Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Persiapan Maternity Shoot


__ADS_3

Zaina meraih tangan suaminya dan mengecupnya dengan lembut. Tidak ingin Gevin khawatir dengan keadaannya. "Tidak papa Mas, aku hanya kebangun saja. Tapi males ngapa-ngapain. Kamu segera mandi sana, kan mau bekerja"


"Aku kerja minggu ini yang terakhir, nanti mau fokus saja menjaga kamu di rumah. Kehamilan kamu juga sudah besar" ucap Gevin sambil mengelus perut istrinya.


"Loh Mas, bukannya kamu masih harus bekerja ya. Lagian kandungan aku juga baru jalan 8 bulan. Masih lama ke waktu melahirkan" ucap Zaina


"Tidak papa, aku hanya ingin mempunyai banyak waktu bersamamu dan momen ketika kamu hamil anak pertama kita ini"


"Oh ya, bagaimana kalau kita foro maternity shoot saja. Jadi ada kenangan saat aku hamil anak pertama" usul Zaina dengan antusias. Dia juga ingin mengabadikan momen dirinya yang sedang hamil besar seperti ini.


Gevin sedikit berpikir, lalu dia tersenyum sambil mengelus kepala istrinya. "Nanti aku siapkan ya, memang sepertinya kita harus mengabadikan momen ini"


Zaina tersenyum dengan antusias, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan nyaman. "Aku tidak sabar untuk segera melahirkan anak kita ini, Mas"


Gevin mengangguk, dia memeluk istrinya dan memberikan kecupan di puncak kepala istrinya itu. Setidaknya memang dia harus membuat perasaan istrinya ini baik dan tetap bahagia.


Pagi ini ketika Hildan datang untuk menjemput istrinya. Dia harus mendapatkan kabar tidak baik dari istrinya itu. Hildan langsung menemui putrinya dan memeluknya. Jenny yang melihat itu langsung memberi kode pada Hildan agar tidak terlalu menunjukan kekhawatirannya pada Zaina. Takutnya dia tahu tentang keadaannya dan akhirnya akan semakin kepikiran dan mengganggu kesehatannya dan juga bayinya.


Zaina juga cukup terkejut dengan sikap Ayahnya ini. Padahal saat pertama kali dia datang tadi, Hildan tidak sampai memeluknya. Malah memeluk Bundanya, tapi Zaina merasa tidak heran karena tahu bagaimana Ayahnya yang begitu tidak bisa jauh dari Bundanya.


"Kenapa, Dad?" Tanya Zaina bingung


Hildan langsung melepaskan pelukannya, sedikit mengusap ujung matanya yang berair. Tidak mau sampai anaknya melihat kesedihannya. "Tidak papa, hanya rindu saja dengan Zaina. Masih tidak menyangka kalau putri kecil Daddy sudah mau menjadi seorang Ibu sekarang"

__ADS_1


Zaina tersenyum mendengar itu, kemarin-kemarin Bundanya juga berbicara hal yang sama. Memang ya, seorang anak akan tetap terlihat sebagai anak kecil di mata orang tuanya, sebesar apapun dia sekarang. Mungkin pepatah itu memang benar adanya.


Zaina kembali memeluk Ayahnya, menyandarkan kepalanya di dada Hildan dengan nyaman. "Kakak juga rindu sekali dengan Daddy"


Jenny menghela nafas pelan ketika dia melihat suaminya yang bisa menahan diri untuk tidak terlalu menunjukan kekhawatirannya pada Zaina.


" Sebaiknya istirahat dulu, Mas. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh" ucap Jenny pada suaminya.


Hildan mengangguk, dia mengikuti Jenny ke kamar tamu yang di tempatinya. Masuk ke dalam kamar, Hildan langsung duduk di pinggir tempat tidur dengan mengusap wajahnya frustasi.


"Sabar Mas, aku juga terkejut saat mendengar ucapan Gevin kemarin. Sekarang kita hanya bisa berdo'a supaya anak kita dan calon bayinya baik-baik saja" ucap Jenny yang duduk di samping Hildan dengan mengusap punggung suaminya itu.


Hildan menarik istrinya ke dalam pelukannya. Jujur saja saat ini dia sedang benar-benar merasa kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Hildan yang sangat tidak bisa membayangkan jika anaknya harus terluka dengan keadaan ini. Hanya bisa berharap jika semuanya akan baik-baik saja.


#######


Gevin menginginkan tempatnya di rumah saja, jadi Genara di bantu dengan Ibu dan Bunda untuk merubah ruang tengah rumah ini sebagai tempat untuk maternity shoot itu. Zaina tampak begitu senang karena dirinya akan mempunyai kenangan yang indah untuk kehamilan pertamanya ini.


"Biar aku bantu, Gen"


"Tidak perlu Kak, biar Bunda saja. Kamu diam saja" ucap Jenny yang langsung mengambil alih apa yang mau di kerjakan oleh Zaina.


Zaina hanya menghela nas pelan, semua orang rasanya langsung bersikap seperti ini. Ketika dia ingin mengerjakan satu hal yang ringan saja, tapi selalu saja berakhir dengan seperti ini. Zaina yang tidak mengerti kenapa mereka memperlakukan dia seolah dirinya tidak boleh mengerjakan banyak hal. Padahal Zaina merasa jika dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Akhirnya Zaina hanya duduk diam di atas sofa dan melihat semuanya yang sedang menyiapkan untuk maternity Shoot itu. Tersenyum sambil mengelus perutnya. Senang sekali karena dirinya bisa melakukan hal ini di kehamilan pertama yang pastinya akan sangat berkesan.


"Nanti kamu akan lihat foto Mama saat hamil kamu, Nak kalau nanti kamu sudah besar" ucap Zaina pada bayi di dalam perutnya.


Setelah semuanya selesai, Genara, Ibu dan Bunda langsung duduk di atas lantai. Mengusap peluh yang mebasahi keningnya, tapi mereka terlihat puas dengan hasil karya mereka ini. Merasa puas dengan kerja tangan mereka itu.


"Akhirnya beres juga, bagus banget ya" ucap Genara dengan menatap puas hasil kerjanya ini.


"Kalian kenapa tidak suruh orang saja untuk melakukan ini?" tanya Zaina, merasa heran karena mereka mau mengerjakan ini seorang diri. Padahal mereka bisa saja untuk menyuruh orang untuk melakukannya.


Jenny menoleh dan tersenyum pada anaknya itu. "Karena memang kami ingin hasil karya kami yang nanti akan ada di foto maternity kamu"


Zaina tersenyum penuh haru mendengar itu, karena dirinya merasa jika semua orang begitu menyambut dengan bahagia kelahiran anak pertamanya ini.


"Terima kasih ya, karena kalian sudah mau di repotkan sama aku dan Mas Gevin" ucap Zaina


"Santai saja, Kak. Lagian aku di bayar kok sama Kak Gevin. Haha" ucap Genara dengan tawa renyahnya.


Vania langsung menoyor pelan kepala anak perempuannya ini. "Kamu ini, memang tidak mau ya kalau bekerja sendiri tanpa di bayar sama Kakak kamu itu"


"Ya enggak dong Bu, punya Kakak kaya itu harus di manfaakan" ucapnya sambil terkekeh.


Vania hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Bersyukur saja karena kedua anaknya ini hidup dengan akur dan saling menyayangi. Meski tidak jarang juga mereka yang sering ribut.

__ADS_1


Ketika malam hari Gevin pulang, dia tersenyum sendiri melihat ruang tengah yang sudah di sulap menjadi studio foto dadakan ini. Dia menghampiri Ibu dan mertuanya untuk mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya menyiapkan maternity ini. Meski sebenarnya Gevin sudah akan menyuruh seseorang saja, tapi Ibu dan Bunda malah melarangnya karena mereka bersedia untuk menyiapkan hal ini.


Bersambung


__ADS_2