Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Banyak Mendapatkan Dukungan!


__ADS_3

Menjadi sebuah kenang-kenangan untuk mereka, jika mereka pernah hampir menjadi orang tua. Meski semuanya harus berakhir seperti ini. Namun, Zaina tetap mempunyai kenangan tersendiri dengan kehamilan pertamanya itu.


Semuanya sudah takdir, aku ikhlas Ya Tuhan. Saat ini aku hanya berharap akan mempunyai kepercayaan lagi darimu untuk menjadi orang tua yang sebenarnya.


Hari ini adalah waktunya untuk Zaina  pergi ke Dokter dan mengontrol kesehatannya dan bekas jahitan operasi. Dan semuanya memang baik-baik saja. Dokter memberikan beberapa obat untuk Zaina agar akan semakin cepat pulih kembali.


Setelah selesai dari rumah sakit, keduanya langsung pergi ke rumah orang tua Gevin. Malam nanti adalah acara keluarga yang akan di adakan di rumah orang tua Gevin itu. Ketika mereka sudah sampai disana, anggota keluarga juga sudah berkumpul. Termasuk keluarga Zaina juga.


Zaina dan Gvein langsung menyalami kedua orang tua mereka secara bergantian. Dia menatap adiknya, dan langsung memeluknya. Sejak kejadian itu, Hilmi dan Haiden yang paling terlihat khawatir dengan dirinya.


"Bagaimana kabar Kakak?" tanya Haiden, adiknya yang manja ini, sekarang terlihat sedang mengkhawatirkan keadaan Kakak kesayangannya itu.


Zaina tersenyum, dia mengacak rambut adiknya itu dengan gemas. Rasanya aneh juga melihat Haiden yang seperti ini. Padahal nyatanya dia selalu menjadi adik yang manja padanya.


"Kakak baik-baik saja, kalian bagaimana?" ucap Zaina.


"Kita baik Kak, maaf ya karena kita tidak bisa sering-sering datang kesini. Bunda sering ngoceh, katanya kita masih anak-anak dan tidak boleh pergi sendirian jauh-jauh" ucap Haiden dengan memutar bola mata malas ketika ingat dengan omelan Ibunya yang begitu panjang lebar.


Zaina terkekeh, dia menepuk bahu Haiden. "Kamu memang haru menuruti perkataan Bunda, kalau tidak nanti kualat loh"


"Ish, Kakak ini sama saja dengan Bunda" ucap Haiden, yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Zaina hanya tersenyum saja, dia ikut duduk di samping Hilmi yang dari tadi hanya diam dengan wajah datarnya itu. Zaina merangkul tangan Hilmi dan menyandarkan kepalanya di bahu Hilmi.

__ADS_1


"Kalian ini kenapa bisa tumbuh tinggi sekali seperti ini? Melebihi Kakak saja" ucapnya.


"Kak, bagaimana perasaan Kakak?" ucap Hilmi tiba-tiba.


Zaina mendongak, menatap wajah adiknya dengan tersenyum. Terkadang Zaina juga tidak menyangka jika Hilmi akan tumbuh besar menjadi seorang pria yang mengerti tentang perasaan wanita. Meski mungkin Hilmi terlihat begitu dingin dan seolah menjadi pria yang tidak perhatian sama sekali. Padahal nyatanya dia sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya yang dia sayangi.


"Perasaan Kakak saat ini cukup tenang, Kakak sudah ikhlas atas apa yang terjadi. Meski sebenarnya kesedihan itu masih ada" jelas Zaina.


"Semuanya akan baik-baik saja Kak, aku yakin" ucap Hilmi.


Zaina menggangguk saja, memang dia juga berharap semuanya memang akan baik-baik saja setelah ini. Seolah Zaina berharap tentang badai pasti berlalu dan ada pelangi setelah hujan. Zaina berharap kehidupannya dan Gevin akan menemukan kebahagiaan setelah ini. Zaina sangat berharap mereka akan hidup bahagia setelah banyaknya masalah yang ada dan rintangan yang harus mereka lewati.


Gevin menghampiri istrinya setelah sejenak dia menemui Papa dan Daddy, ikut mengobrol disana."Wah, Sayang kau sedang berada diantara dua pria tampan sekarang"


"Mas, ayo ke kamar dulu. Aku ingin istirahat" ucap Zaina, dia tahu jika suaminya itu harus di berikan waktu luang untuk mereka berdua, meski hanya sebentar saja. Mengisi amunisi, katanya.


Gevin mengangguk, dia langsung membantu Zaina untuk berdiri dan membawanya ke kamarnya di rumah ini. Sementara Hilmi hanya menatap malas pada sepasang suami istri itu.


Jadi pria kok bucin.


"Mereka itu memang romantis sekali ya" ucap Haiden, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan kedua tangan yang berada di belakang kepalanya sebagai bantalan.


Hilmi hanya memutar bola mata malas, dia tidak merasa hal itu romantis. Karena dirinya tidak ingin menjadi pria lemah yang nantinya akan menurut begitu saja pada seorang wanita. Karena seorang pria tidak boleh lemah pada siapapun.

__ADS_1


"Pria itu memang tidak boleh lemah pada siapa pun. Apalagi wanita. Apanya yang membuat hal itu romantis" ucap Hilmi santai.


Haiden langsung berbalik dan menatap Kakak laki-lakinya itu dengan menggeleng heran. "Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. Nanti kau juga akan mengalami hal itu, pastinya akan membuat kau bucin"


Hilmi tidak menghiraukan semuanya, jelas dia tidak akan pernah sampai seperti itu. Dia adalah seorang pria yang seolah tidak akan pernah merasa jatuh cinta. Karena sampai saat ini belum ada wanita yang menarik perhatiannya.


#########


Malam ini acara di laksanakan, banyak anggota keluarga yang hadir dan juga banyak juga yang datang. Semuanya mengucapkan beberapa kata penyemangat pada Zaina  yang telah kehilangan bayinya. Saat ini Zaina juga merasa banyak orang yang mndo'akannya dan juga anaknya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus kuat dan tetap bertahan untuk semua ini"


Zaina mengangguk, dia juga cukup lebih tegar karena sudah banyak orang untuk membuatnya kuat dalam menjalani hal ini. Zaina bersyukur sekali karena banyak orang yang mendo'akannya.


Malam ini semua orang mendo'akan Zaina dengan banyak kebaikan. Membuat Zaina merasa lebih senang dengan semua itu. Lebih bisa ikhlas dengan semua ini. Zaina akan tetap berusaha untuk tetap menjalani hidup ini. Dia tidak akan mau terus terpuruk dalam kesedihan yang berkepanjangan.


"Kamu masih muda, dan akan bisa kembali hamil dalam waktu dekat ini. Biarkan saja karena saat ini mungkin kalian berdua sedang diberi waktu untuk bisa lebih lama lagi untuk berdua" ucap salah satu Ibu yang datang kesana.


Zaina tersenyum dan mengangguk saja, mungkin memang ini yang harus dia syukuri saat ini. Dirinya bisa lebih lama lagi mempunyai waktu berdua dengan Gevin. Meski pastinya keadaan rumah terasa sepi setelah keduanya menikah.


Gevin merangkul pinggang istrinya sambil tersenyum. Dia mencoba untuk tetap menerima apa yang sedang terjadi saat ini. Mungkin semua ini memang sebuah ujian dan rintangan untuk dirinya dan Zaina bisa bersama dalam sebuah pernikahan yang bahagia.


Jika dulu sebuah rintangan dan cobaan itu hanya berlaku untuk Zaina, yang harus menghadapi suaminya yang telah menikah lagi dan dia harus menjalani sebuah sandiwara pernikahan yang memang sebenarnya sangat menyakitkan untuk Zaina. Dan sekarang ujian ini hanya untuk dirinya, mencoba mengikhlaskan apa yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2