Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Sebuah Hadiah


__ADS_3

Genara sudah di jemput pulang oleh kedua orang tuanya. Sekarang Zaina dan Gevin juga sudah lebih tenang. Sekarang mereka hanya tinggal memikirkan tentang sifang penjatuhan hukuman pada Aldo. Semuanya sudah bisa terselesaikan meski belum benar-benar selesai.


"Jadi, mana hadiah untuk aku?" Tanya Gevin yang masih belum mendapatkan hadiah dari istrinya itu.


Zaina terkekeh pelan, dia mengambil sebuah kotak kecil memanjang di laci nakas. Lalu memberikannya pada Gevin.


"Sebenarnya aku ingin memberikan ini saat aniversarry pernikahan kita. Tapi karena ada hal yang tidak terduga, membuat semuanya gagal. Jadi aku berikan saja sekarang. Selamat anniversarry Mas, semoga kita akan tetap menjadi keluarga yang bahagia selamanya"


Gevin sangat terharu dengan semua yang dilakukan istrinya untuk memberikan sebuah kejutan di hari anniversary dirinya. Meski semuanya gagal karena kecelakaan yang mneimpanya. Sungguh saat ini Gevin sangat bahagia karena bisa mendapatkan semuanya dengan sangat bahagia. Meski sempat gagal memberikan hadiah itu, tapi sekarang Zaina bisa memberikan hadiah pada suaminya itu.


"Terima kasih ya Sayang, terima kasih karena sudah memberikan segala kebaikan untukku. Semua ketulusan yang kamu berikan padaku. Sungguh semuanya adalah hal yang tidak bisa terkira dengan apapun. Sayang, aku mencintaimu" ucap Gevin dengan mengelus pipi istrinya sangat lembut.


Zaina mengangguk, matanya berkaca-kaca, masih tidak menyangka jika pernikahannya bisa sampai sekarang. Bertahan sejauh ini ternyata cukup menjadi sebuah perjuangan dan perjalanan hidup yang tidak mudah. Sungguh Zaina tidak pernah menyangka jika saat ini dirinya sudah menjadi istri dari Gevin dan bisa menjalani segala kesulitan yang dialami.


"Aku buka hadiahnya ya, maaf karena aku belum menyiapkan hadiah apapun untuk kamu. Karena sebelumnya malam itu memang aku akan pergi ambil hadiah untuk kamu. Tapi kecelakaan itu terjadi, membuat aku tidak jadi mengambilnya" ucap Gevin.


Zaina tersenyum sambil mengelus punggung tangan suaminya. "Tidak papa Mas, aku tahu kalau semuanya akan terhambat dengan banyak hal. Karena memang kita yang tidak bisa mengubah takdir. Kecelakaan ini memang disengaja oleh orang yang berniat jahat. Tapi kita juga tidak bisa mneghindari jika diri kita memang harus mengalami hal ini"


Gevin tersenyum mendengar itu, tentu saja dia sangat bangga dengan pemikiran istrinya ini yang selalu berlapang dada dengan semua masalah yang menimpa. Kesabaran Zaina yang tidak ada batasya, menurut Gevin. Bahkan saat menjadi istrinya saja, dia begitu sabar menghadapi sikap Gevin yang berlaku tidak baik padanya.


Perlahan Gevin membuka kotak kecil di tangannya itu. Dia terdiam melihat benda kecil di dalamnya. Sebuah alat tes kehamilan yang menunjukan dua garis biru. Gevin langsung mendongak dan menatap istrinya dengan penuh tanya.

__ADS_1


Zaina mengangguk sambil memegang  perutnya sendiri. "Kita akan segera menjadi orang tua, Mas. Usianya sudah 6 minggu"


Zaina memberikan secarik kertas hasil USG pda suaminya. Gevin tidak bisa berkata-kata lagi melihat dua benda di tangannya ini. Sekarang dia tidak tahu harus mengucapkan pada istrinya. Dia langsung memeluk Zaina dengan air mata yang menetes begitu saja.


"Sayang, aku benar-benar tidak mneyangka jika saat ini kita sedang mendapatkan kebahagaiaan ini Terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan ini" ucap Gevin, air matanya menetes begitu saja. Gevin menatap lagi dua benda di tangannya.


Rasanya masih tidak percaya jika sekarang mereka telah bisa melewati semuanya. Dan akhirnya istrinya bisa hamil lagi. Berharap semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan pernah terulang lagi kejadian yang pernah terjadi.


"Sayang, aku benar-benar bahagia"


Zaina tersenyum mendengar itu, dia menepuk pelan punggung suaminya yang memeluknya itu. Tentu saja dirinya juga sangat bahagia dengan semua ini. Akhirnya setelah penantian yang panjang, dia bisa hamil kembali.


"Semuanya sudah bisa kita lalu Mas, jadi kedepannya kita juga harus bisa melalui semua ini. Kita harus bisa menjalani pernikahan ini dengan bahagia, meski mungkin kedepannya akan ada masalah dan cobaan lain. Tapi kita harus bersama untuk menghadapi dan melewati semua rintangan dalam hidup ini" ucap Zaina.


Gevin mengelus perut istrinya dengan tangan bergetar. Rasanya masih tidak percaya jika saat ini kembali hadir calon bayi mereka di dalam perut istrinya ini.


"Pokoknya mulai saat ini, kamu harus lebih menjaga diri dan jangan sampai kecapean lagi. Kamu sendiri tahu bagaimana aku yang takut jika akan terjadi apa-apa sama kamu dan calon bayi kita" ucap Gevin, masih teringat jelas tentang kepergian anaknya waktu itu.


Zaina mengangguk, dia memegang tangan Gevin yang berada di atas perutnya. "Kata Dokter, kehamilan aku saat ini baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun"


"Meski begitu, kamu tetap harus lebih hati-hati lagi dan harus lebih menjaga diri. Aku tidak mau sampai kamu dan bayi kita kenapa-napa" ucap Gevin.

__ADS_1


Zaina hanya mengangguk saja, dia merasa wajar jika sekarang suaminya itu begitu mengkhawatirkannya. Karena memang yang sudah terjadi di satu tahun yang lalu. Cukup menjadi sebuah trauma besar dalam diri Gevin. Bahkan Gevin lebih terlihat terpuruk ketika kehilangan bayi mereka pada saat itu.


Dan sekarang Zaina akan lebih menjaga kehamilannya ini. Karena dirinya juga tidak mau sampai membuat suaminya kecewa. Zaina hanya ingin menjadi istri yang memberikan kebahagiaan yang sebenarnya pada suaminya.


Gevin menundukan wajahnya, mengecup perut rata Zaina. "Terima kasih sudah hadir di perut Mama ya, tolong bantu Papa jaga Mama kamu ya. Baik-baik disana Sayang, sampai kita bertemu nanti"


Zaina tersenyum melihat Gevin yang sedang mengajak ngobrol anak dalam kandungannya. Dia mengelus kepala suaminya itu dengan lembut. "Semuanya akan baik-baik saja Mas, aku juga akan lebih berhati-hati lagi mulai saat ini"


Dan kebahagiaan ini berakhir dengan mereka yang saling mengabari anggota keluarga tentang kehamilan ini. Tentu saja semuanya sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini. Kehamilan Zaina yang di sambut dengan kebahagiaan semua orang.


Malam ini keduanya kembali tertidur dengan Zaina memeluk suaminya. Malam yang bahagia dan keduanya mulai bisa tertidur dengan tenang. Masalah yang mulai selesai satu-persatu. Belum lagi tentang kehamilan Zaina yang membuat semua orang sangat bahagia, Bahkan Gevin tidak pernah menyangka tentang hadiah yang diberikan oleh istrinya adalah tentang kehamilannya.


Ketika kicauan burung yang sudah terdengar dan sinar matahari yang sudah mulai mengintip dari jendela kamar, sepasang suami istri ini masih saling menatap penuh cinta di bawah gelungan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Gevin merapikan rambut Zaina yang menutupi wajahnya. Lalu dia memberikan kecupan di kening istrinya ini. "Selamat pagi Sayang"


Zaina hanya tersenyum, dia memang senang saja dengan semua ini. Tentu saja dirinya yang sangat bahagia dengan pagi hari yang menyambut hari ini. Karena sebuah kebahagiaan yang sedang mereka dapatkan. Zaina mengelus perutnya sendiri di balik selimut tebal itu.


"Ayo bangun Mas, aku mandi duluan ya"


"Hmm" Gevin hanya bergumam pelan, membuat Zaina menggeleng pelan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2