Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Bukan Kecelakaan Biasa


__ADS_3

"Kecelakaan Gevin ini memang kecelakaan tunggal. Tapi polisi menemukan kabel rem yang sepertinya sengaja di potong. Jadi dia mengendarai mobil dalam keadaan rem yang blong"


Begitulah yang dibicarakan oleh suaminya itu, membuat Vania sekarang terus kepikiran. Siapa yang berniat mencelakai Gevin, padahal dirinya merasa jika Gevin tidak pernah memiliki seseorang yang menjadi musuhnya.


"Sekarang kita harus hati-hati, karena kita masih belum tahu siapa yang telah melakukan itu padanya" ucap Gara.


Vania hanya mengangguk, meski dia sekarang merasa tidak tenang karena mengetahui ada yang berniat jahat pada keluarganya ini.


"Pa, sebaiknya Papa pergi bekerja selalu bersama dengan Genara. Ibu takut kalau sampai Genara juga kenapa-napa" ucap Vania.


Gara mengangguk, dia juga berpikiran hal yang sama. Bagaimana hal ini sudah terjadi pada anak pertamanya, maka sekarang dia juga harus menjaga anak keduanya dengan begitu ketat. Takut jika orang yang sudah membuat Gevin celaka ini masih mengincar keluarganya ini.


"Baiklah Sayang, kalau begitu kamu kembali ke ruangan Gevin dan jaga dia. Zaina juga pasti sudah sangat lemah dan membutuhkan dukungan kamu. Aku juga sudah memberi kabar pada keluarga Jenny dan Hildan" ucap Gara.


Vania mengangguk, setelah pembicaraan selesai. Vania kembali ke ruangan Gevin, ketika dia sampai disana ternyata ada Aldo bersama Genara yang sengaja datang untuk menjenguk Gevin.


"Loh ada kalian ternyata" ucap Vania.


Aldo langsung menghampirinya dan menyalami Ibu dari kekasihnya itu. "Iya Bu, ingin melihat keadaan Kak Gevin. Ternyata cukup parah juga ya kecelakaannya"


Vania mengangguk, dia melirik ke ranjang pasien dimana menantunya yang masih menunggunya disana. Selalu setia menunggu suaminya yang sedang terbaring lemah.


"Iya, Ibu juga tidak menyangka akan separah ini. Tapi masih bersyukur karena sekarang Gevin sudah sadarkan diri" ucap Vania.


Aldo mengangguk, dia menatap Gevin dengan prihatin. "Semoga Kak Gevin segera pulih dan bisa pulang ke rumah"

__ADS_1


Vania mengangguk, dia duduk di sofa tunggal yang ada disana. "Gen, mulai besok kalau mau pergi sama supir. Kalau bekerja juga bareng sama Papa saja, jangan bawa mobil sendiri"


Genara langsung menatap ke arah Ibunya dengan bingung. "Loh kenapa Bu? Tenang saja Bu, aku juga akan tetap hati-hati kok. Aku tidak akan membuat Ibu dan Papa khawatir"


"Ya, kalau memang kamu tidak mau membuat kami khawatir, turuti saja" ucap Vania dengan sedikit menekan.


Genara cemberut mendengar ucapan Ibu barusan, tentu saja dirinya tidak biasa pergi dengan menggunakan supir ketika dia sudah bisa membawa mobil sendiri. 


Aldo yang melihat kekasihnya cemberut itu langsung mengelus kepalanya dengan lembut. "Turuti dulu ucapan Ibu, ini juga pastinya untuk kebaikan kamu"


"Tapi Ibu itu hanya khawatir kejadian yang menimpa Kakak ini terjadi lagi padaku. Padahal 'kan aku selalu hati-hati untuk mengendarai mobil" ucap Genara dengan cemberut.


"Kalau kamu mengerti bagaimana perasaan kami sebagai orang tua, kamu juga akan melakukan hal yang sama, Gen. Ibu mohon untuk sementara ini kamu jangan mengendarai mobil sendiri dulu" ucap Vania.


Genara juga tidak bisa melakukan apapun, jadi dia hanya mengangguk dan menuruti saja. Tidak mau juga kalau sampai membuat Ibunya sedih dan khawatir karena Genara yang tidak mau menuruti ucapannya.


Genara hanya mengangguk saja, dia menyandarkan kepalanya di bahu Aldo dengan merangkul tangan kekasihnya itu.


#########


Dua minggu berlalu, selama itu juga Gevin di rawat di rumah sakit untuk masa pemulihannya. Jenny dan Hildan beberapa kali datang dan menginap. Zaina juga tetap menjaganya untuk membuat suaminya segera pulih. Gifs di leher Gevin juga sudah di lepas, dia juga sudah bisa berbicara dengan normal. Meski tangannya yang masih belum pulih. Beruntung karena Gevin tidak mengalami cedera parah di kaki. Jadi kalinya itu baik-baik saja.


"Makan dulu Mas, sebentar lagi waktunya minum obat"


Dengan lembut Zaina menyuapi suaminya, memberikan perhatiannya yang begitu besar pada Gevin. Membuat suaminya itu begitu terharu dengan perhatian yang diberikan istrinya.

__ADS_1


"Terima kasih ya Sayang, karena kamu sudah merawat aku selama ini" ucap Gevin.


Zaina tersenyum, dia mengusap sisa bubur yang tertempel di sudut bibir Gevin. "Karena seorang istri memang harus siap menjaga suaminya di saat dia sedang sakit. Bukan hanya menjaga disaat senang dan sehat saja"


Mendengar itu membuat Gevin tersenyum dan sangat bersykur karena dirinya bisa mendapatkan istri seperti Zaina. "Aku memang beruntung bisa mendapatkan kamu Sayang"


Zaina tersenyum saja, dia kembali menyuapi Gevin.  Hingga beberapa saat kemudian, Papa datang bersama dengan Hildan yang masih berada disini bersama dengan Jenny juga.


"Vin, apa yang kamu ingat selain saat kecelakaan itu. Apa kamu pernah berselisih faham dengan seseorang sebelumnya?" Tanya Hildan.


Gevin terdiam, berpikir dan mencoba mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi malam itu dan sebelumnya juga. "Tidak ada yang terjadi, aku juga tidak merasa berselisih faham dengan siapapun. Memangnya kenapa Dad?"


Sampai saat ini Gevin masih belum tahu jika kecelakaan yang di alaminya itu tidak murni kecelakaan biasa. Sebenarnya Zaina juga masih belum di beri tahu tentang hal ini. Yang diberi tahu saat ini baru Vania dan Jenny.


"Jadi gini, sebenarnya kecelakaan yang kamu alami ini bukan sepenuhnya murni kecelakaan biasa. Ada motif lain, polisi menemukan kabel rem mobil kamu di potong dengan sengaja. Dan sekarang kami sedang mencari pelakunya" jelas Hildan.


Gevin dan Zaina tentu saja sangat terkejut mendengar ucapan Hildan barusan. Gevin yang mengalami kecelakaan ini saja tidak sampai berpikir jika ada motif lain dari kecelakaan yang terjadi. Tapi ternyata memang ada motif lain dari kecelakaannya ini yang memang sepertinya disengaja.


"Dad, di dasboard mobil aku ada kamera kecil yang di pasang oleh Zaina waktu itu" ucap Gevin.


Zaina mengangguk cepat, dia juga baru ingat tentang hal itu. Memang dirinya yang sengaja memasang kamera di dasboard mobil suaminya hanya untuk iseng saja. Waktu itu dia mengancam suaminya agar tidak melakukan hal macam-macam karena ada kamera yang akan mengawasinya. Eh, tidak menyangka jika hal ini malah bisa membantu untuk saat ini.


"Bagus, kita akan cari dan lapor pada pihak kepolisian. Siapa tahu memang ada bukti yang kuat disana dan kita bisa melihat siapa pelakunya" ucap Papa Gara dengan antusias, merasa telah ada celah untuk menemukan pelaku yang sebenarnya.


"Kalau begitu jangan menunda waktu lagi, ayo segera kita pergi sekarang" ucap Hildan yang di angguki Gara. Mereka pun langsung pergi darisana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2