
Zaina keluar dari ruang ganti setelah dia bersiap dengan secepat kilat karena waktu yang sudah mepet. Zaina menatap suaminya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Zaina duduk di depan meja rias untuk merias wajahnya dan merapikan rambutnya.
"Mas kok belum berangkat?"
Gevin menoleh pada Zaina yang sedan memoleskan lipcream di bibirnya. "Kau mau kemana? Bukannya sedang sakit?"
Zaina menatap suaminya di balik pantulan cermin di depannya. Tangannya masih sibuk mengikat rambutnya. "Aku sudah tidak papa, jadi bisa berangkat ngajar kok"
"Untuk menemui pria itu? Pria yang di taman waktu itu?"
Zaina menghela nafas pelan, karena suaminya masih saja membahas tentang hal yang sebenarnya sudah lama terjadi. Zaina berdiri dan menghampiri suaminya itu.
"Mas kenapa si kamu harus terus membahas hal udah terjadi. Aku saja tidak pernah membahas tentang kamu yang bahkan sekarang sudah menikah dengan wanita yang menjadi cinta pertamamu itu"
Gevin berdiri, dia menatap Zaina dengan wajah yang benar-benar menahan amarah. "Aku menikahinya juga karena kamu yang memintanya. Kalaupun kamu tidak meminta aku untuk menikahinya, aku juga tidak akan menikah dengannya"
"Tapi kamu sendiri yang bilang kalau seandainya kamu bertemu lebih dulu dengan Lolyta, maka yang akan kamu nikahi adalah dia. Kamu menyesal menikah denganku, Mas?" tanya Zaina dengan setengah berteriak
"Tidak! Aku tidak menyesal menikah denganmu. Tapi pastinya kau yang menyesal karena sekarang tidak bisa bebas bersama dengan pria yang kamu cintai itu. Aku kira kamu wanita baik yang mengerti tentang sikap seorang istri seharusnya bagaimana. Tapi ternyata, kamu malah pergi bersama dengan pria yang kamu cintai itu setelah kamu mempunyai suami"
"CUKUP MAS!" teriak Zaina dengan air mata yang sudah menetes begitu saja. Dia menatap Gevin dengan lekat. "...Kamu mau tahu siapa pria yang aku cintai selama bertahun-tahun itu?"
Zaina berjalan ke ruang ganti dan membawa sebuah buku yang dia simpan dengan rapat di laci lemari yang selalu dia kunci setiap harinya. Zaina kembali ke hadapan Gevin dengan memberikan buku itu pada suaminya.
"Kamu akan tahu siapa pria yang aku cintai selama ini di dalam buku ini, Mas. Aku pergi dulu"
Zaina mengambil tas dan segera keluar dari kamar dengan mengusap sisa air mata di pipinya.
"Za, kenapa?"
Zaina menatap ke arah Lolyta yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Dia mencoba untuk tersenyum. "Tidak papa Ly, aku berangkat ke sekolah dulu ya"
__ADS_1
Lolyta hanya mengangguk saja, dia sempat mendengar suara Zaina yang cukup keras di dalam kamar. Dan yang membuat Lolyta merasa tidak nyaman karena dirinya yang sekarang ternyata menjadi pemicu pertengkaran diantara Zaina dan Gevin.
Sementara di dalam kamar, Gevin masih memegang buku yang di berikan Zaina. Merasa bingung kenapa Zaina malah memberikan buku itu padanya, namun dia merasa penasaran hingga dia duduk di sofa dan mulai membuka buku itu. Halaman pertama adalah cerita Zaina ketika dia masuk sekolah menengah atas. Gevin tersenyum sendiri dengan cerita lucu yang di alami istrinya ini.
Lembar kedua tentang Zaina yang mendapatkan surat cinta dari penggemar rahasianya di sekolah. Gevin mentutup buku itu dan menyimpannya di bawah meja, dia harus bekerja dulu sekarang dan akan kembali membacanya nanti.
"Mungkinkah pria yang memberinya surat cinta itu yang dicintai Zaina hingga sekarang?"
Masih menjadi pertanyaan dalam diri Gevin tentang pria yang dicintai istrinya hingga saat ini. Gevin benar-benar penasaran siapa pria itu.
#######
Sore ini Zaina selesai mengajar di sekolah keduanya. Dia merasa tubuhnya mulai lemas, mungkin karena dia yang sebenarnya belum benar-benar sembuh. Namun tetap memaksakan diri untuk berangkat ke sekolah.
"Sayang.."
Zaina mendongak dan dia melihat suaminya yang sudah menunggunya di depan gerbang dan mobilnya yang terpakir disana. Zaina segera menghampiri suaminya itu.
"Mas kamu kok tumben jemput aku?" tanya Zaina, karena di saat Zaina berharap Gevin akan menjemputnya lagi, tapi Gevin tidak datang.
Zaina hanya tersenyum lemah mendengar itu. Lalu menjatuhkan kepalanya di dada Gevin, memeluknya dengan erat. Mengobati kemarahan tadi pagi diantara mereka.
"Masuk yuk, badan kamu hangat lagi nih. Masih belum benar-benar sembuh juga"
Gevin membantu Zaina untuk masuk ke dalam mobil, lalu dia pun segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya itu.
"Mas, kamu sudah pulang kerja jam segini? Biasanya sore banget, kadang malam bahkan"
"Iya, lagi gak banyak kerjaan hari ini. Jadi aku bisa pulang lebih cepat"
Zaina mengangguk mengerti, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Memejamkan matanya untuk menghilangkan sedikit rasa pusing yang dia alami ini.
__ADS_1
"Sayang, kamu pusing lagi 'kan? Kita mampir ke rumah sakit ya untuk periksa keadaan kamu?"
Zaina menggeleng, masih dengan kepala bersandar. "Kemarin 'kan sudah di periksa sama Dokter juga. Ini hanya masuk angin dan demam saja, nanti juga akan sembuh"
Gevin hanya menghela nafas pelan dengan penolakan Zaina. Istrinya itu memang sedikit keras kepala. "Yaudah, tapi besok cuti dulu kerjanya, kalau mau cepat sembuh"
"Iya Mas, aku udah ambil cuti kok tadi"
Ketika mereka sudah sampai di Apartemen, mereka harus di kejutkan dengan kehadiran Jenny dan Vania disana. Bukan mereka yang membuat terkejut, tapi Lolyta yang juga ada disana. Tatapan Jenny dan Vania benar-benar penuh tanya pada Gevin dan Zaina yang baru saja sampai.
"Bunda, Ibu kapan kalian datang? Kok mau kesini tidak bilang-bilang" Zaina langsung menghampiri mereka dan menyalaminya.
"Zaina, boleh Bunda bicara sebentar dengan kamu. Kita ke kamar kamu yuk"
Zaina menatap suaminya, namun dia juga tidak bisa menolak permintaan Bundanya ini. Jadi dia hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan Bundanya itu.
"Kalau begitu saya permisi ke kamar dulu" ucap Lolyta yang mulai mengerti keadaan. Pastinya Jenny dan Vania ingin berbicara dengan kedua anaknya tentang keberadaan Lolyta di Apartemen mereka ini.
Zaina membawa masuk Bundanya ke dalam kamar. Duduk berdampingan di sofa, sebenarnya Zaina mulai tahu apa yang akan dibicarakan oleh Bundanya itu.
"Jadi, apa yang sebenarnya telah terjadi, Nak?" tanya Jenny dengan lembut
Zaina menunduk diam, dia paling tidak bisa berbicara bohong pada Bundanya, apalagi sekarang Jenny berada di depannya.
"Tidak ada apa-apa Bunda" lirih Zaina, masih mencoba untuk menutupi kebenaran yang terjadi.
Jenny meraih tangan putrinya dan menggenggamnya dengan lembut. "Yakin tidak ada yang mau kamu ceritakan sama Bunda? Bunda akan sedih loh kalau sampai Zaina berani berbohong pada Bunda. Siapa Lolyta Nak, dan kenapa dia bisa tinggal disini bersama kalian?"
Zaina benar-benar menundukan wajahnya, tidak berani menatap Bundanya ketika sadar dirinya sedang mencoba berbohong pada Bundanya.
"Dia adalah cinta pertama Mas Gevin, Bunda"
__ADS_1
Akhirnya Zaina benar-benar tidak bisa lagi menutupi semuanya.
Bersambung