Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Pergi Ke Pemakaman


__ADS_3

Berada di depan gundukan tanah yang sudah lama mengering. Zaina tidak menangi, namun terlihat jika dirinya sedang mencoba untuk menahan kesedihan yang ada. Namun sepertinya memang sudah tidak ada air mata lagi untuk kepergiaan Ibunya. Zaina sudah menerima takdir ini.


Namun kesedihan yang masih ada bagi anak perempuan yang merindukan sosok Ibu kandung. Meski sekarang sudah ada Ibu pengganti yang sangat baik dan menyayanginya dengan tulus, namun untuk seorang anak tetap akan merindukan Ibunya. Apalagi ketika Zaina harus kehilangan Ibu kandungnya sejak dia lahir. Dia hanya mengetahui wajah Ibunya dari sebuah foto saja.


"Sayang.." Gevin mengelus kepala istrinya, dia tahu jika diamnya Zaina adalah sebuah kesedihan yang dia pendam. "...Ibu kamu pasti akan sangat senang jika sekarang kamu sudah mau menjadi seorang Ibu, Sekarang kamu harus tetap bahagia"


Zaina mengangguk pelan, dia mengusap nisan dengan nama Ibunya itu. "Mommy, ini aku datang lagi. Sekarang tidak bersama Hilmi lagi, tapi dengan suamiku. Do'akan kami tetap bahagia ya"


Maafkan aku karena pernah melukai putrimu, tapi aku janji mulai saat ini akan membahagiakannya.


Gevin hanya bisa mengucapkan kata maaf pada Ibunya. Karena dia yang sedang menyesali semua perbuatannya yang telah dia lakukan pada istrinya itu.


"Sayang, kita segera kembali yuk? Sekarang kita harus pulang"


Zaina mengangguk, dia berdiri setelah mengusap sekilas batu nisan Ibunya. Setelah itu mereka langsung kembali ke rumah orang tua Zaina, berpamitan untuk segera kembali ke Ibu kota.


"Apa tidak mau menginap lagi Kak, padahal Bunda masih kangen loh"


Zaina tersenyum, dia begitu bersyukur bisa memiliki Bunda seperti Jenny. Ibu sambung yang begitu menyayangi Zaina dengan tulus dan tidak pernah membedakan diantara Zaina dan kedua adiknya yang jelas lahir dari rahimnya.


"Kapan-kapan ya Bun, kalau gitu Bunda saja yang datang ke Ibu kota dan menginap disana" ucap Zaina sambil memeluk Jenny


Jenny hanya tersenyum mendengar itu, dia juga sangat ingin menemani anaknya di hari-hari persiapan melahirkan. "Kalau Daddy kamu izinkan, mungkin hari ini juga Bunda akan ikut kalian ke ibu kota dan menemani masa-masa kamu mendekati waktu lahiran. Tapi kamu tahu sendiri 'kan bagaimana Daddy kamu yang selalu tidak bisa berjauhan dengan Bunda"


Zaina tertawa kecil mendengar ucapan Bundanya itu. Jelas dia tahu bagaimana Ayahnya yang selalu posesif pada Bunda. Apalagi ketika Bundanya yang tidak bisa untuk jauh darinya, Hildan selalu marah.


"Yaudah Bun, turuti saja. Lagian memang Daddy kayak gitu 'kan"

__ADS_1


Akhirnya meski sedikit berat, Jenny tetap tidak mempunyai alasan untuk tidak kembali pulang ke tempat tinggal mereka. Karena sejatinya anak perempuan harus ikut suaminya, ketika memang dia sudah menikah. Orang tua pun tidak akan bisa melarangnya, karena memang suaminya sudah menjadi tanggung jawabnya.


Gevin menatap istrinya yang terlelap di dalam mobil selama perjalanan. Mungkin Zaina sudah terlalu kelelahan. Gevin membenarkan posisi bantal kecil di balik kepala Zaina agar lebih nyaman.


"Sayangnya aku, terima kasih karena sudah memberikan kesempatan ini padaku"


Samar suara Gevin itu terdengar di telinga Zaina, namun dia tetap untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Tetap memejamkan mata dan ingin tahu Gevin akan berbicara apalagi ketika dia terlelap.


Gevin mengalu kepala istrinya dengan lembut, lalu beralih ke perutnya Zaina yang membesar. Bayinya di dalam sana langsung memberikan respon dengan sebuah tendangan yang Gevin rasakan ketika dia mengelus perut istrinya itu.


"Sayang, jaga Mama dengan baik ya. Papa akan mencintai Mama kamu selamanya, tidak akan lagi Papa ulangi kesalahan yang pernah terjadi"


Getaran penuh haru di hatinya membuat Zaina langsung membuka matanya dan menatap Gevin dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Mas.."


Gevin mengangguk dengan tangan mengelus punggung istrinya. "Terima kasih sudah memberikan yang terbaik untuk aku. Mulai saat ini aku akan mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu dan membantu kamu untuk menyembuhkan luka itu"


Zaina mengangguk, dia menangkup wajah suaminya. Lalu memberikan dua kecupan kejutan di bibir suaminya. Sampai suara deheman dari pak supir yang berada di depan membuat Zaina terdiam. Dia langsung mendorong tubuh suaminya untuk menjauh darinya, memalingkan wajahnya yang memerah malu ke arah jendela mobil. Zaina sampai tidak sadar kalau disana juga ada supir.


Gevin terkekeh pelan melihat kelakuan istrinya ini, meski awalnya dia sangat terkejut karena Zaina yang mendorong tubuhnya tiba-tiba.


"Pak kenapa harus bersuara si, padahal lagi romantis loh barusan"


"Mas..."


Zaina langsung mencubit tangan suaminya yang bicara seenaknya itu. Sudah tahu dia sangat malu, malah Gevin bahas lagi. Semakin memerah saja wajah Zaina.

__ADS_1


"Apa Sayang? Kenapa malah mencubit ku?" tanya Gevin pura-pura tidak tahu.


Zaina hanya melengos kesal dengan wajahnya yang semakin merah saja. Suaminya ini memang tidak mengerti kalau dirinya sedang malu. Malu karena dia yang melakukan hal itu duluan.


Zaina menatap suaminya dengan kesal, namun dia tetap menggeser duduknya karena entah kenapa sekarang ini Zaina sangat menyukai aroma tubuh suaminya. Entah karena dia sedang mengandung saat ini.


Gevin tersenyum melihat istrinya yang sudah mulai masuk ke dalam pelukannya. Gevin memeluk Zaina dengan lembut sambil memberikan beberapa kecupan di keningnya.


"Sebentar lagi nyampe, kamu pasti sudah lelah"


Zaina tidak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya sambil mencium aroma tubuh suaminya yang membuat dia candu. Dia juga heran dengan tingkahnya akhir-akhir ini. Merasa sangat senang ketika mencium aroma tubuh Gevin, meski di saat suaminya itu belum mandi sekalipun.


Ketika sudah sampai di rumah, Gevin langsung membawa Zaina ke kamarnya untuk istirahat. "Besih-bersih dulu yuk, biar aku bantu. Baru istirahat"


Zaina mengangguk, dia merentangkan tangannya dan meminta Gevin untuk menggendongnya. Entahlah, dia jadi manja seperti ini, entah sejak kapan. Namun Gevin tetap senang dan sabar menghadapi Zaina yang sedang menunjukan kemanjaannya.


Gevin menggendong istrinya itu menuju kamar mandi, membantunya untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. Setelah selesai, kembali menggendong Zaina untuk kembali ke dalam kamar. Menidurkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dengan lembut.


"Tidur saja, aku mau ke ruang kerja sebentar. Ada email yang harus aku cek"


Terpaksa hari senin ini tidak masuk kerja dan Gevin harus mulai memeriksa pekerjaan yang diberikan oleh bawahannya itu.


"Kalau sudah langsung kembali lagi ke kamar ya" ucap Zaina dengan manja


Gevin tersenyum, dia mengelus kepala istrinya lalu memberikan kecupan di keningnya. "Iya Sayang, sekarang kamu tidur saja dulu"


Zaina mengangguk dan membiarkan Gevin keluar dari kamarnya. Karena terlalu lelah, membuat dia dengan mudah terlelap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2