
Suasana yang masih terasa tegang saat ini. Bagaimana ucapan Edgar barusan seolah menjadi boomerang untuk Genara. Saat ini Papa Gara dan Gevin jadi menanyakan padanya atas hubungan yang tengah terjadi diantara Genara dan Edgar. Namun, Genara tetap tidak merasa ada hubungan apapun selain atasan dan bawahan. Dan itu memang benar adanya.
"Pa, aku gak punya hubungan apapun dengan Pak Edgar. Beneran hanya status pekerjaan saja" ucap Genara, mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Genara melirik Edgar yang terlihat biasa saja, padahal dirinya sudah sangat tegang dan khawatir dengan semua ini. Tapi tetap saja sekarang Genara harus meluruskan semuanya. Belum lagi Genara yang masih bingung dengan Edgar, kenapa dia bisa mengucapkan hal seperti itu di depan Ayah dan Kakaknya.
"Em, sebaiknya untuk hal ini akan kita bicarakan saja nanti saat sudah selesai acara. Sekarang kalian bisa menikmati acara ini dulu" ucap Edgar dengan sopan.
Bagaimana bisa aku menikmati acara jika dia sudah mengatakan hal itu duluan. Sekarang aku akan habis ditanya-tanya sama Papa dan Kakak.
Genara yang rasanya ingin berteriak kesal pada Edgar yang sudah mengacau semuanya. Karena sekarang Papa Gara dan Gevin tentu akan banyak bertanya padanya atas apa yang telah diucapkan Edgar barusan.
Padahal jelas Genara dan Edgar saja memang belum mempunyai hubungan apapun. Mereka berdua memang belum ada kejelasan yang serius dalam hubungan. Meski sering Edgar menunjukan ketertarikan pada Genara.
"Baiklah, sebaiknya kalian berdua perjelas dulu hubungan diantara kalian" ucap Papa Gara.
Dan setelah itu, Papa Gara mengajak Gevin untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Genara dan Edgar disana. Genara yang masih kebingungan dengan sikap dan ulah Edgar itu. Tapi Ayah dan Kakaknya malah meninggalkannya berdua dengan pria ini. Membuat Genara semakin terjebak dalam kebingungan saja sekarang. Dia juga bingung harus berbicara apa pada Edgar saat ini.
"Maaf Pak, tapi sebenarnya apa maksud Bapak bicara seperti tadi? Kalau hanya bercanda, saya rasa bercandaan Bapak benar-benar tidak lucu" ucap Genara pelan.
Edgar menoleh pada gadis cantik disampingnya, lalu dia tersenyum. "Saya tidak bercanda, memangnya terlihat kalau wajah saya ini adalah pria tukang bercanda?"
Genara menggeleng pelan, memang Edgar adalah sosok yang serius. Tapi untuk ucapannya barusan, apa memang dia benar-benar serius? Rasanya Genara masih tidak percaya dan tidak yakin. Sejatinya memang hatinya yang masih belum terbuka untuk cinta yang baru. Karena sudah merasa gagal dengan kisah cinta pertamanya.
__ADS_1
"Saya mohon jangan bercanda Pak, saya sedang tidak ingin bercanda dengan siapapun"
Edgar tersenyum tipis, dia menatap Genara dengan lekat. "Sudah saya bilang kalau saya ini tidak sedang bercanda Genara. Kenapa kamu tidak percaya begitu? Memangnya kamu melihat saya sedang bercanda sekarang ini?"
Genara langsung terdiam, menatap mata Edgar yang juga sedang menatap ke arahnya. Membuat tatapan mereka terkunci dan sekarang Genara bisa merasakan debaran di hatinya. Masih mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini. Karena sebenarnya dia tidak bisa membuka hati lagi, semuanya karena dirinya yang masih merasa trauma akan cinta.
Jangan gampang jatuh cinta Genara! Ingat jika kamu pernah sangat terluka karena cinta itu sendiri. Begitulah hatinya sendiri yang mengingatkan agar dia tidak gampang jatuh cinta pada siapapun. Karena memang dirinya yang masih takut dan mempunyai trauma tersendiri akan sebuah cinta.
"Maaf Pak, tapi saya masih belum siap untuk ucapan Bapak tadi, meski memang Bapak tidak sedang bercanda"
Genara langsung berlalu dari hadapan Edgar saat itu. Dia harus menenangkan dirinya agar dia tidak terjebak dengan cinta semu yang pernah dia rasakan. Meski Edgar terlihat serius, tapi Genara tidak yakin jika pria itu memang benar-benar serius.
"Aku tidak boleh gampang percaya sama pria dan jangan sampai gampang jatuh cinta pada siapapun. Aku harus mempertahankan hatiku sendiri" gumamnya sambil terus berjalan.
#########
"Duduk dulu Mas, biar aku ambilkan minum" ucap Zaina.
Setelah suaminya duduk, dia segera mengambilkan segelas air putih untuk suaminya. Lalu ikut duduk disamping suaminya. "Mas kelihatan lelah sekali, apa ada masalah? Atau pekerjaan yang sedang banyak?"
Gevin menggeleng pelan, memang bukan dua hal itu yang membuatnya terlihat lelah. Tapi karena dirinya yang masih memikirkan tentang istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.
Masih terlalu takut, karena bayangan melahirkan pertama Zaina waktu itu saja sudah membuatnya sangat ketakutan. Melihat istrinya yang mengalami pendaharan hebat, membuat Gevin takut hal itu akan terjadi kembali. Meski dia terus berdo'a agar hal itu tidak kembali terjadi.
__ADS_1
"Tidak papa Sayang, aku hanya lelah saja karena tadi abis hadiri acara pesta ulang tahun salah satu rekan kerja. Atasannya Genara" ucap Gevin.
"Oh ya, terus bagaimana kabar Genara? Sudah lama tidak datang kesini? Apa dia baik-baik saja?" Ucap Zaina.
"Gen baik-baik saja, hanya saja ada sedikit kejadian tidak terduga tadi" ucap Gevin, semakin membuat Zaina penasaran saja.
"Kejadian apa Mas?"
Akhirnya Gevin tetap menceritakan tentang kejadian yang terjadi tadi. Tentu saja Zaina cukup terkejut mendengar cerita Gevin itu. Tapi lalu dia tersenyum karena senang kalau sampai Genara sudah membuka hati untuk pria lain dan cinta yang baru.
"Lalu bagaimana? Apa Genara menerimanya? Mungkin saja pria itu memang sangat serius dengan Genara, jadi langsung saja berucap tentang pernikahan di depan kamu dan Papa" ucap Zaina.
Gevin menghela nafas pelan, dia merangkul bahu istrinya dan memeluknya. "Entahlah, tapi Genara terlihat masih trauma dengan pria manapun. Bahkan dia tidak terlihat senang ketika Edgar mengatakan hal itu. Malah terlihat terkejut dan tidak suka dengan ucapan Edgar itu"
Zaina terdiam mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya dia juga bisa sedikit mengerti perasaan Genara saat ini setelah cintanya yang kandas dan hancur begitu saja hanya karena si pria yang ternyata tidak mencintainya.
"Tidak papa Mas, jangan dipaksa. Biarkan dulu Gen tenang dan bisa membuka hatinya kembali dengan sendirinya nanti. Jadi Genara tetap harus menenangkan dirinya dulu untuk bisa membuka hati untuk cinta yang baru"
Gevin mengangguk saja dengan ucapan istrinya itu, karena dia juga tahu bagaimana Genara yang begitu hancur saat mengetahui tentang Aldo yang ternyata tidak mencintainya.
"Sekarang ayo mandi dulu Mas, biar aku siapkan airnya ya" ucap Zaina yang sudah berdiri dari duduknya. Gevin langsung mengulurkan tangannya meminta Zaina untuk menariknya bangun. Zaina hanya terkekeh dengan kelakuan suaminya ini. Langsung dia membantu Gevin untuk berdiri.
"Ayo mandi dulu, nanti langsung makan malam. Mbak sudah masak banyak tadi" ucap Zaina.
__ADS_1
Gevin hanya mengangguk dan mengekori Zaina saja yang sudah seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
Bersambung