
Waktu berlalu dengan kehidupan yang tetap harus berjalan. Pernikahan Gevin dan Zaina yang saat ini sudah genap dua tahun pernikahan. Zaina bermaksud untuk menyiapkan makan malam sederhana bersama suaminya nanti malam. Tapi dia tidak banyak bicara pada Gevin karena memang ingin membuat kejutan.
"Hari ini pulang sore lagi?" tanya Zaina yang sedang membantu suaminya memasangkan dasi di leher suaminya.
"Mungkin agak malam sedikit, ada meeting nanti sore. Pasti selesainya akan agak malam" ucap Gevin.
"Tapi sebelum jam makan malam 'kan? Aku mau makan malam sama kamu nanti malam, jadi jangan makan malam di luar ya" ucap Zaina.
Gevin mengangguk, dia mengelus kepala istrinya dan mengecupnya dengan lembut. "Iya Sayang, kalau gitu aku pergi dulu ya"
Zaina mengangguk, dia mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. Dia memberikan tas kerja suaminya itu. "Hati-hati di jalan ya"
Gevin mengangguk, dia langsung berlalu pergi dari hadapan istrinya.
Malam harinya Zaina sudah selesai masak dengan dibantu oleh Mbak. Dia juga mulai menyiapkan seperti dinner romantis bersama dengan suaminya. Sedikit memberikan riasan di ruang makan ini menjadi nuansa yang terlihat sangat beberda dari sebelumnya.
Setelah Zaina juga siap dengan pakaian rapinya malam ini. Belum juga dia memberikan polesan makeup tipis di wajahnya. Dia sudah sangat menunggu suaminya, menatap jendela kamar dan ternyata hujan mulai turun malam ini. Musim yang sudah tidak menentu ini, terkadang cerah dan bisa langsung hujan bergitu saja. Sekarang dirinya malah takut jika suaminya akan terjebak macet karena hujan yang deras.
Zaina berbalik dan berjalan menuju meja, dia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi suaminya. Namun ponselnya yang tiba-tiba saja tidak aktif dan tidak bisa di hubungi.
"Apa mungkin Mas Gevin sedang di jalan dan ponselnya habis batre kali ya"
Perasaan Zaina yang merasa tidak enak kali ini, tidak merasa tenang karena suaminya yang sampai saat ini belum pulang kembali. Zaina yang bingung sekarang harus menghubungi Gevin bagaimana karena ponselnya tidak bisa dia hubungi.
Berjalan mondar-mandir di dalam kamar ini dengan ponsel di tangannya. Menunggu suaminya untuk cepat kembali pulang, masih menunggu kabar dari suaminya juga. Denting jarum jam yang terus berputar menemani keheningan malam yang semakin terasa mencekam ketika Zaina tidak juga mendapat kabar dari suaminya yang sekarang ini masih belum sampai di rumah.
__ADS_1
Sudah satu jam lewat dari waktu makan malam, Zaina semakin bingung dan tidak tenang karena suaminya yang masih belum juga sampai ke rumah. Padahal Zaina tahu jika Gevin adalah orang yang selalu menepati janjinya. Membuat dia yakin jika suaminya pasti akan pulang sebelum jam makan malam, sesuai janjinya tadi pagi. Tapi sekarang entah kenapa dirinya malah belum pulang juga hingga saat ini.
Drett..Drett..
Ponsel di tanganya yang berdering membuat Zaina langsung mengangkatnya. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, yang ada di dalam pikirannya hanya Gevin.
"Hallo, Mas kamu dimana?"
"Za, ini Ibu di depan rumah sama Genara. Kita ke rumah sakit sekarang"
Zaina langsung menatap layar ponselnya dan ternyata memang nomor ponsel Ibu mertuanya yang menghubunginya itu, membuat Zaina jadi bingung dan sedikit linglung. Apalagi ketika Ibu mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit malam hari begini.
"Bu, maksud Ibu kita ke rumah sakit sekarang? Memangnya ada apa?"
Tidak mendengar jawaban dari Ibunya lagi, membuat Zaina semakin penasaran. Dia segera mengambil tasnya dan pergi keluar rumah. Dia melihat mobil Genara yang sudah terparkir di depan teras rumah. Segera Zaina berlari dan masuk ke dalam mobil Genara itu.
Genara juga terlihat tidak banyak bicara, dia langsung melajukan mobilnya begitu saja. Ibu juga tidak menjawab pertanyaan Zaina, membuatnya semakin bingung saja. Perasaannya yang semakin merasa tidak enak.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung turun.Ibu dan Genara merangkul kedua tangan Zaina dan masuk ke dalam rumah sakit itu. Zaina yang semakin bingung dengan perasaannya yang semakin tidak enak.
"Bu, Gen, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Zaina.
"Za, pokoknya apapun yang terjadi, kamu harus kuat dan bisa menerima semuanya" ucap Ibu dengan suara yang bergetar seolah sedang menahan tangisan.
"Memangnya kenapa Bu? Apa yang sedang terjadi?"
__ADS_1
Namun pertanyaan Zaina itu langsung terjawab saat dia melihat Papa Gara yang berada di ruang tunggu dengan wajah yang kacau. Zaina langsung menoleh ke pintu ruangan di depan Papa Gara yang bertuliskan ruangan oeparasi. Sudah pasti bukan hal baik yang terjadi saat ini.
"Suami kamu mengalami kecelakaan, dan sekarang keadaannya cukup mnegkhawatirkan. Dia sedang menjalani operasi saat ini" ucap Ibu
Tubuh Zaina langsung lemas seketika, seolah kakinya yang sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi. Dia terjatuh ke atas lantai, beruntung Genara yang memegangi lengannya. Vania langsung langsung ikut berlutut di atas lantai dan memeluk Zaina yang menangis tanpa suara.
"Sabar Sayang, kita berdo'a saja kalau suami kamu akan baik-baik saja. Pasti Gevin akan kuat. Kamu harus sabar ya" ucap Vania sambil mengelus punggung menantunya itu.Bahkan dirinya juga sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi.
"Kenapa Bu, kenapa Mas Gevin bisa kecelakaan?" lirih Zaina dengan suara terisak.
"Ibu juga tidak tahu, kita semua belum tahu apa penyebabnya. Sekarang kita berdo'a saja dulu agar Gevin baik-baik saja" ucap Vania.
Vania dan Genara membawa Zaina untuk duduk di kursi tunggu. Vania yang terus memeluk menantunya yang sedang dalam keadaan lemah seperti ini. Dirinya juga sama, dia yang terus menangis karena membayangkan keadaan anaknya sekarang yang belum mendapatkan kabar baik apa-apa dari Dokter.
"Tenang Za, Gevin pasti akan baik-baik saja" ucap Papa Gara yang mencoba menenangkan, meski dirinya juga sangat khawatir dengan keadaan anak sulungnya itu. Namun Gara yang tetap harus menguatkan dirinya karena dia juga harus menguatkan para wanita lemah yang disayanginya ini.
Genara yang memeluk Ayahnya dengan tangisan yang pecah, dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Kakaknya saat ini.
Mereka semua sedang menduga-duga keadaan Gevin di dalam sana. Mencoba untuk yakin jika Gevin akan baik-baik saja dan bisa terselamatkan. Keheningna malam ini malah mereka lalui dengan menunggu di rumah sakit.
"Sabar Sayang, sudah ya jangan terus menangis. Kita harus kuat dan harus banyak berdo'a untuk suami kamu" ucap Vania yang terus mencoba menenangkan menantunya yang sedang dilanda kekacauan ini dn ketakutan akan kehilangan suaminya.
"Mas Gevin akan baik-baik saja 'kan Bu? Dia tidak boleh sampai meninggalkan kita"
Vania mengagguk, dia mengelus lembut kepala Zaina. "Kita hanya perlu yakin kalau suami kamu pasti akan baik-baik saja"
__ADS_1
Semuanya yang sedang berharap dan terus bedo'a agar Gevin memang akan baik-baik saja.
Bersambung