
Entah apa yang membuat Zaina memilih untuk datang ke tempat ini setelah dia pulang bekerja. Zaina tidak tahu kenapa hatinya mendorong dia untuk datang ke rumah sakit tempat Lolyta di rawat. Namun lagi-lagi dia harus melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Gevin yang berada di ruangan Lolyta sedang menyuapinya makan. Gevin terlihat sangat perhatian terhadap mantan kekasihnya itu.
Salah aku juga, kenapa harus datang kesini. Sudah pasti akan mendapatkan kekecewaan.
"Gevin, aku masih mencintaimu.."
Ketika Zaina baru saja ingin melangkah pergi dari depan ruang rawat Lolyta, namun dia harus mendengar ungkapan itu dari Lolyta.
Zaina mendekatkan tubuhnya ke pintu, menatap dari kaca transparan yang ada di pintu itu. Ingin melihat bagaimana reaksi suaminya dengan ungkapan cinta dari mantan kekasihnya itu.
"Sebenarnya kita belum berakhir 'kan, Gevin? Kamu belum memutuskan hubungan di antara kita. Jadi jangan meninggalkan aku, saat ini aku benar-benar membutuhkan kamu Gevin"
Gevin terdiam mendengar ucapan Lolyta itu, memang benar jika mereka belum pernah mengatakan putus dalam hubungan yang mereka jalin selama ini. Sampai akhirnya Lolyta yang memutuskan untuk pergi begitu saja dan menghilang dari kehidupan Gevin.
"Kamu sembuh saja dulu Ly, jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal seperti itu"
Di depan ruangan itu, Zaina benar-benar kecewa dengan suaminya. Gevin sama sekali tidak menolak dan menjelaskan semuanya pada Lolyta. Gevin yang malah menerima begitu saja ucapan Lolyta tanpa membuat bantahan sedikit pun. Lalu apa artinya pernikahan ini bagi Gevin? Apa artinya keberadaan Zaina dalam hidupnya?
Zaina mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Dia langsung pergi dari sana karena sudah sangat sesak dan tidak bisa menahan air mata agar tidak terus berjatuhan.
Kenapa harus sakit sekali mencintainya, Ya Tuhan?
Zaina berjalan menyusuri jalan, dia sengaja tidak naik kendaraan karena ingin menenangkan hatinya dengan berjalan kaki seperti ini. Zaina ingin menangis sepuasnya tanpa ada yang tahu. Biarkan para kendaraan berlalu melewatinya.
Tin..
Zaina terlonjak kaget ketika suara klakson yang terdengar begitu nyaring. Dia menoleh dan melihat motor sport yang berhenti di sampingnya. Zaina segera menghapus air matanya. Dia mengingat-ngingat motor itu karena dia tidak merasa asing, sampai si pemilik motor membuka helm full face nya, barulah Zaina tahu siapa yang membawa motor itu.
"Kamu ngapain disini Za?"
__ADS_1
Zaina menatap Aldo yang sedang berada di sana dengan senyuman. Meski terlihat jelas jika senyuman itu hanya sebuah kepalsuan untuk menutupi luka hatinya.
"Aku habis jenguk teman dari rumah sakit, terus sengaja jalan aja sebentar pengen cari udara segar, mumpung sorenya cerah"
Aldo tersenyum, dia mengambil helm yang menggantung di jok bagian belakang. Lalu menyerahkan pada Zaina. "Ayo aku antar kamu jalan-jalan. Kita bisa pergi ke taman kota, sore hari begini pasti suasananya sangat cerah"
Zaina tersenyum, tidak salahnya dia mencoba untuk menghibur diri dengan pergi bersama dengan Aldo. Tentu saja karena dia tidak mungkin terus bersedih seperti ini.
"Boleh, tapi nanti langsung antar pulang ya"
"Siap Nyonya"
Zaina tertawa mendengar panggilan Aldo padanya. Dia memakai helm yang di berikan Aldo, lalu naik ke atas motor. Berpegangan pada bahu Aldo.
Sementara di dalam sebuah mobil, Gevin melihat dengan jelas istrinya yang naik ke atas motor yang di kendarai oleh seorang pria. Saat Gevin tidak sengaja melihat Zaina dari jarak yang masih cukup jauh, dia bermaksud untuk menghampiri istrinya itu. Namun keburu ada sebuah motor yang berhenti di samping istrinya itu.
Gevin mengikuti kemana Zaina dan pria itu pergi, dia benar-benar tidak bisa membiarkan wanitanya bersama dengan pria lain. Tidak tahu saja Zaina, jika suaminya ini adalah seorang pecemburu berat. Gevin yang selalu merasa tidak suka apa yang sudah menjadi miliknya apalagi jika dia mencintai wanita itu, maka dia akan benar-benar posesif dan tidak suka dengan orang yang mendekati miliknya. Apalagi ini adalah istrinya.
"Ngapain mereka datang ke taman segala?" kesal Gevin sambil mencengkram kemudinya.
Gevin memarkirkan mobilnya dan segera turun untuk menyusul istrinya itu. Dia melihat Zaina dan Aldo yang sedang berjalan-jalan di sekitar taman. Tidak jarang Zaina akan tertawa dengan lepas, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Akhirnya Zaina bisa menghilangkan sedikit kepenatannya karena semua beban pikirannya. "Terima kasih ya Al, kamu sudah ajak aku kesini"
"Iya Za, aku senang kalau kamu juga senang. Tadi, aku lihat kamu mengusap air matamu saat di jalan. Apa kamu sedang menangis ya? Kenapa?"
Zaina tersenyum, dia duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang disana. "Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang sedikit sedih saja pas lihat teman aku yang sakit di rumah sakit itu. Dia terlihat sangat lemah"
Aldo mengangguk faham, dia tahu jika Zaina sedang tidak ingin bercerita dengannya. Mungkin ini adalah masalah pribadinya, namun Aldo mencoba mengerti dia dan tidak memaksanya untuk bercerita padanya.
__ADS_1
Grepp...
Sebuah tangan memegang tangan Zaina dengar erat. Membuat Zaina terkejut dan langsung mendongak, dia terkejut saat melihat suaminya yang sudah berdiri samping bangku yang dia duduki ini.
"Mas, kamu sedang apa disini?" Bukannya tadi dia masih bersama dengan Lolyta?
"Harusnya aku yang tanya begitu sama kamu, ngapain kamu disini?" tanya Gevin yang menatap tajam pada Zaina, lalu beralih menatap tidak suka pada Aldo yang berdiri tidak jauh darinya. "...Dengan pria itu? Siapa dia?"
Zaina terdiam, ini kali kedua dia melihat aura kemarahan di wajah suaminya. Pertama kali dia melihat wajah Gevin yang marah seperti ini adalah ketika awal menikah dan Zaina yang tidak sengaja menemukan foto Lolyta di laci kamarnya. Dan sekarang Gevin juga memperlihatkan wajahnya yang sama, sangat marah dengan tatapan yang tajam.
"Dia Aldo, guru olahraga di sekolah tempat aku mengajar"
"Ada hubungan apa kalian berdua?"
"Emm. Mas maaf ya, saya dan Zaina tidak mempunyai hubungan apa-apa. Kami hanya teman mengajar di sekolah saja" ucap Aldo yang mencoba membantu Zaina untuk menjelaskan pada pria yang dia yakini adalah suaminya.
"Diam kau! Aku tidak bertanya padamu..." Gevin menatap Aldo dengan tajam. "...Kau tahu 'kan sekarang, kalau Zaina itu sudah mempunyai suami, jadi jangan coba-coba untuk mendekatinya!"
Setelah berkata seperti itu, Gevin langsung menarik tangan Zaina untuk pergi dari taman itu. Zaina menoleh ke arah Aldo yang menatapnya penuh khawatir.
"Makasih untuk hari ini, Aldo. Aku pulang dulu" teriak Zaina
"Zaina! Apa si pake pamitan sama dia segala"
Zaina menghela nafas pelan melihat wajah dingin suaminya yang sedang marah itu. "Mas apaan si, dia itu hanya teman mengajar di sekolah saja"
"Aku tidak percaya kalau dia tidak menyukaimu!"
Bersambung
__ADS_1