Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Perubahan Hidup Genara


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, membuat Genara mulai terbiasa dan bisa kembali memulai harinya. Bisa sedikit-demi sedikit meninggalkan semua kenangan yang ada. Entah harus bagaimana, namun dirinya tetap menjalani hidup ini meski sedikit kesulitan dengan perasaan cinta yang tidak bisa di tahan. Cinta yang akhirnya hanya membuat dia terluka.


"Kerja hari ini, Gen?" tanya Ibu saat melihat anaknya yang baru saja keluar kamar dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Iya Bu, Gen berangkat dulu ya" ucap Genara, dia menghampiri Ibunya dan mencium tangannya.


"Yaudah, hati-hati kalau gitu. Kamu memang harus segera bekerja agar bisa menghibur diri kamu sendiri. Jangan terus memikirkan tentang hal yang tidak penting. Kamu harus bahagia" ucap Vania pada anaknya.


Genara mengangguk sambil tersenyum, sekarang malah dirinya sedang mencoba untuk melupakan semua yang telah terjadi, meski tidak yakin akan bisa dilupakan. Tapi hidup tetap harus berjalan apapun yang pernah terjadi.


"Aku pergi ya Bu"


Genara segera berangkat ke Kantor menggunakan mobilnya. Sekarang dia bisa mulai menjalani hari dengan tenang. Tanpa harus banyak berpikri. Genara harus bahagia untuk dirinya sendiri.


Dengan bekerja semua yang dia pikirkan sekarang lebih terasa tenang. Semua beban di pikirannya seolah menghilang begitu saja. Sangat bahagia sekarang, apalagi ketika banyak teman kerja yang selalu membuat kelucuan tersendiri. Hingga perlahan nama Aldo mulai hilang dan terhapus dari ingatan dan hatinya. Genara yang mulai bisa melupakan semuanya. Saat ini ketika dirinya yang harus kembali menjalani hidup tanpa mengingat masa menyakitkan yang telah terjadi.


"Jadi, sekarang kamu itu jomblo ya? Bagus tuh, kita semua sama-sama jomblo.  Nikmati saja dulu masa ini. Iya 'kan?"


Genara hanya tersenyum mendengar itu, memang sebenarnya hidup itu harus tetap dinikmati bagaimana pun prosesnya. Karena jika terus di pikirkan hanya akan menjadi kepikiran terus menerus dan malah membuat kita stres.


"Sebenarnya dulu aku punya pacar, aku sayang banget sama dia. Tapi sayang, ternyata cintanya selama ini  bukan untukku" ucap Genara sambil tersenyum, meski di balik senyuman itu terlalu banyak luka yang terpendam.


"Sudahlah, laki-laki memang seperti itu, jadi sekarang kita hanya perlu bahagia saja dengan hidup yang sedang kita jalani saat ini.  Jangan terlalu banyak memikirkan apa yang sudah berlalu dan apa yang akan terjadi di masa depan. Biarkan saja semuanya berlalu dan berjalan semestinya"


Genara tersenyum, lagi-lagi teman kerjanya yang baru dia kenal beberapa bulan ini memang selalu memberikan semangat dan motivasi yang bagus. Membuat Genara semakin semangat untuk melakukan hal ini.

__ADS_1


Dan kehidupan Genara perlahan berubah ketika dia mengenal dunia kerja yang sebenarnya. Dia yang mulai fokus dengan kariernya sendiri. Jadi tidak mau melakukan apapun lagi dan memikirkan hal tentang Aldo lagi. Genara hanya ingin bahagia dengan caranya sendiri. Entah sampai kapan akan seperti ini.


######


Malam ini Zaina terbangun saat perutnya terus berbunyi ingin segera di isi. Padahal ini adalah waktu tengah malam. Tapi entah kenapa sekarang malah dirinya yang lapar di waktu yang tidak tepat.


Zaina melirik suaminya yang masih terlelap, dia menggoyangkan tubuh suaminya agar terbangun. Rasa laparnya tidak bisa di tahan lagi sampai besok pagi. Benar-benar harus di isi malam ini juga.


"Mas, bangun dulu sebentar"


Gevin mengerjap pelan, sekarang dirinya malah kebingungan sendiri karena masih terlalu mengantuk. Bahkan matanya saja sangat sulit untuk terbuka. Membuat Zaina kesal saja.


"Sayang, ada apa?" tanya Gevin, masih dengan mata yang terpejam.


"Mas bangun ih, aku lapar" ucap Zaina, sambil terus menggoyangkan tubuh suaminya.


"Mau makan apa?" Akhirnya Gevin bangun, meski dengan matanya yang masih begitu mengantuk. Tapi dia tidak boleh sampai tidak menuruti keinginan istrinya ini, karena nantinya urusannya akan panjang.


"Nasi goreng, aku mau kamu buatkan aku nasi goreng ya" ucap Zaina sambil tersenyum manis pada suaminya. 


"Sayang, minta sama Mbak saja ya. Kan aku tidak terlalu pandai memasak, kalau sampai tidak enak bagaimana?" ucap Gevin, dia mengelus kepala istrinya itu dengan lembut.


Zaina menggeleng cepat. "Tidak mau, aku maunya nasi goreng buatan kamu"


Dan Gevin hanya bisa menghela nafas dan menuruti keinginan istrinya ini. Karena pastinya Zaina akan marah dan kesal padanya. "Yaudah, aku akan membuatkan nasi goreng untuk kamu. Sekarang kita ke dapur"

__ADS_1


Zaina mengangguk dengan antusias. Tentu saja dia sangat antusias dengan semua ini. Sangat ingin segera merasakan masakan suaminya yang menuruti dia sangat enak dan menjadi makanan favoritnya sejak hamil. Selalu ada saja yang diinginkan Zaina untuk masakan yang dibuat suaminya.


"Kamu tunggu disini, aku akan buatkan nasi goreng keinginan kamu itu" ucap Gevin sambil menarikan kursi meja makan untuk istrinya duduk.


"Iya Mas, makasih ya sudah mau menuruti semua keinginan aku" ucap Zaina.


Inilah yang membuat Gevin tidak pernah mengeluh dengan segala keinginan istrinya ini. Karena setiap Gevin memberikan apa yang dia inginkan maka ucapan terima kasih dan ucapan cinta tidak pernah terlewat dari istrinya itu. Sejatinya Zaina adalah sosok istri yang selalu menghargai apapun yang diberikan oleh suaminya.


"Iya Sayang, semua ini juga demi anak kita"


Dan Gevin mulai memakai apron dan dia mulai menyiapkan semuanya. Menyiapkan bahan-bahan untuk nasi goreng yang akan dia buat untuk istrinya itu. Gevin memang tidak terlalu mahir dalam hal memasak, tapi dia juga cukup bisa, meski rasanya mungkin tidak terlalu enak.


Zaina hanya duduk diam sambil menatap punggung suaminya yang sedang menyiapkan masakannya. Rasanya Zaina memang sangat beruntung bisa mempunyai suami seperti Gevin. Dimana dia yang tidak pernah mengeluh dengan segala keinginannya itu.


"Nih Sayang, semoga enak ya. Semoga tidak keasinan lagi seperti waktu itu" ucap Gevin yang menaruh sepiring nasi goreng di depan Zaina.


Zaina menatap penuh antusias piring di depannya yang berisi nasi goreng itu. Langsung dia mengambil sendok dan mencoba masakan  suaminya itu.


"Hati-hati masih panas" ucap Gevin.


Zaina mengangguk dan dia meniup-niup pelan sesendok nasi goreng itu sebelum dia memakannya. Dan sekarang bersyukurnya bisa mengobati rasa laparnya malam ini.


"Enak Mas, aku suka nasi gorengnya. Makasih ya sudah buatkan nasi goreng buat aku. AKhir-akhir ini memang aku sering banget lapar. Porsi makan aku juga banyak, gimana ya kalau sampai aku gendut" ucap Zaina dengan wajah cemberut. Membayangkan jika nanti dirinya yang gemuk.


"Jangan mikir yang aneh-aneh, yang penting kamu dan bayi kamu sehat. Jadi gak perlu memikirkan hal lain. Kalau lapar ya makan" ucap Gevin.

__ADS_1


Zaina mengangguk saja dan melanjutkan makannya. Membuat Gevin menggeleng pelan dengan tingkah istrinya itu.


Bersambung


__ADS_2