Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Tidak Bergerak Aktif?!


__ADS_3

"Ibu, Bunda, terima kasih ya karena sudah membantu aku menyiapkan maternity ini" ucap Gevin


"Tenang saja Nak, Bunda senang kok bisa membantu anak dan menantu Bunda. Melihat Zaina tersenyum adalah kebahagiaan untuk Bunda" ucap Jenny


Vania mengangguk, ikut mengiyakan ucapan dari besannya itu. "Sekarang kamu hanya perlu menjaga baik-baik istri dan calon anak kamu itu. Kami akan selalu mendo'akan kebaikan untuk kalian"


Gevin menungguk pelan, dia bahagia sekali karena dengan situasinya yang seperti ini masih banyak yang peduli padanya. Bersyukur sekali dengan semuanya.


"Kak, apa kamu tidak berniat mengucapkan terima kasih padaku? Sungkem begitu sama aku karena udah bantu semua ini" ucap Genara


Gevin hanya terkekeh, dia menoyor kepala adiknya. "Kau sudah ku bayar, jadi tidak perlu mengucapkan terima kasih pada orang yang selalu mementingkan bayaran"


"Ish, padahal aku itu hanya mencoba menjadi adik yang realistis. Punya Kakak kaya raya harus di manfaatkan" ucapnya ketus.


Vania dan Jennya hanya menggeleng pelan melihat kelakuan adik kakak itu. Keduanya yang selalu berdebat, namun tetap saling menyayangi.


"Sudah ah, aku mau menemui istriku saja sekarang"


Ucap Gevin yang langsung berlalu ke kamarnya. Dia sudah merindukan istrinya itu. Sudah tidak sabar untuk melepas rindu dengan sang pujaan hati. Setidaknya melihat Zaina yang masih baik-baik saja hingga saat ini sudah cukup bagi Gevin. Meski hatinya belum sepenuhya bisa tenang.


Zaina terdiam menatap seuaminya yang baru saja selesai mandi. Gevin yang selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun. Suaminya yang selalu membuat Zaina jatuh cinta setiap harinya. Masih tidak menyangka jika saat ini Gevin sudah menjadi suaminya.


Gevin naik ke atas tempat tidur, memeluk istrinya dan mencium pipinya beberapa kali. Bahagia sekali karena akhirnya bisa bersama dengan istrinya lagi, melepas lelah setelah dia harus dibuat pusing dengan pekerjaan seharian ini.

__ADS_1


"Mas, tidur sekarang.Besok 'kan kita bakal melakukan maternity shoot" ucap Zaina sambil mengelus pipi suaminya yang bersandar di bahunya itu.


Gevin memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan istrinya. Mengecup bahu Zaina dengan lembut, lalu memeluk istrinya dnegan lembut. Tangannya berada di atas perut istrinya, mengelusnya. Rasanya masih menjadi pikiran yang berat untuk Gevin tentang kehamilan istrinya ini. Masih tidak tahu harus melakukan apa saat ini, karena Dokter juga tidak memberikan solusi yang tepat untuk masalah Zaina.


"Sayang, anak kita sekarang sedang tidak bergerak ya" ucap Gevin.


Zaina terdiam, dia mengelus perutnya, dan terasa gerakan dari bayinya itu meski tidak terlalu terasa aktif. "Mungkin sedang istirahat Mas, ini gerak tuh"


Gevin tersenyum, dia menyentuh bagian perut yang di sentuh oleh tangan istrinya. Merasakan gerakan bayinya dari dalam sana. Gevin menundukan wajahnya, mencium perut buncit istrinya itu dengan lembut.


Papa akan tetap mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan Mama ya. Semoga kalian akan baik-baik saja.


"Sekarang tidur Sayang, besok biar seger untuk kita maternity shoot" ucap Gevin


Zaina mengangguk, dia langsung membaringkan tubuhnya. Gevin menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya sampai ke pinggang. Mengelus kepala Zaina, lalu memberikan kecupan hangat di kepalanya.


Zaina sebagai sebagai seorang calon Ibu yang sedang merasakan hal aneh dalam kehamilannya. Zaina yang sekarang tidak tahu kenapa, merasa jika anaknya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dia akan melakukan pemeriksaan setelah dia selesai melakukan maternity besok. Meski masih belum jadwal untuk melakukan pemeriksaan. Tapi Zaina hanya ingin memastikan jika bayinya baik-baik saja dan tidak kenapa-napa.


Dan pagi ini Genara dan Bunda sudah berubah menjadi makeup artis. Mereka merias Zaina dengan natural, tidak terlalu mencolok karena wajah Zaina sudah cantik. Zaina hanya tersenyum saja saat dirinya yang sudah selesai di rias, kini keduanya juga sibuk merias diri mereka masing-masing.


Malah Ibu yang baru saja datang juga ikut sibuk untuk merias dirinya. Katanya mereka juga ingin di foto dengan Ibu hamil yang cantik, membuat Zaina tertawa mendengar jawaban dari Genara itu ketika dia bertanya kenapa mereka juga ikut berias.


Setelah semuanya siap, maternity shoot ini dimulai. Gevin juga sudah terlihat sangat tampan dengan jas yang dia kenakan yang sama dengan gaun yang di pakai oleh Zaina. Mereka semua langsung berpose sesuai intruksi dari fotografer. Senyum lepas yang diperlihatkan keduanya ke arah kamera.

__ADS_1


Hingga beberapa jepretan dengan beberpa pose yang berbeda selesai. Keduanya berganti kostum kedua, karena memang dengan sengaja Gevin meminta untuk dua kostum berbeda. Dan di kostum kedua ini juga keduanya tetap berpose sesuai dengan apa yang di arahkan oleh fotografer.


Dan akhirnya semuanya selesai, kini bergantian dengan keluarga yang juga ingin ikut berfoto dengan Zaina. Dimulai dari Ibu dan Papa Gara, berlanjut pada Bunda dan Daddy Hildan. Barulah Genara yang berfoto berdua saja dengan Zaina. Setelah itu dua adik laki-laki Zaina yang baru saja datang juga tidak mau terlewatkan. Keduanya juga berfoto dengan Kakaknya itu.


"Ini seperti foto anggota keluarga ya, bukan naternity" ucap Gevin.


"Apasi Kak, momen kayak gini kapan lagi coba" ucap Genara


Zaina hanya tersenyum, dia senang sekali saat keluarganya ini juga ikut bahagia dengan kehamilannya ini. Itu artinya bayi dalam kandungannya memang banyak sekali yang menyayangi. Akhirnya siang menjelang sore, semuanya selesai. Zaina dan Gevin baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Mereka keluar dari kamar dan ikut berkumpul dengan keluarganya itu. 


"Kak buat beresin itu semua, Kakak suruh orang saja deh" ucap Genara saat melihat ruang tengah yang masih berantakan bekas maternity shoot barusan.


Gevin mengacak rambut adiknya dengan gemas. "Katanya siap membantu, udah di transfer bayarannya sekarang malah tidak mau membereskan semuanya"


"Ya 'kan beda lagi Kak, kalau menyiapkan semuanya memang harus bagus dan benar. Jadi aku harus lihat sendiri hasilnya. Tapi kalau untuk membereskannya, Kakak suruh orang lain saja lah. Aku malas" ucap Genara, menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa yang dia duduki.


Gevin hanya menggeleng kecil melihat kelakuan adiknya itu. "Seperti ini nih kalau gak ada duitnya, Bu. Anak Ibu tuh"


"Apasi, adek Kakak juga" ucap Genara kesal.


Vania hanya menggeleng pelan dengan kelakuan dua anaknya ini. "Sudahlah, nanti biar Papa kalian saja yang suruh orang untuk bereskan itu semua"


"Papa lagi 'kan akhirnya" ucap Papa Gara dengan lemas. Semua orang hanya tertawa mendengar itu.

__ADS_1


Dan malam ini semuanya berkumpul untuk makan malam bersama. Ruang tengah yang menjadi studio dadakan untuk maternity shoot juga sudah di bereskan oleh orang suruhan Papa Gara.


Bersambung


__ADS_2