
Zaina menatap suaminya yang masih terlelap pagi ini. Masih tidak menyangka jika hari ini dia akan tidur bersama dengan suaminya lagi setelah selama beberapa bulan ini berpisah.
Zaina menyandar di atas tempat tidur sambil mengelus perutnya itu. "Sepertinya memang aku harus berkorban untuk anakku. Semoga saja memang Mas Gevin ini akan benar-benar berubah dan tidak akan mengulangi kesalahannya di masa lalu"
Saat ini Zaina hanya memikirkan tentang bagaimana dirinya yang harus memberikan yang terbaik untuk anaknya. Zaina merasa tidak mungkin juga jika anaknya lahir dengan keadaan orang tua yang sedang kacau seperti ini. Jadi Zaina hanya mencoba untuk memikirkan keadaan anaknya nanti. Jangan sampai anaknya harus menjadi korban keegoisan orang tuanya.
"Sayang.."
Gevin menggeliat pelan dan tersenyum ketika dia bangun dan kembali melihat istrinya yang ada di sampingnya. Gevin memeluk kaki Zaina yang berselonjor di sampingnya itu.
"Mas, apa bisa setelah ini kita tetap tinggal di rumah kamu?"
Jujur saja Zaina juga seorang perempuan yang pastinya tidak akan terlalu nyaman jika harus tinggal bersama dengan mertuanya. Bukan karena mertuanya itu tidak baik padanya. Justru mereka terlalu baik pada Zaina, membuat Zaina merasa tidak enak jika dia harus tinggal bersama dengan mertuanya yang pastinya akan memperlakukannya dengan sangat baik.
"Iya Sayang, nanti kita bilang sama Papa dan Ibu. Lagian memang rumah aku yang itu tidak pernah aku tempati. Dan sekarang aku ingin menempatinya bersama denganmu" ucap Gevin
Zaina mengangguk, dia akan mencoba untuk benar-benar memulai hal baru lagi bersama dengan Gevin. Meski hatinya belum benar-benar yakin, masih ada rasa takut jika suaminya akan memperlakukan dia seperti dulu.
"Mas, ini bukan sandiwara lagi 'kan?"
Gevin langsung mendongak mendengar pertanyaan dari istrinya yang penuh makna kesedihan itu. Gevin bangun terduduk di samping Zaina, dia menatap mata istrinya dengan lekat. Terlihat sekali adanya luka yang di balik tatapan mata itu.
"Sandiwara itu berakhir sejak aku mulai merasakan cinta padamu. Kau tahu? Aku sudah lama sekali aku mencintaimu. Namun bodohnya aku yang masih merasa ragu dengan perasaan aku sendiri"
Zaina menatap Gevin, masih terlihat tatapan tidak percaya darinya. Mungkin memang Zaina masih meragukan ungkapan cinta dari suaminya itu. Luka yang dia terima memang terlalu dalam hanya saja dia tidak mempunyai rasa benci pada suaminya. Semuanya hanya karena cintanya yang begitu dalam untuk Gevin.
__ADS_1
"Aku masih tidak bisa menyembuhkan luka di hatiku, Mas. Aku masih takut jika kamu akan melakukan hal yang sama lagi. Karena semuanya meninggalkan bekas yang membuat aku trauma"
Gevin memeluk Zaina, dia tahu bagaimana istrinya yang memang mencintainya dengan tulus. Namun apa yang dia lakukan malam membuatnya sangat terluka. Membuat Zaina sangat sulit untuk kembali percaya pada Gevin seratus persen.
"Maaf Za, maaf karena aku sudah membuat kamu terluka selama ini. Biarkan aku menyembuhkan kembali luka itu ya, izinkan aku menebus semua kesalahan aku padamu dengan membuat kamu bahagia mulai saat ini" ucap Gevin dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Zaina hanya terdiam mendengar itu, dia bisa merasakan ketulusan dari setiap kata yang diucapkan oleh Gevin. Seharusnya memang hatinya sudah menerima kenyataan yang ada.Namun hatinya masih sangat sulit untuk sembuh dan percaya seratus persen pada Gevin.
"Beri aku waktu untuk benar-benar percaya padamu lagi, Mas. Aku akan berusaha untuk tetap percaya padamu dan memulai semuanya lagi seperti yang kamu ucapkan"
Gevin mengangguk, dia tentu tidak akan bisa memaksa istrinya untuk bisa benar-benar percaya lagi padanya. Zaina yang masih mau menerima dirinya saja sudah sangat bersyukur. Jadi tidak mungkin Gevin akan memaksa Zaina untuk bisa memepercayainya lagi.
"Aku akan memberikan kamu waktu sampai kamu benar-benar bisa percaya lagi padaku" ucap Gevin sambil mengecup puncak kepala istrinya.
Akhirnya setelah seharian di rumah orang tuanya, membuat Gevin langsung bicara pada orang tuanya jika dia memang akan kembali tinggal di rumahnya bersama sang istr.
"Tapi kamu benar-benar tidak akan membuat Zain terluka lagi 'kan? Jangan sampai terus membuat Ibu dan Papa kamu malu sama Om Hildan dan Jenny, karena kelakuan kamu terhadap putri mereka" ucap Vania
"Iya Bu, aku sudah menyesali semua yang telah aku perbuat. Aku tidak akan pernah bisa melakukan kesalahan yang sama darimu" ucap Gevin
Dan akhirnya orang tuanya sudah mau melepaskan dia untuk pergi tinggal di rumahnya sendiri. Berharap jika Gevin benar-benar tidak akan membuat istrinya terluka lagi.
Ketika sampai disana, Gevin langsung membawa Zaina masuk ke dalam rumahnya. Zaina yang memang cukup tidak nyaman tinggal di rumah orang tua suaminya. Hanya karena dia merasa canggung saja jika harus tinggal bersama.
"Kamu mandi dulu ya, biarkan aku siapkan makan malam. Hari ini belum ada Mbak, mungkin besok aku sudah menyuruh Mbak untuk membantu kamu di rumah" ucap Gevin pada istrinya
__ADS_1
Zaina mengangguk faham, dia duduk di atas sofa. Mengelus perutnya yang semakin membesar. "Kamu saja yang mandi duluan. Biar aku saja yang masak, Mas. Lagian masa malah kamu yang membuatkan makanan untuk aku"
Gevin ikut duduk di sampingnya, dia mengelus kepala Zaina dengan lembut. Dia mengecup keningnya. "Karena aku hanya ingin menjadikan kamu ratu dalam hidupku. Jadi biarkan aku sekali ini saja memberikan yang terbaik untuk kamu"
Zaina menatap mata Gevin dengan lekat, memang suaminya itu berucap dengan sungguh-sungguh. Dia tidak melihat kebohongan sama sekali. Hatinya bergetar penuh haru.
"Mas, seandainya kamu seperti ini sejak dulu. Mungkin tidak akan pernah aku merasakan hidup sendiri dan kesepian dalam keadaan hamil seperti ini"
Tess..
Air matanya yang menetes begitu saja, Zaina benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan diri dan menjadikan dirinya wanita yang kuat dan tegar. Meski kenyataannya dia adalah wanita yang sangat rapuh karena keadaan.
"Maafkan aku Sayang, maaf karena aku terlalu bodoh dulu. Menganggap kamu tidak pernah mencintaiku dan menganggap jika aku juga tidak pernah mencintaimu. Aku yang bodoh menafsirkan perasaanku sendiri"
Rasanya hati Gevin benar-benar hancur melihat air mata istrinya. Dia langsung mengusapnya dan memberikan kecupan di kedua kelopak mata Zaina.
"Aku mencintaimu, Zaina"
Zaina tidak menjawab, dia langsung memeluk Gevin dengan erat. Kata cinta yang memang dia harap dengar dari dulu, namun baru bisa dia dengar saat ini. Padahal Zaina sangat berharap sejak dulu jika suaminya akan mencintainya. Dan sekarang do'anya itu sedang terkabul.
"Aku siap memulai semuanya dari awal Mas, asalkan kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama" ucap Zaina dengan isakan kecil di akhir kalimatnya.
Gevin tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca. Gevin juga tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan istrinya dan mendapatkan kembali istrinya, meski mungkin Zaina belum benar-benar percaya seratus persen padanya. Namun dia akan tetap berusaha membuat istrinya itu kembali percaya padanya.
Bersambung
__ADS_1