Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Zaina Yang Mengerti Perasaan Genara


__ADS_3

Hingga pagi ini ketika Genara terbangun, dia merasa suasana hatinya yang begitu baik. Selesai mandi, dirinya langsung ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan keluarganya. Kebetulan sekali keluarga Zaina juga belum pada pulang.


"Selamat pagi semuanya" ucap Genara dengan senyum yang cerah pagi ini.


"Wah, ada apa nih? Tumben kamu terlihat sangat ceria pagi ini" ucap Gevin, yang merasa aneh dengan sikap Genara pagi ini.


Genara menarik kursi dan duduk disana, tersenyum saja pada Kakaknya tanpa mau menjawab ucapan Kakaknya itu. Sampai ketika Ibu dan Bunda datang, melihat sikap Genara yang sedikit aneh pagi ini mereka hanya tersenyum saja karena tahu apa yang membuat Genara sampai sesenang saat ini.


"Semalam ada Aldo datang kesini Za, katanya ingin bertemu dengan kamu dan mengucapkan duka cita" ucap Vania pada menantunya itu.


Gevin yang langsung menoleh dan menatap pada Vania. Merasa tidak suka ketika dia mendengar nama pria yang pernah dekat dengan istrinya itu. Sementara Zaina hanya diam saja dengan senyum tipis.


"Sayang banget ya karena Zaina sudah tidur. Padahal Za juga ingin bertemu dengannya. Sudah lama juga" ucap Zaina, tidak sadar dengan tatapan tajam suaminya.


"Jangan bilang kayak gitu Kak, lihat tuh orang disamping Kakak sudah melotot aja" ucap Genara sambil tertawa.


Zaina menoleh dan hanya tersenyum masam melihat tatapan tidak suka dari suaminya itu.


Dan Zaina malah menghubungi Aldo agar dia datang kembali ke rumah ini, untuk bertemu dengannya karena kemarin malam belum sempat bertemu. Gevin sudah ngomel-ngomel tidak jelas dengan istrinya itu. Tentu saja dia cemburu dengan apa yang dilakukan oleh Zaina barusan.


"NGapain harus di hubungi lagi? Kamu pengen banget ketemu sama dia?" kesal Gevin.


Zaina hanya tersenyum mendengar itu, tentu saja dia tidak bermaksud seperti itu. Zaina tersenyum lucu melihat wajah suaminya yang kesal. Dia menghampirinya dan duduk di samping suaminya itu.

__ADS_1


"Mas, dia itu teman aku dan dia juga baik banget sama aku. Saat aku pertama kali masuk ngajar di sekolah, dia juga yang banyak membantu aku. Lagian kamu ini kenapa si, kalau cemburu itu ya lihat-lihat dong Mas. Aku saja tidak mempunyai perasaan apapun sama Aldo, karena semua perasaan aku memang sudah untuk kamu" ucap Zaina.


Gevin masih saja cemberut, rasa takut kehilangan Zaina memang sangat besar. Karena dirinya pernah hampir kehilangan istrinya itu. Gevin tidak tahu sejak kapan perasaannya pada Zaina ini tumbuh begitu besar.


"Sayang, pokoknya aku tidak suka saja kamu berdekatan dengan pria lain. Lagian kamu jangan percaya gitu aja kalau dia tidak menyukaimu. Dia baik sama kamu, mungkin karena memang dia menyimpan perasaan lebih padamu. Kebanyakan pria memang seperti itu"


Zaina meraih tangan suaminya, mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Mas, aku tidak bisa menahan orang-orang untuk suka sama aku. Tapi yang terpenting sekarang adalah ketika aku yang memang hanya mencintaimu dan hanya ada kamu dalam hatiku"


Gevin tersenyum mendengar itu, hatinya selalu menghangat ketika dia bisa merasakan bagaimana istrinya yang begitu mencintainya dengan tulus.


"Terima kasih Sayang, karena kamu sudah memberikan aku kebahagiaan ini. Semoga kedepannya kita akan selalu bahagia seperti ini" ucap Gevin.


Zaina mengangguk, dia juga berharap seperti itu. Sangat berharap jika pernikahan ini yang awalnya hanya sebuah sandiwara pernikahan, akan terus menjadi sebuah pernikahan yang harmonis dan bahagia.


Dan siang ini Aldo benar-benar datang atas undangan dari Zaina yang tidak bisa dia tolak. Jadi Aldo memilih untuk tetap datang meski dirinya sangat malu untuk kembali datang ke rumah orang kaya ini.


"Za, maaf ya baru bisa bertemu sama kamu. Turut berduka cita atas meninggalnya anak kalian. AKu yakin nanti kamu juga akan cepat hamil lagi dan segera mempunyai anak lagi" ucap Aldo pada Zaina.


Zaina tersenyum, dia marangkul lengan suaminya karena tidak mau jika Gevin akan kembali marah dan cemburu hanya karena Zaina berbicara dengan Aldo. "Tidak papa Al, kamu sudah datang kesini saja aku sudah senang. Makasih ya sudah menyempatkan datang dan makasih juga atas do'a kamu"


Aldo mengangguk, dia menatap Gevin yang sejak tadi begitu lengket pada Zaina. Aldo tersenyum tipis karena dia merasa jika Zaina saat ini sudah menemukan kebehagaiannya. Merasa jika suaminya itu memang sudah benar-benar mencintainya dan begitu menyayanginya. Aldo bersyukur dengan itu.


"Yaudah, sekarang ayo kita makan siang dulu" ucap Vania yang baru selesai menyiapkan makan siang untuk keluarganya ini.

__ADS_1


Dan Genara yang sedang membantu Jenny untuk menyiapkan makan siang di atas meja, langsung terdiam saat dia melihat Aldo yang kembali datang. Hatinya berdebar senang. Ah, Genara benar-benar tidak bisa menahan perasaannya saat ini.


Saat makan siang berlangsung, Genara terus mencuri pandang pada Aldo. Dan apa yang dia lakukan itu ternyata di sadari oleh Zaina. Membuat Zaina tersenyum, dia ingat jika Genara memang pernah bertanya tentang Aldo saat dulu dia mengantarnya untuk mengantarkan surat pengunduran diri ke sekolah tempat dirinya mengajar.


Akhirnya setelah selesai makan siang, Zaina bisa lebih bebas mengobrol bersama dengan Aldo, karena suaminya yang terpaksa harus pergi ke Kantor untuk pekerjaan yang sudah di jadwalkan sebelumnya untuk hari ini. Jadi tidak bisa di undur lagi.


"Awas ya, jangan karena aku tidak ada di rumah, kamu jadi bebas dekat-dekat dengan dia. Jangan mencoba kamu untuk dekat-dekat dengannya. Aku tidak suka"


Peringatan yang Gevin berikan padanya sebelum dia berangkat ke Kantor. Dan Zaina hanya mengangguk saja tanpa membantah apapun. Zaina hanya tidak mau sampai suaminya marah karena api cemburu.


Dan siang ini, mereka sedang duduk di bangku taman belakang rumah ini. Sengaja Zaina juga mengajak Genara untuk ikut bergabung dengannya. Selain agar nanti suaminya tidak salah faham, Zaina juga ingin melihat Genara dan Aldo yang bisa lebih dekat lagi.


"Oh ya Al, ini Genara, adiknya Mas Gevin" ucap Zaina, mulai memperkenalkan Genara.


Aldo mengangguk, dia mengulurkan tangannya pada Genara, sebenarnya kemarin dia juga sudah melihat gadis ini. Namun tidak tahu namanya.


"Hai Genara, aku Aldo"


Dengan sedikit malu-malu, Genara menerima uluran tangan dari Aldo itu. Dia menatap pria tampan itu dengan tatapan yang benar-benar kagum. "Genara Kak, salam kenal"


Zaina rasanya ingin tertawa melihat Genara yang terlihat sekali jika dia itu memang menyukai Aldo. Sama seperti dirinya pada Gevin pada saat itu. Bagaimana dia yang mencintai Gevin, namun tidak bisa mengungkapkan perasaannya.


"Eh, aku lupa mau minum obat dulu. Udah kelewat lagi, Kalian duduk saja dulu. Aku mau minum obat dulu" ucap Zaina yang langsung berlalu pergi darisana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2