
Zaina keluar dari kamarnya dengan gaun yang indah. Dia sudah terlihat cantik dengan riasan sederhana hasil tangannya sendiri. Ruang tengah Apartemen ini sudah di hias seadanya olehnya kemarin. Tubuh Zaina mematung ketika melihat suaminya dan Lolyta yang sudah siap dengan pakaian senada. Tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba juga. Dirinya yang sekarang harus menyaksikan suaminya menikah lagi dengan wanita yang menjadi mantan kekasihnya.
Zaina mencoba tersenyum dan biasa saja dengan semua ini. Dia sudah memilih, sekarang hanya perlu untuk mencoba untuk ikhlas dengan semuanya.
Zaina memejamkan matanya ketika kata sah terucap dari orang yang menjadi saksi. Hanya ada asisten Gevin di kantor yang mengetahui tentang hal ini, dan paman Lolyra yang datang dari luar kota. Air mata Zaina luruh begitu saja, hatinya terkoyak dan hancur saat ini. Bagaimana dia yang menyaksikan sendiri suaminya menikah lagi.
Gevin menatap Zaina yang menghapus air matanya dengan kasar. Gevin benar-benar tidak tahu pasti hati istrinya terluka dengan pernikahan ini. Zaina yang mencoba untuk tetap biasa saja dan berusaha untuk menutupi kesedihannya. Namun nyatanya Gevin tetap melihat bagaimana terlukanya Zaina saat ini.
"Sayang.." lirih Gevin, dia menghampiri Zaina dan memegang tangannya. Mengecup punggung tangan Zaina dengan lembut. "...Maaf karena aku tidak bisa membuat kamu bahagia"
Zaina tersenyum, wajahnya sedikit mendongak untuk menahan air mata yang kembali akan menetes. "Aku tidak papa, semoga dengan seperti ini kamu bisa bahagia bersama dengan Lolyta"
"Aku juga akan tetap bahagia bersama dengan kamu"
Lolyta menatap bagaimana tatapan Gevin pada Zaina. Dia seolah baru menyadari jika perasaan Gevin padanya seolah sudah berubah, karena tatapan dia pada Lolyta sangat berbeda dengan tatapannya pada Zaina.
Ya Tuhan, apa aku salah mengira selama ini. Dia.... Sudah tidak mencintaiku lagi.
Lolyta menatap Zaina yang menatap ke arahnya dengan tersenyum. Zaina berdiri dan berjalan menghampiri Loliyta. Duduk di sampingnya. "Semoga kita bisa menjadi keluarga yang bahagia ya"
"I-iya Za, terima kasih untuk semuanya"
Zaina menganggu, lagi-lagi dia mengusap ujung matanya yang berair. "Aku masuk dulu ke kamar"
Gevin menatap Zaina yang melewatinya dan berlalu masuk ke dalam kamar mereka. Dada Gevin juga terasa sangat sesak, dia melihat jelas dari tatapan Zaina jika istrinya itu pasti sangat terluka dengan kejadian ini.
Masuk ke dalam kamar. Zaina bersandar di pintu yang tertutup dengan air mata yang menetes begitu saja. Tanganya memukul dadanya yang terasa sangat sesak.
__ADS_1
Takdirkah? Bukan, ini adalah pilihanku. Aku yang terlalu tidak tahu diri, sampai mau begitu saja menikah dengan Gevin hanya karena aku mencintainya. Pada kenyataannya yang Gevin cintai bukan, dan sekarang aku malah menjadi penghalang dalam hubungan mereka berdua.
Luka yang tak terlihat, namun begitu menganga lebar. Zaina yang merasa dirinya telah menjadi penghalang untuk dua orang yang saling mencintai untuk bersatu. Sementara dirinya saja yang hanya merasakan cinta sendiri, sangat ingin merasakan bisa bersama dengan pria yang di cintainya. Apalagi Lolyta, dia juga pasti ingin bersama dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya.
Aku hanya tidak mau egois untuk saat ini.
########
"Tidurlah, kamu harus banyak istirahat setelah minum obat. Besok jadwal kamu kontrol lagi ke Dokter"
Lolyta menganguk, dia menatap Gevin yang duduk di pinggir tempat tidur yang dia tempati. Perlahan tangan Lolyta meraih tangan Gevin dan menggenggamnya, menatap pria yang telah menjadi suaminya dengan lekat.
"Gevin, bolehkah aku bertanya? Tapi aku minta kamu jawab dengan jujur"
Gevin mengangguk saja sebagai jawaban.
Gevin terdiam mendengar pertanyaan dari Lolyta itu. Menghela nafas pelan, mungkin memang sudah saatnya dia berkata jujur dengan perasaannya sendiri. Meski sebenarnya dirinya sendiri tidak benar-benar yakin dengan apa yang dia rasakan saat ini.
"Aku juga tidak tahu, namun kepergian kamu itu membuat aku benar-benar hancur. Dan kehadiran Zaina perlahan mulai membuat aku nyaman dan entahlah.. Aku juga bingung apa cinta aku padamu telah berubah atau tidak. Aku juga bingung"
Lolyta tersenyum mendengar itu, dia membawa tangan Gevin yang berada dalam genggamannya untuk memeluknya di atas dada. "Tidak papa, aku sadar dengan kesalahan aku karena pergi tanpa pamit padamu. Gevin, aku tahu kamu menikahi aku juga karena terpaksa dan merasa kasihan dengan keadaan aku ini 'kan?"
Gevin menggeleng pelan, meski mungkin apa yang di katakan oleh Lolyta adalah benar. Namun dia tidak mungkin mengakuinya, karena pasti hal itu akan membuat wanita yang pernah Gevin cintai selama hampir 5 tahun itu terluka.
"Aku ikhlas menikahimu karena memang Zaina yang memintaku. Dia bilang kalau dia tidak mau suaminya terjerat fitnah karena membawa seorang wanita untuk tinggal satu atap dengan kita. Jadi, lebih baik aku menikahimu dan menjadikan kamu yang kedua"
Lolyta tersenyum mendengar itu, kini dia mengerti bagaimana caranya dia bersikap. "Aku akan menjadi yang kedua dengan seharusnya. Aku tidak akan merampas waktu kamu dengan Zaina, kalian juga perlu bahagia"
__ADS_1
Entah harus bagaimana lagi Gevin besikap, karena dirinya berada diantara dua wanita yang begitu baik dan ikhlas untuk berbagi satu sama lain.
#########
Zaina yang sedang menghapus sisa make up di depan meja rias, langsung menoleh ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Lalu kembali lagi fokus untuk membersihkan make up di wajahnya setelah dia tahu jika yang masuk adalah suaminya.
Gevin berjalan menghampiri Zaina, memeluknya dari belakang. Memberikan kecupan begitu dalam di puncak kepala istrinya itu.
"Dimana Lolyta? Kok kamu tinggalkan dia"
"Sudah tidur, aku kangen sama kamu" bisik Gevin di telinga istrinya, dia mengecup belakang telinga Zaina.
Zaina menggeliat pelan, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Gevin seperti ini. "Maas, apaan si, geli ih"
Zaina menatap Gevin dari balik pantulan cermin di depannya. Tatapan Gevin yang terlihat begitu sayu, seolah sedang menahan sesuatu.
"Sayang, bolehkah aku melakukannya padamu sekarang? Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi"
Deg..
Zaina terdiam, dia tidak tahu kenapa Gevin berkata seperti itu. Padahal selama pernikahan mereka ini, Zaina melihat bagaimana Gevin yang terlihat tidak berniat untuk menyentuh Zaina.
"Jangan bercanda Gevin, kamu baru saja menikah dengan Lolyta. Kenapa malah meminta hak padaku"
Gevin memegang bahu Zaina, memutar tubuh istrinya itu agar menghadap ke arahnya. Menatapnya dengan lekat. "Zaina, apa aku tidak boleh meminta hak aku padamu? Aku sudah mencoba menahannya dari beberapa hari lalu, namun sekarang aku benar-benar tidak bisa menahannya. Tolong Sayang.."
Entahlah, namun Zaina juga menginginkannya. Dia hanya ingin menjadi milik Gevin seutuhnya. Katakanlah dia bodoh, namun memang perasaan cintanya terlalu dalam untuk menolaknya. Zaina mengangguk membuat Gevin tersenyum melihat itu. Gevin sengaja melakukannya sekarang, karena hatinya benar-benar gelisah dan takut kalau sampai Zaina pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung