Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Takut Tidak Jadi Ibu Yang Baik


__ADS_3

Hari ini semua keluarga sengaja berkumpul di rumah Papa Gara,  bahkan keluarga dari Zaina juga ikut datang. Mereka sangat antusias untuk menyambut kelahiran bayi Zaina yang tinggal menghitung hari dari perkiraan Dokter.


Jenny yang terus mengelus perut buncit anak perempuannya itu. Meski Zaina hanya anak sambungnya, tapi dia begitu sayang padanya. Karena memang Zaina sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri oleh Jenny.


"Kamu harus tenang dan jangan banyak pikiran. Yakin saja kalau kamu pasti bisa melewati tantangan ini untuk bisa menjadi seorang Ibu. Anggap saja jika ini adalah sebuah tantangan" ucap Jenny. 


Zaina mengangguk dan tersenyum, dia memegang tangan Bundanya yang berada di atas perutnya. "Bun, sebenarnya Zaina tidak takut untuk melahirkan. Mau itu secara normal atau ceisar. Tapi yang aku takutkan sebenarnya adalah, ketika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik dan malah tidak bisa memperjuangkan anakku untuk bisa lahir ke dunia ini dengan selamat"


Jenny tertegun mendengar ucapan Zaina barusan, dia baru sadar jika anaknya ini sampai saat ini masih menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian anak pertamanya waktu itu. Tentu saja semua orang tidak tahu tentang luka besar yang Zaina sembunyikan selama ini. Dia yang selalu terlihat baik-baik saja dan seolah sudah mengikhlaskan kepergian anaknya. Ternyata masih menyimpan rasa bersalah yang besar dalam dirinya atas kejadian itu.


"Kak, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas kepergian anak kamu waktu itu. Semuanya sudah takdir dan bukan kesalahan kamu. Jangan sekalipun kamu menyalahkan diri kamu tentang kepergian anak kamu waktu itu. Karena memang kamu tidak salah" ucap Jenny. 


Zaina tersenyum mendengar ucapan Bundanya itu. "Tidak papa Bun, aku tidak merasa bersalah kok. Cuma sekarang aku hanya sedikit khawatir saja. Takut kalau aku tidak bisa menjadi Ibu yang baik yang memberikan yang terbaik untuk anaknya. Takut jika anakku tidak akan bisa aku selamatkan lagi"


"Sayang, semuanya bukan kesalahan kamu. Mau anak kamu selamat atau tidak waktu itu. Semuanya sudah takdir Tuhan untuk kehidupan kamu dan Gevin. Jadi jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri" ucap Jenny sambil menggenggam tangan anaknya ini.


Mendengar hal itu membuat Zaina hanya tersenyum.  Mungkin memang semuanya takdir Tuhan untuk kehidupannya. Tapi rasanya Zaina masih merasa begitu bersalah karena dulu tidak bisa menyelamatkan anaknya.


"Jangan merasa rendah hati, setiap kehamilan dan kelahiran itu beda-beda. Kamu jangan mebayangkan yang sudah terjadi akan terjadi lagi di kehamilan kamu saat ini. Karena sesungguhnya, semuanya tidak akan pernah sama" ucap Jenny.


Zaina mengangguk, tentu saja dirinya bahagia karena sekarang bisa mendapatkan dukungan dan pencerahan dari Ibunya ini. "Do'akan aku ya Bun, semoga aku bisa selamat dalam melahirkan cucu Bunda ini"


"Tentu saja Sayang, kamu adalah anak Ibu dan tentunya Ibu juga akan mendo'akan kamu selalu" ucap Jenny sambil memeluk anaknya yang duduk disampingnya itu.


Zaina tersenyum, merasa sangat beruntung karena dia bisa mendapatkan Ibu sambung seperti Jenny yang begitu tulus padanya. Meski sebenarnya Zaina sangat merindukan Ibu kandungnya, tapi tetap saja Jenny adalah pengganti Ibu kandungnya yang sudah meninggal dunia.

__ADS_1


"Sayang, ini minum susunya dulu"


Zaina melepaskan pelukannya bersama Ibunya, lalu menoleh pada suaminya yang datang menghampirinya dengan membawa segelas susu. Zaina tersenyum melihat suaminya itu, memang Gevin yang selalu mengerti tentang dirinya, sampai dia selalu memberikan seluruh perhatiannya pada Zaina. Apalagi sejak mengetahui jika Zaina sedang hamil, Gevin lebih meningkatkan perhatiannya lagi.


"Terima kasih Mas" ucap Zaina yang langsung meraih gelas susu di tangan suaminya itu.


"Kamu duduk disini Vin, Bunda mau kesana dulu bertemu dengan Ibu kamu" ucap Jenny yang langsung berdiri dari duduknya.


"Iya Bunda" Gevin beralih duduk disamping Zaina, dia mengelus perut istrinya itu. "Kamu belum mau istirahat?"


Zaina menggeleng pelan, dia masih senang duduk santai di depan televisi yang menayangkan sebuah acara gosip terkenal. "Masih belum mengantuk, nanti sebentar lagi. Oh ya, memangnya kamu sudah mengantuk, Mas?"


Gevin menggeleng, dia meraih kepala istrinya untuk bersandar di dadanya. "Aku masih ingin menemani kamu"


Gevin mengecup puncak kepala istrinya itu. "Aku akan selalu mendo'akan kalian. Yakin jika kalian akan bisa berjuang bersama dan selamat juga sehat"


Zaina mengangguk sambil tersenyum, dia juga berharap seperti itu. Sangat ingin sekali menjadi Ibu, merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang Ibu setelah melahirkan anaknya dan langsung merawatnya.


Aku sangat mendambakan saat itu.


########


Genara tersenyum saat dia berkumpul dengan teman-teman kerjanya sepulang kerja hari ini. Selalu merasa bahagia saat dia berkumpul bersama dengan teman-temannya ini. Selalu ada saja yang membuatnya tertawa hingga rasanya semua beban yang ada di pundaknya langsung hilang begitu saja.


Ada sosok pria tampan yang ikut bergabung dengan mereka hari ini. Dia adalah atasan mereka di perusahaan ini. Ya, Genara memang sudah pindah bekerja dan memilih untuk bekerja dengan orang lain daripada dengan Kakaknya. Karena merasa tidak ada tantangan saat dia harus bekerja dengan Kakak dan Ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Seru juga ternyata ikut kumpul sama kalian" ucap Edgar.


Genara hanya tersenyum, jujur saja dia merasa tidak nyaman saat Edgar yang selalu memperhatikannya. Padahal yang ada disana bukan hanya Genara, banyak wanita lainnya juga. Tapi entah kenapa merasa jika pria itu selalu menatap ke arahnya dan seolah sedang memperhatikannya.


"Ya, beginilah Pak cara kita menghilangkan penat" ucap salah satu teman Genara disana.


"Iya, saya senang juga ikut kalian dan sekarang penat saya juga sedikit menghilang" ucap Edgar.


"Tentu saja langsung hilang, kan ada Genara disini"


Genara langsung menunduk dengan wajahnya yang memerah. Merasa malu sendiri dengan ucapan salah satu temannya barusan.


Edgar tersenyum melihat reaksi Genara itu, rasanya semakin gemas dengan sikap malu-malu Genara. "Ketahuan juga deh, kalau saya datang kesini memang untuk bisa lebih dekat dengan Genara"


Deg..


Seketika Genara langsung mendongakan wajahnya dan menatap Edgar dengan tatapan yang tidak percaya dan penuh tanda tanya. Mempertanyakan atas apa yang diucapkan oleh Edgar barusan. Padahal dirinya tidak merasa spesial untuk pria tampan dan mapan itu.


"Ciee.. Akhirnya di akui juga kalau Pak Edgar ini memang menyukai Genara"


"Wah, sepertinya kita akan segera mendapatkan undangan nih"


Teriakan dari teman-temannya yang menggodanya itu malah membuat Genara semakin malu. Dia hanya menundukan kepalanya dengan tangan yang saling bertaut di atas pangkuannya di bawah meja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2