
Malam ini adalah malam ketiga mereka tidur bersama setelah beberapa bulan ini terpisah. Lebih tepatnya setelah Zaina pergi meninggalkan Gevin. Sebenarnya Zaina sedikit takut dan juga gugup karena tidak mungkin suaminya itu tidak mau menyentuhnya sama sekali. Jujur jika untuk hal itu, Zaina benar-benar belum siap. Hatinya masi mempunyai goresan luka yang masih membekas dan meninggalkan noda. Benar-benar belum sepenuhnya sembuh.
"Sayang, ayo tidur"
Zaina tersadar dari pikirannya yang melayang, ketika dia baru saja keluar dari ruang ganti setelah bersih-bersih dan berganti pakaian. Zaina mendekat ke arah tempat tidur, dimana suaminya sedang duduk menyandar di atas sana.
"Mas, besok jadi kita ke rumah Bunda dan Daddy?" tanya Zaina sambil merangkak naik ke atas tempat tidur. Duduk bersandar di samping suaminya.
"Tapi keadaan kamu bagaimana? Bukannya kamu harus banyak istirahat ya, perjalanan ke luar kota juga cukup memakan waktu loh. Apa kamu akan baik-baik saja?"
Kegelisahan masih terlihat jelas dari suaminya itu. Mungkin memang Gevin yang masih memikirkan tentang keadaan Zaina yang di jelaskan oleh Dokter. Padahal jelas Dokter juga bilang jika keadaannya tidak separah itu. Zaina baik-baik saja sebenarnaya, karena kendala yang dia miliki ketika dia terlalu banyak pikiran. Apalagi saat dia bertemu dengan Gevin dengan tidak sengaja di pusat perbelanjaan saat itu. Beberapa hari ke depannya dia benar-benar kepikiran tentang itu.
"Mas, aku baik-baik saja. Tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku. Lagian kamu lihat sendiri deh, kalau aku memang baik-baik saja dan kehamilan aku juga tidak menunjukan kendala apapun" jelas Zaina
Gevin menghembuskan nafas pelan, dia juga tidak mungkin membatalkan rencananya ini. Karena memang sudah seharusnya dia menemui kedua orang tua Zaina dan benar-benar meminta kembali Zaina untuk bersamanya setelah apa yang dia lakukan selama bersamanya.
"Baiklah, aku akan telepon supir di rumah Papa. Biar kita kesananya diantar supir saja, biar aku bisa fokus menjaga kamu"
Zaina mengangguk, dia menuruti saja asalkan dia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Zaina juga sudah sangat merindukan kedua orang tuanya itu. Sudah cukup lama juga dia tidak bertemu dengan orang tuanya.
"Sekarang tidurlah, kamu harus banyak istirahat. Apalagi besok kita akan perjalanan jauh" ucap Gevin sambil mengelus kepala istrinya
Zaina langsung menatap suaminya, dia tersenyum tipis. Masih tidak menyangka jika suaminya akan memperlakukan dia seperti ini, setelah hampir saja Zaina menyerah dan ingin mengakhiri pernikahan mereka.
__ADS_1
Gevin ikut merebahkan tubuhnya di samping Zaina, memeluk Zaina dengan hangat. Memberikan kecupan di keningnya, jujur saat ini Gevin kembali menemukan kenyamanannya lagi setelah beberapa bulan ini dia tidak merasakan hal ini.
"Mas mencintaiku?"
Entah kenapa tiba-tiba saja Zaina ingin mempertanyakan itu. Seolah ungkapan cinta dari Gevin masih belum membuatnya benar-benar percaya jika suaminya itu memang mencintainya.
Gevin menundukan pandangannya, menatap istrinya yang berada di dalam pelukannya itu. Cup.. Gevin mengecup bibir Zaina dengan lembut dan mulai memberikan luma*tan halus pada bibir istrinya itu.
"Apa memang aku tidak pernah bisa kamu percaya dengan sebuah kata. Maka aku akan membuat kamu percaya dengan semua perlakuan dan perbuatanku" ucap Gevin, tanpa harus menjawab pertanyaan Zaina barusan.
Zaina terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia memeluk tubuh Gevin dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Sepertinya memang sudah seharusnya dia mulai yakin seratus persen pada suaminya yang memang sudah berubah.
"Sebenarnya jika saja dulu kamu mengungkapkan cinta padaku, mungkin hatiku tidak akan pernah menaruh perasaan ragu padamu, Mas" ucap Zaina dalam pelukan suaminya itu.
Benar, kesalahan Gevin memang disini letaknya. Jika saja dia mengungkapkan lebih awal, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Dan bodohnya, saat itu Gevin masih saja merasa ragu dengan perasaan yang ada setelah dia menyadari perasaannya. Hingga ketika Zaina menyuruhnya untuk menikahi Lolyta, dia juga menurut saja hanya karena alasan untuk menepati janji pada Lolyta.
"Aku memang bodoh Sayang, dan sekarang aku tidak akan pernah mengulangi kebodohan yang sama" ucap Gevin sambil mengecup puncak kepala istrinya.
Zaina hanya tersenyum dalam pelukan suaminya itu. Dia mulai memejamkan mata hingga akhirnya benar-benar terlelap.
#########
Kenyamanan yang kembali di temukan kembal oleh Zaina maupun Gevin. Hingga malam ini keduanya tidur dengan sangat lelap. Zaina juga kembali menemukan kenyamannya.
__ADS_1
"Semuanya sudah siap, vitamin dan obat kamu juga sudah aku masukan ke dalam tas ini" ucap Gevin yang baru keluar dari ruang ganti dengan membawa tas berukuran sedang.
Zaina tertawa kecil mendengarnya, terkadang saat ini dia merasa jika peran mereka benar-benar sedang tertukar. Malah suaminya yang menyiapkan semua perlengkapan untuk mereka pergi. Bukan dirinya sebagai seorang istri.
"Mas, seharusnya aku loh yang menyiapkan semuanya. Ini malah kamu"
Gevin menghampiri istrinya, mengecup kening Zaina, beralih ke kedua pipinya dan terakhir di bibirnya. Membuat wajah Zaina langsung memerah seketika.
"Sayangnya aku hanya perlu duduk diam saja. Aku yang akan menyiapkan semuanya"
Zaina tersenyum dengan wajahnya yang memerah. Sama sekali tidak tahu harus melakukan apa, ketika suaminya ini memang benar-benar sangat berbeda sekali dari Gevin yang dia kenal. Bahkan tidak sekali saja dia mendengar Gevin mengucapkan kata-kata manis seperti itu sejak mereka kembali bertemu.
Aku masih tidak menyangka kalau ini adalah suamiku yang plin-plan dan tidak mempunyai pendirian.
Keduanya keluar dari dalam kamar, dengan Gevin membawa tas berukuran sedang itu. Menyerahkan pada Mbak pelayan ketika dia sudah berada di luar kamar. Langsung menuju ke luar rumah, disana sudah ada Pak supir yang menunggu mereka.
Keduanya langsung masuk ke dalam mobil, Gevin menaruh bantal kecil yang dia bawa di belakang tubuh Zaina. "Biar nyaman duduknya"
Zaina hanya tersenyum, ada getaran haru dalam dirinya. Dia juga tidak tahu harus melakukan apa ketika dia melihat dengan jelas bagaimana ketulusan yang di tunjukan suaminya.
Zaina mulai berani menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Tangannya merangkul lengan suaminya. "Aku tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuaku"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, kalau kamu pusing atau apa, langsung bilang sama aku"
__ADS_1
Zaina mengangguk saja, dia tahu jika saat ini suaminya sedang menjadi suami siaga. Gevin hanya sedang memastikan jika istrinya akan baik-baik saja selama perjalanan ini. Gevin tidak mau sampai terjadi hal yang tidak di inginkan oleh suaminya. Gevin masih harus menjadikan dirinya suami yang siaga untuk Zaina.
Bersambung