jadi aku bikin roti lapis saja biar aman"


Zaina menghela nafas lega, bersyukur karena Lolyta mengerti dan tidak membuat Zaina sangat salah di mata Gevin.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2