
"Mas,aku tahu maksud kamu meminta aku berhenti bekerja karena kamu takut aku kecapean seperti saat ini. Tapi Mas, aku juga akan merasa sangat bosan kalau hanya berada di rumah tanpa melakukan apapun" jelas Zaina
Gevin faham itu, namun dis tetap tidak tenang jika melihat Zaina yang terus bekerja. Takut keadaannya akan seperti ini lagi. "Sayang, kali ini nurut saja ya sama aku. Kamu di rumah aja nunggu aku pulang kerja, gak perlu ikutan kerja juga"
"Bukannya waktu itu Mas bilang kalau aku boleh bekerja dan melakukan kegiatan aku sesuka hatiku. Kok sekarang malah melarang?" Tanya Zaina
Gevin mengelus kepala istrinya dengan lembut, menyalipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga Zaina. "Bukannya melarang kegiatan kamu, tapi lihatlah akibat kamu yang kecapean jadinya seperti ini. Aku juga tidak bisa menjanjikan akan tetap mengantar jemput kamu setiap hari. Karena kamu tahu sendiri tanggung jawab aku juga pada Lolyta"
Zaina terdiam mendengar itu, dia faham dan mengerti sekarang. Jika Gevin tidak mau merasa terbebani juga oleh Zaina yang harus di antar jemput olehnya. Padahal Zaina bisa lebih mandiri dari itu.
"Yaudah Mas, kalau kamu merasa terbebani untuk mengantarkan aku dan juga menjemputku. Kamu tidak perlu melakukan itu, aku bisa pergi dan pulang sendiri kalau habis mengajar. Kamu bisa lebih eksklusif menjaga Lolyta"
Zaina langsung merebahkan kembali tubuhnya dengan membelakangi Gevin dan menarik selimut sampai hampir menutupi seluruh tubuhnya. Gevin mengusap wajah kasar, sepertinya Zaina telah salah faham lagi padanya. Padahal bukan seperti itu maksud Gevin, dia hanya tidak mau sampai hal ini kembali terjadi. Dimana Gevin yang tidak bisa menjemput Zaina dan membuat istrinya itu harus kehujanan hingga sakit.
"Sayang, bukan seperti itu maksud aku"
"Sudahlah Mas, lebih baik kamu keluar dan temani Lolyta. Aku ingin istirahat saja" ucap Zaina dengan matanya yang kembali mengeluarkan cairan bening kesedihan.
Aku mencintaimu, Mas. Tapi kenapa harus sesakit ini mencintai.
Tidak, Zaina benar-benar tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena memang kenyatannya dia yang sudah meminta Gevin untuk menikahi Lolyta. Namun semuanya dia lakukan karena dia tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak bisa bersama.
__ADS_1
Zaina saja yang mencintai sepihak merasa lebih bahagia saat dia bisa menikah dengan Gevin, meski dia tahu jika hati suaminya bukan untuknya. Apalagi Lolyta yang jelas mencintai dan dicintai Gevin, pastinya dia akan semakin terluka jika tidak bisa mendapatkan Gevin. Zaina hanya mencoba untuk mengerti semuanya.
"Sayang, aku minta maaf ya"
Zaina tidak menjawab lagi, dia memilih untuk memejamkan matanya. Mencoba untuk tidak lagi menghiraukan keberadaan Gevin disana. Saat ini kondisi hati dan moodnya sedang benar-benar buruk, jadi Zaina sedang tidak ingin membahas apapun lagi dengan Gevin karena dia yang takut akan kembali sedih dan kecewa lagi.
Yang tetap menjadi prioritas pertama kamu memang hanya Lolyta, Mas.
Gevin keluar dari kamarnya, dia melihat Lolyta yang sedang berada di ruang tengah. Segera Gevin menghampirinya. "Belum tidur Ly? Ini sudah malam loh, kamu seharusnya tidur dan istirahat sekarang"
"Sebentar lagi Vin, kamu juga kenapa belum tidur?"
Gevin menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit kamar dengan helaan nafas panjang. "Aku sedang menunggu Asistenku untuk datang mengantarkan ponsel yang tertinggal di Kantor"
Gevin langsung menoleh pada Zaina, masih dengan kepala yang bersandar pada sandaran sofa. "Ada apa Ly? Bicara saja"
Lolyta menghembuskan nafas pelan, butuh keberanian yang cukup untuk dia mengatakan tentang hal ini pada Gevin. "Aku hanya ingin bertanya padamu, apa kamu masih mencintaiku?"
Gevin langsung mengangkat kepalanya dan menatap Lolyta dengan kaget. Tidak menyangka juga Lolyta akan menanyakan hal seperti ini padanya.
"Kenapa bertanya seperti itu, Ly?"
__ADS_1
Lolyta meraih tangan Gevin dan menggenggamnya dengan lembut. "Gevin, aku tahu dan bisa melihat dari tatapan matamu padaku dan Zaina memang berbeda. Sekarang, aku hanya minta kejujuran kamu saja, apa kamu masih mencintaiku atau tidak?"
Gevin menghela nafas pelan, dia menatap tangan pucat Lolyta yang menggenggam tangannya. "Maafkan aku Ly, tapi mungkin memang perasaan cintaku padamu telah mengikis seiring berjalannya waktu"
Lolyta tersenyum mendengar itu, meski matanya mulai berkaca-kaca karena dadanya yang mulai terasa sesak mendengar ucapan Gevin. Tapi Lolyta lega sekarang, karena dia tidak harus menduga-duga. Sekarang dia sudah mendengar sendiri bagaimana Gevin yang menikahinya bukan karena cinta, karena cinta pria itu sudah bukan lagi untuknya.
"Aku lega karena sudah mendengar langsung dari kamu. Terima kasih Gevin, karena kamu sudah banyak memberikan kebahagiaan untuk aku selama ini, bahkan sampai sekarang aku masih bisa merasakan kebahagiaan itu karena bisa merasakan menjadi istri kamu" ucap Lolyta sambil tersenyum penuh keharuan pada Gevin.
Gevin menatap Lolyta, dia merasa tidak enak karena sudah membuat Lolyta terluka dengan semua ini. Namun, pernikahan ini terjadi juga karena permintaan Zaina dan bentuk rasa bersalah Gevin pada Lolyta karena dia merasa telah mengingkari janji dengan Lolyta.
"Maaf Ly, aku juga tidak tahu kapan dan kenapa perasaan itu menghilang. Namun setelah kehadiran Zaina dalam hidupku, membuat aku lebih tegar dan mempunyai warna hidup baru. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa cinta yang kita pertahankan selama beberapa tahun itu, bisa hilang seperti ini"
Lolyta menepuk punggung tangan Gevin yang berada di genggamannya. "Semuanya adalah takdir, sekarang ini kita hanya perlu menjalani hidup yang sedang kita jalani. Tidak perlu menengok ke belakang lagi. Biarkan semua yang telah berlalu, tetap berlalu begitu saja"
Gevin mengangguk, bersyukur karena Lolyta bisa mengerti dengan perasaannya sekarang ini. "Yaudah, kalau gitu aku kembali ke kamar dulu ya. Oh ya, nanti kalau ada orang yang datang, kamu suruh simpan saja ponselnya di atas meja. Aku mau melihat keadaan Zaina dulu"
Lolyta mengangguk, menatap punggung Gevin yang menghilang di balik pintu kamar dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Bohong, jika Lolyta tidak merasa sedih dengan pengakuan Gevin barusan. Namun sekarang dia hanya bisa pasrah dan tidak perlu lagi mengemis dan berharap mendapatkan cinta Gevin. Bisa menikah dan merasakan menjadi istrinya Gevin saja sudah sangat beruntung baginya.
Salah kamu sendiri karena sudah meninggalkan Gevin, hingga sekarang Gevin sudah menikah dengan Zaina dan jatuh cinta padanya.
Saat ini Lolyta hanya perlu menerima takdir dan kenyataan jika Gevin memang sudah tidak mencintainya lagi. Kenyataan yang cukup menyakitkan, namun dia tetap harus menerimanya.
__ADS_1
Bersambung