Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Pemakaman


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja, kehidupan Gevin hancur sejak dia tidak menemukan keberadaan Zaina. Hampir setiap akhir pekan dia mencari keberadaan istrinya ke rumah kedua orang tua Zaina untuk menanyakan tentang kebaeradaan Zaina. Namun tetap saja tidak ada yang bisa memberi petunjuk pada Gevin tentang keberadaan istrinya itu.


Perceraiannya dengan Lolyta telah selesai, namun keadaannya semakin kesini semakin tidak baik. Sudah hampir 6 bulan, Lolyta di rawat di rumah sakit. Meski dirinya sendiri sudah merasa lelah dengan keadaannya ini. Lolyta yang sebenarnya sudah ingin menyerah dengan semua ini. Namun, ada mantan suaminya yang begitu baik sampai tetap memberikan biaya pengobatan untuk tetap bertahan sampai saat ini.


Pagi ini Gevin sudah harus pergi ke rumah sakit karena mendapat kabar buruk dari pihak rumah sakit. Ketika sampai disana, hal paling mengejutkan dia terima juga akhrirnya. Setelah sekian lama dia mencoba untuk tidak berpikir sampai ke arah sini, namun ternyata hari ini adalah waktunya.


"Maaf Tuan, sepertinya pasien sudah berjuang terlalu keras selama bertahun-tahun melawan penyakitnya. Namun, hari ini dia telah memutuskan untuk mneyerah"


Penjelasan Dokter cukup membuat Gevin terkejut, matanya berkaca-kaca. Setidaknya sudah cukup lama dia mengenal Lolyta sampai mereka berpacaran dan menikah. Meski pernikahan mereka terjadi tidak sesuai dengan rencana yang pernah mereka berdua buat sebelumnya.


Saat ini Gevin benar-benar merasa sedih, karena meski perasaannya pada Lolyta telah berubah, tapi tetap saja terlalu banyak hal yang pernah terjadi diantara dirinya dan Lolyta. Membuat Gevin terlalu banyak mempunyai kenangan bersamanya.


Gevin menatap wajah pucat Lolyta yang lebih terlihat bersinar sekarang. Tubuhnya yang sudah kurus kering ini, kini sudah terbujur kaku. Lolyta telah melepaskan semua rasa sakit yang dia derita selama ini. Sekarang dia telah bahagia karena telah melepaskan semua rasa sakit dalam dirinya.


Gevin mengelus kepala Lolyta yang plontos itu. Mengecup keningnya dengan lembut untuk yang terakhir kalinya. "Terima kasih karena sudah pernah singgah di hatiku dan membuat aku bahagia selama ini. Mengenalkan aku pada sebuah perasan cinta. Kamu wanita baik dan wanita hebat yang bisa bertahan selama ini. Selamat jalan Lolyta, semoga kamu bahagia disana"


Semua proses pemakaman Gevin yang mengurusnya, karena memang Lolyta sudah tidak punya keluarga lagi. Papa, Ibu dan Genara juga ikut serta membantu proses pemakaman. Mereka masih menganggap semua ini sebagai bantuan pada sesama manusia. Melupakan semua yang pernah terjadi diantara mereka dan Lolyta.


Vania menghampiri anaknya dan menepuk bahunya. Proses pemakaman baru saja selesai. Gevin dan keluarganya masih berada di area pemakaman.


"Semuanya sudah takdir, jadi tidak perlu kamu terus bersedih atas kepergian Lolyta. Dia sudah tenang dan bahagia disana" ucap Vania


Gevin menoleh, dia mengangguk. Di balik kacamata hitam yang dia pakai, matanya berkca-kaca. Sampai pandangan matanya tidak sengaja melihat bayangan di balik pohon. Gevin mengenali tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Zaina?"


"Hah?" Vania malah bingung sendiri dengan ucapan Gevin. Lalu dia menatap ke arah mata Gevin tertuju. Vania melihat menantunya yang berlari menjauh.


Menyadari jika itu memang istrinya, Gevin langsung berlari untuk mengejarnya. Namun terlambat, karena Zaina langsung masuk ke angkutan umum yang dia berhentikan ketika sudah sampai di jalan raya. Area pemakaman yang memang berada di dekat jalan besr.


Gevin menghembuskan nafas pelan, dia melirik ke kanan dan kiri. Mencoba mencari keberadaan Zaina setelah dia sampai di pinggir jalan raya. Namun sosok yang dia lihat itu tidak terlihat.


"Aku tidak mungkin salah lihat, itu adalah Zaina. Apa memang selama ini dia ada disini? Tapi dimana dia tinggal? Kenapa aku sampai sulit menemukan keberadannya"


Vania, Gara dan juga Genara langsung menghampiri Gevin. Vania menepuk bahu anaknya itu. Jelas Vania juga melihat keberadaan menantunya itu. Namun dia juga tidak mungkin memberi tahu tentang keberadaan Zaina pada Gevin untuk saat ini. Karena Zaina yang memang masih tidak ingin bertemu dengan Gevin.


"Kamu kenapa lari Vin?" tanya Vania, seolah dia tidak tahu apa yang membuat Gevin langsung berlari begitu.


"Kamu salah lihat kali, Ibu tidak melihat siapa-siapa sejak tadi"


"Iya Kak, mungkin yang Kakak lihat itu hantu. Hiii.. Kan Kakak banyak salah sama Kak Zaina, jadi hantu itu mneyerupai Kak Zaina seperti penglihatan Kakak itu" ucap Genara dengan tawa usil pada Kakaknya itu.


"Diam kau! Mana ada hantu siang bolong begini. Dasar bocah" ucap Gevin sambil berlalu pergi darisana


"Dih, aku udah besar Kak. Dikatain bocah, kurang ajar sekali" kesal Genara


Vania dan Gara hanya menggeleng pelan melihat kelakuan dua anaknya ini. Padahal mereka sudah pada besar, tapi sama sekali tidak pernah akur kalau bertemu. Sekalinya akur juga hanya sebentar atau memang ada maunya saja.

__ADS_1


"Bu, memangnya benar ada Kak Zaina disini?" tanya Genara, beralih pada Ibunya setelah memastikan Gevin jauh dari jangkauan mereka.


Vania mengangguk pelan, dia memang melihat Zaina disana tadi. "Tadi Ibu memang melihat Zaina ada disini. Gak tahu juga kenapa dia bisa berada disini"


Genara tersenyum masam, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat dia menyadari kesalahannya. "Sebenarnya tadi Kak Zaina menghubungi aku dan aku tidak sengaja bilang kalau mau berangkat ke pemakaman Kak Lolyta. Sepertinya dia memang sengaja datang kesini, Bu"


Vania menghela nafas pelan, pantas saja menantunya itu ada disana. "Yaudah, sekarang kita temui Zaina, Papa pulang sama Gevin dulu ya. Ibu mau pergi dulu sama Genara ke tempat Zaina"


Gara mengangguk, mereka langsung pergi ke parkirkan dimana Gevin masih menunggu disana.


"Vin, kamu pulang duluan sama Papa. Ibu dan Genara mau ke mall sebentar, ada yang mau di beli" ucap Vania


"Apaan Bu? Apa tidak bisa nanti saja?"


"Tidak bisa Kak, aku mau beli sesuatu dulu. Mumpung sekalian lagi di luar" jawab Genara, agar Kakaknya itu tidak curiga padanya. Tapi 'kan Kakaknya memang bodoh, dia tidak pernah sekalipun curiga pada mereka disaat mereka berbohong hanya untuk menemui Zaina, atau mereka yang habis menemui Zaina.


"Yaudahlah, sana kalian pergi saja. Aku mau pulang dulu. Ayo Pa"


Gara mengangguk, dia langsung masuk ke dalam mobil Gevin. Sementara Genara dan Vania masuk ke mobil satunya lagi. Genara langsung mobilnya menuju tempat dimana Zaina tinggal. Sampai di rumah yang di tempati oleh Zaina, mereka langsung turun dan menemui Zaina.


"Za, kamu ke pemakaman tadi?" tanya Vania sambil mengelus perut menantunya yang membuncit.


Zaina mengangguk, dia mengajak mertuanya dan adik Iparnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2