Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Belum Siap Menikah?!


__ADS_3

Waktu yang terus berlalu, meninggalkan semua yang pernah terjadi, menjadi sebuah cerita masa lalu. Sandiwara perniakahan ini kini telah berubah menjadi sebuah pernikahan yang nyata. Kisah cinta diantara keduanya yang semakin hari kian tumbuh semakin besar. Biarlah dua insan ini terus bahagia dengan kebersamaan mereka. Jangan lagi kisah lalu yang belum usai dan datang kembali menghampiri mereka.


Saat waktu satu tahun yang mereka tunggu, kini telah tiba. Saat keduanya sedang diliputi kebahagiaan karena bisa memulai kisah yang baru dengan segera untuk memiliki anak. Belum ada kabar gembira untuk saat ini, belum ada kisah yang menarik untuk saat ini. Tapi setidaknya akan segera ada kebahagiaan baru dalam pernikahan mereka.


"Semuanya aman dan baik-baik saja, bekas operasi juga sudah benar-benar kering untuk kondisi luar dan dalam. Jadi mulai saat ini sudah bisa program hamil"


Penjelasan Dokter yang membuat hati Zaina sangat senang. Setelah selama ini terus menggunakan kontrasepsi, dan sekarang dia sudah mulai bisa untuk melakukan program hamil. Hal yang sudah sangat ditunggu-tunggu olehnya.


"Baik Dok, terima kasih banyak"


Gevin langsung membawa istrinya kembali ke rumah setelah selesai dengan pemeriksaan Dokter. Perasaannya cukup lega karena keadaan istrinya yang baik-baik saja dan tentu bisa hamil kembali. Namun seolah ada setitik trauma yang tidak bisa hilang dalam hatinya. Mengingat jika nanti istrinya akan benar-benar hamil lagi, maka dia merasa akan sangat takut terjadi hal yang sama pada sang istri dan bayi mereka seperti yang sudah berlalu.


"Mas, kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Zaina ketika melihat suaminya yang diam saja sejak pulang dari rumah sakit.


Gevin menoleh pada istrinya yang berdiri disamping sofa yang dia duduki dengan membawa segelas teh. "Tidak papa, sini duduk Sayang"


Zaina menghampiri suaminya dan segera duduk disampingnya. Menyimpan segelas teh yang di bawanya di atas meja. Lalu dia memeluk suaminya dengan menyandarkan kepalanya di dada Gevin.


"Kalau ada yang kamu pikirin, kamu bilang sama aku Mas. Jangan terus memendamnya sendiri" ucap Zaina, dia meraih tangan Gevin dan menggenggamnya dengan lembut.


Gevin tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala istrinya dan memberikan kecupan disana. "Aku tidak sedang memikirkan apapun kok, sekarang ini hanya sedang senang saja dengan kabar dari Dokter tadi. Akhirnya kita sudah bisa memulai program hamil ya"


Zaina mengangguk mendengar itu, dia mendongak untuk menatap wajah suaminya. Lalu tersenyum dengan sangat antusias. "Aku juga Mas, terlalu bahagia sampai bingung harus berkata apa di depan Dokter tadi. Semoga saja kita segera diberi kesempatan untuk bisa memiliki anak ya"


Gevin mengangguk, dia mengecup kening istrinya dengan lembut.Melihat Zaina yang begitu antusias dengan pembahasan ini, membuat Gevin tidak tega mempertanyakan tentang kegelisahannya saat ini. Tentang Zaina yang akan hamil lagi dan Gevin sangat takut jika nanti Zaina akan mengalami hal yang sama dengan kehamilan pertamanya waktu itu. Masih terlalu membekas sebuah trauma dalam diri Gevin kejadian satu tahun lalu.

__ADS_1


"Sayang, pokoknya kamu harus lebih jaga kesehatan lagi mulai sekarang" ucap Gevin.


Zaina mengangguk saja, dia melepas pelukannya dari suaminya dan mengambil segelas teh yang tadi dia bawa. Lalu meminumnya.


"Kamu mau Mas, aku bikin teh barusan. Atau mau aku buatkan minuman yang lain?" tanya Zaina.


Gevin menggeleng pelan, di atas meja sudah ada minuman kaleng yang dia bawa dari dapur tadi. "Aku sudah minum itu, jadi tidak usah"


Zaina mengangguk mengerti, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang. Membayangkan jika nanti dirinya sudah menjadi seorang Ibu, pastinya akan sangat membahagiakan. Zaina jadi tidak sabar untuk hal itu. Semoga saja dia bisa segera hamil dan memberikan keturunan untuk suaminya ini.


#######


Baiklah, sudah selesai beramain-mainnya dan menikmati waktu bersama. Sudah saat untuk maju ke langkah yang lebih serius lagi. Genara yang mulai memikirkan untuk sebuah masa depan. Tentunya tentang masa depan hubungannya dan Aldo yang harus segera melangkah ke maju ke jenjang pernikahan. Tapi dia masih belum berbicara langsung pada kekasihnya itu. Karena Aldo yang juga tidak pernah membahasnya.


"Kamu kenapa?"


Genara mengerjap kaget saat Aldo bertanya, dia tersenyum pada pria itu. "Tidak papa, hanya sedang memikirkan tentang masa depan kita saja"


Aldo tersenyum mendengar itu, dia menarik kursi di depan Genara lalu duduk disana. Sudah ada makanan dan juga minum di atas meja, Genara sudah memesannya untuk mereka berdua.


"Masa depan tidak perlu di pikirin. Nanti juga kita akan tetap lalui masa sekarang dan melangkah ke masa depan itu 'kan" ucap Aldo sambil terkekeh pelan.


Genara menghela nafas pelan, dia menatap Aldo dengan serius kali ini. Sungguh Genara sudah tidak bisa menahannya lagi sekarang. Dia harus tetap membicarakan tentang hal ini dengan Aldo.


"Kak, ku mau bicara sama Kakak" ucap Genara.

__ADS_1


Aldo yang sudah mencoba makanannya, menghiraukan begitu saja ucapan Genara barusan. "Bicaralah, kan memang kita sedang berbicara ini"


"Kak, aku serius! Ingin bicara dengan serius pada Kakak, tentang hubungan kita ini" tekan Genara, membuat Aldo langsung menghentikan makannya.


Aldo mendongak dan menatap Genara, kekasihnya itu begitu menatapnya dengan lekat. "Mau bicarakan apalagi? Hubungan kita baik-baik saja 'kan selama ini?"


Genara mengangguk, memang hubungan mereka berdua tidak pernah ada masalah untuk saat ini. Tapi rasanya masih terlalu bingung dan tidak ada tujuan akhir dari hubungan ini.


"Tapi kita tidak mungkin hanya begini-begini saja 'kan Kak? Apa Kakak tidak berniat untuk menikahiku?"


Aldo menghembuskan nafas pelan mendengar itu. Tentu saja dia sudah tahu apa maksud dari pembicaraan Genara kali ini. Tapi sungguh Aldo masih merasa belum siap untuk sebuah pernikahan.


"Kamu lihat aku sekarang Gen, jelas kamu tahu sendiri bagaimana pekerjaan aku yang tidak ada kemajuan. Aku hanya guru honorer yang gajinya tidak menentu. Jika aku menikah sekarang, aku tidak yakin bisa membiayai kamu dengan gajiku yang kecil ini"


Genara menghela nafas pelan, lagi-lagi soal kasta yang berbeda yang menjadi penghalang dalam hubungan mereka. Genara meraih tangan Aldo di atas meja dan menggenggamnya dengan lembut.


"Kak, aku kerja dan aku bisa untuk hidupi diriku sendiri. Kakak hanya perlu menghidupi kebutuhan Kakak saja"


Ucapan Genara yang dia anggap cukup baik dengan niat yang baik. Tapi justru malah membuat Aldo sedikit tersinggung. Dia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Genara.


"Aku tahu kalau kamu punya pekerjaan yang bagus, dan jika kekurangan pun kamu bisa minta pada orang tuamu dan Kakak kamu. Tapi aku tidak mau pernikahan yang seperti itu!"


Aldo langsung pergi begitu saja, takut jika emosinya tidak tertahankan lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2