Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Menemui Orang Tua Zaina


__ADS_3

"Maaf Bunda, apa Zaina berada disana?"


Meski sedikit ragu, namun Gevin benar-benar harus menanyakan tentang keberadaan Zaina disana. Takutnya Zaina memang tidak pergi kesana, maka Gevin benar-benar harus mencarinya ke pelosok negeri.


"Tidak ada, Zaina tidak ada disini"


Hampir saja ponsel yang menempel di telinganya akan terlepas dari gengangman tanganya. Jika memang Zaina tidak ada disana, lalu dimana dia berada. Rumah orang tuanya adalah tempat tujuan yang di kira Gevin akan di tuju oleh istrinya saat itu.


"Benarkah Bunda? Apa Bunda yakin?"


Entah kenapa Gevin merasa tidak percaya dengan ucapan Ibu mertuanya itu. Karena Gevin tahu bagaimana Zaina yang tidak mempunyai teman dekat yang bisa membuatnya pergi ke tempat temannya.


"Benar tidak ada, memangnya kenapa? Kenapa juga kamu mencari istrimu? Bukannya dia disana dan selalu bersama denganmu"


Gevin terdiam mendengar itu, memang benar jika Zaina selalu bersamanya. Namun dirinya yang melukainya membuat Zaina memilih untuk pergi meninggalkannya.


"Besok Gevin akan datang kesana, Bunda"


Gevin mengakhiri sambungan teleponnya. Dia sudah mengambil keputusan untuk datang ke kota dimana mertuanya tinggal. Gevin ingin memastikan sendiri jika memang istrinya itu tidak ada disana. Karena kemana lagi Zaina akan pergi jika bukan ke rumah orang tuanya.


Ketika pagi ini Gevin sudah berada di kota tempat orang tua Zaina berada. Dia berangkat sejak pagi buta agar bisa segera sampai, karena memang dia sudah tidak tenang. Mencari keberadaan istrinya yang pergi begitu saja.


"Sayang, semoga aku akan menemukan kamu disini" lirih Gevin


Dia megetuk pintu rumah itu, sampai beberapa saat pintu terbuka oleh Hilmi. Adiknya Zaina itu menatap Gevin dengan tatapan yang dingin.


"Hai, Mi. Apa Daddy dan Bunda ada?" tanya Gevin mencoba untuk tetap terlihat biasa saja, padahal jelas dia melihat tatapan tidak suka dari Hilmi.

__ADS_1


"Ada" ucap Hilmi, dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Gevin. Tanpa mempersilahkan Kakak Iparnya itu masuk, tapi dia tetap membuka pintu lebar. Mungkin menurutnya Gevin bisa masuk sendiri tanpa harus di persilahkan masuk olehnya.


Gevin masuk ke dalam rumah, langsung menemui Jenny dan Hildan yang sedang berkumpul di ruang tengah. Mungkin mereka baru saja selesai sarapan dan sudah bersiap untuk pergi dengan rutinitas masing-masing. Hilmi dan Haiden yang sudah siap dengan seragam putih abu-abunya.


"Gevin, kamu benar-benar datang" ucap Bunda Jenny, berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.


Gevin mengangguk, dia duduk di kursi tunggal yang ada disana. Dia jelas melihat tatapan tidak suka dari Hildan. "Maafkan saya, Bunda dan Daddy"


Sudah tidak ada lagi yang bisa di tutup-tutupi oleh Gevin. Jadi saat ini dia hanya perlu untuk meminta maaf terlebih dahulu pada kedua orang tua istrinya ini atas apa yang dia lakukan pada Zaina.


"Minta maaf untuk apa? Karena kamu sudah melukai putri saya? Asal kau tahu, jika Zaina mempunyai perasaan padamu sejak lama. Dan sekarang kau dengan tega melukai perasaan wanita yang mencintaimu dengan tulus itu" ucap Hildan dengan kemarahan dan kekecewaan yang jelas terlihat di balik tatapan matanya.


Gevin menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai, dia menunduk dengan penyesalan yang ada untuk semua kesalahan yang dia lakukan pada Zaina. Kepalanya menunduk dalam, sudah tidak memikirkan lagi harga dirinya lagi. Karena memang tidak ada yang perlu lagi dia pikirkan saat ini selain meminta maaf atas semua kesalahannya pada kedua orang tua Zaina.


"Maafkan saya, memang benar jika saya terlalu bodoh sampai menyia-nyiakan wanita yang mencintai saya. Namun saat ini, saya sudah sadar jika saya telah salah faham dengan Zaina. Saya akui kesalahan saya" ucap Gevin dengan matanya yang mulai berkaca-kaca


"Saya sudah akan menceraikan dia, lagian saya menikahinya juga karena permintaan Zaina"


"Semua itu karena Zaina tahu kalau kau tidak bisa lepas dari cinta masa lalumu itu. Kau yang sebenarnya tidak peka dengan perasaan istrimu yang sebenarnya"


Gevin terdiam, sepertinya memang benar jika dirinya yang bodoh sampai tidak peka dengan apa yang dirasakan oleh istrinya. Kau memang terlalu bodoh, Gevin. Gumamnya dalam hati.


"Sekarang kembalilah ke kotamu. Karena sampai kapanpun kau tidak akan menemukan Zaina. Dia tidak ada disini"


Gevin langsung mendongak dan menatap Ayah mertuanya itu dengan tidak percaya. Jika memang Zaina tidak ada disini, lalu dimana dia berada sekarang dan kenapa juga orang tuanya sudah mengetahui tentang kacaunya pernikahan yang dia jalani, jika memang Zaina tidak datang kesini.


"Kami mengetahuinya karena memang Zaina sempat datang kesini. Namun dia meminta izin untuk pergi, karena memang Zaina ingin menenangkan dirinya dan pergi untuk mneyendiri" jelas Jenny yang seolah mengerti apa yang di pikirkan oleh Gevin.

__ADS_1


"Kemana Zaina pergi, Bunda? Tolong beri tahu saya" ucap Gevin dengan tatapan memohon


"Kami tidak akan memberi tahunya, biarkan Zaina bahagia dan bisa menenangkan dirinya terlebih dulu" ucap Hildan tegas


Dan pada akhirnya Gevin benar-benar tidak mendapatkan informasi apa-apa. Dia pulang dengan tanpa mendapatkan apapun tentang keberadaan Zaina. Gevin juga tidak bisa memaksa kedua orang tua istrinya itu untuk memberi tahu dimana Zaina berada. Karena mungkin Gevin akan semakin terlihat jelek di mata mereka, ketika saat ini saja dia sudah jelas ter-cap jelek di mata mertuanya itu,


########


"Disini kamu akan mana Za, tenang saja Ibu akan sering-sering datang kesini bersama dengan Genara. Kami tetap akan mendukung apapun keputusan yang akank kamu ambil"


Zaina mengangguk, dia tersenyum dengan penuh rasa syukur karena di saat hidupnya sedang sangat rapuh dan hancur. Tapi masih ada sosok mertua yang begitu baik dan masih menjaganya.


Kemarin sore Zaina memang langsung di antar orang tua Gevin dan Genara untuk pulang ke kotanya. Mengatakan semua yang terjadi pada kedua orang tuanya. Bahkan Papa Gara sampai hampir menangis ketika dia meminta maaf pada Hildan atas apa yang telah di lakukan oleh anaknya.


Awalnya Zaina memang akan tinggal di kota asalnya. Namun ternyata ucapan Ibu mertuanya membuat dia berpikir ulang dengan keputusannya itu.


"Jika kamu berada disini, maka Gevin juga akan mencarinya kesini. Keberadaan kamu akan segera di temukan. Sayang, kamu harus menghilang dan biarkan suamimu itu menyesal dengan sangat atas apa yang dia lakukan padamu. Ibu saja merasa kesal dan sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Gevin padamu" ucap Vania


Dan akhirnya Zaina menuruti saja perkataan Ibu mertuanya itu untuk tinggal di sebuah rumah milik Papa Gara yang memang tidak ada yang menempati.


"Jika kamu tinggal disini, Gevin tidak akan pernah menyangka dan mengira kalau kamu berada disini" ucap Vania lagi


Dan Zaina hanya ingin menghindar dari Gevin dan memikirkan lebih matang keputusan apa yang akan dia ambil setelah ini. Apalagi ketika kemarin dia malah melihat bagaimana Gevin yang menggendong Lolyta dan bahkan tidak lagi berniat mencari Zaina.


Sadar Zaina, karena tidak mungkin juga Gevin akan mencarimu. Kamu tidak sepenting itu baginya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2