
Semuanya di mulai dari kecupan di kening Zaina, lalu beralih pada bibirnya. Sebuah kecupan pertama yang membuat Zaina terdiam. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Zaina sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam hal seperti ini, bahkan untuk ciuman bibir pun, Zaina sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang semua ini.
"Buka mulutmu Sayang" lirih Gevin masih dengan bibirnya yang menempel di bibir istrinya.
Zaina membuka mulutnya dan lidah Gevin langsung masuk ke dalam rongga mulut Zaina. Menjelajahi setiap detail rongga mulut Zaina. Kecapan-kecapan itu terdengar sangat jelas di seluruh ruangan.
Perlahan Gevin menggiring tubuh istrinya ke atas tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan Gevin yang berada di atasnya, bertopang dengan tangan dan lututnya. Menatap Zaina dengan senyuman penuh arti.
"Zaina, boleh sekarang aku melakukannya?"
Zaina mengangguk dengan perlahan, dia menatap Gevin dengan matanya yang berkaca-kaca. Akhirnya dia bisa memiliki suaminya dengan seutuhnya. Tidak peduli Gevin melakukan hal ini karena cinta atau bukan, tapi Zaina hanya ingin memberikan apa yang dia miliki paling beharga dalam hidupnya pada pria yang dia cintai. Alasannya hanya satu, karena cinta.
Tangannya mencengkram sprei putih itu saat suaminya mulai melakukan haknya.
########
Lolyta terdiam saat dia melewati kamar itu, terdengar suara-suara ******* yang jelas dia tahu jika suara itu adalah suara orang yang sedang bercinta. Lolyta tersenyum tipis.
"Aku tahu jika kamu sudah mencintainya, Vin. Bodoh karena aku tidak menyadari dari awal tentang hal ini"
Menyesal? Tidak, Lolyta tidak menyesal untuk semua yang telah terjadi. Karena memang dirinya yang sudah memutuskan dan memilih jalan hidup seperti ini.
"Aku akan mencoba bahagia untuk Gevin, karena aku tidak akan pernah merebut hak kebersamaan Zaina dan Gevin"
Menerima kenyataan adalah hal yang lebih baik daripada harus terus melawan keadaan yang ada. Hidupnya seperti ini adalah sebuah pilihan, jadi tidak akan Lolyta menyeselai apa yang sudah menjadi pilihan hidupnya sendiri.
Lolyta kembali ke kamarnya, membiarkan kedua insan yang sedang bercinta itu tenang dan terus bahagia.
"Ah.. Sayang, kamu sangat memuaskan"
"Ahh... Mas"
"Keluarkan Sayangku.."
Hingga teriakan keduanya terdengar lebih panjang, ketika keduanya mengalami pelepasan. Tubuh Gevin ambruk di atas tubuh Zaina. Tangan Zaina melingkar di leher Gevin dengan nafas yang masih memburu.
"Gevin, aku ingin selamanya menjadi istrimu"
Gevin mendongak, dia menatap Zaina. Tangannya mengelus pipi Zaina. "Aku juga tidak akan pernah melepaskan kamu apapun yang terjadi. Zaina, tetaplah bersamaku"
__ADS_1
Cup..
Gevin mengecup bibir istrinya, tidak ada kebahagiaan yang dia rasakan selain hari ini. Gevin beralih tidur di samping istirnya, lalu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Tidur ya, kamu pasti kelelahan"
Zaina tersenyum dengan wajahnya yang memerah malu. Dia beringsut memeluk suaminya. Gevin kembali mengecup keningnya, dan semakin mengeratkan pelukannya.
Keduanya terlelap setelah melewati banyak waktu untuk kenikmatan yang keduanya nikmati.
########
Zaina terbangun entah jam berapa, dia melirik jam dinding di kamarnya. Sampai tersadar kalau dirinya belum menyiapkan makan malam, apalagi ada Lolyta disini.
"Mas ih, kamu kok gak bangunin aku. Aduh, aku belum masak makan malam"
Gevin menggeliat pelan, dia melihati istrinya yang sedang sibuk dengan panik. "Ada apa Sayang, kamu bangun buru-buru kitu, nanti pusing"
"Aku belum masak makan malam"
Gevin bangun dan duduk menyandar di atas tempat tidur. "Sayang, kita pesan makanan saja. Kamu masih lelah"
Zaina terdiam, dia mengambil jubah mandi dan segera memakainya. "Yaudah deh kalau gitu, aku mau mandi dulu ya"
Gevin tersenyum melihat cara jalan Zaina yang sedikit berbeda. Gevin menyentuh dadanya, rasanya ada rasa kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.
"Aku tidak akan pernah melepaskannya, karena aku benar-benar sudah memilikinya sekarang"
Selesai mandi, Zaina segera keluar kamar dan melihat Lolyta yang berada di ruang tengah. Zaina segera menghampirinya, duduk di samping Lolyta.
"Lolyta, maaf ya kamu pasti jenuh deh. Aku malah ketiduran sama Mas Gevin"
Lolyta menoleh dan tersenyum, dia melihat rambut Zaina yang masih sedikit basah. "Gak papa Za, kamu keramas jam segini?"
"Emm.." Zaina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah yang memerah. "...Bukan apa-apa, hanya tidak nyaman saja karena tadi pagi lupa keramas"
Lolyta hanya tersenyum, dia tidak mau membahasnya lagi karena dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh ya Ly, kamu mau pesan makan apa untuk malam ini? Aku tidak masak, kata Mas Gevin biar pesan makanan saja"
__ADS_1
"Apa saja Za, aku tidak ada alergi apapun kok"
Zaina mengangguk, dia mulai mengotak-ngatik ponselnya. "Apa saja ya, aku pesankan. Asal jangan yang pedas ya"
"Iya Za"
Gevin keluar dari kamar setelah selesai mandi, menatap kedua wanita yang saat ini menjadi istrinya. Merasa tidak percaya jika saat ini dirinya memiliki dua istri sekaligus.
"Sayang, kamu sudah pesan makanan"
"Udah Mas, kamu pesan yang biasa saja ya"
Gevin mengangguk, dia menghampiri keduanya dan duduk di samping Zaina. "Ly, bagaimana keadaan kamu? Besok kita ke rumah sakit untuk kontrol"
"Ya, masih begini saja Vin"
Rasanya dia tidak menyangka jika sekarang, panggilan sayang itu bukan lagi tertuju padanya. Tapi pada Zaina, terlihat jelas jika saat ini Gevin memang sudah mencintai Zaina, bulan lagi mencintainya seperti dulu.
Gevin mengelus kepala Zaina dengan lembut, dia masih merasa tidak menyangka jika kini dia telah memiliki Zaina secara seutuhnya.
Zaina langsung melepaskan tangan Gevin yang memainkan rambutnya. Dia merasa tidak nyaman pada Lolyta, dan entah kenapa Gevin malah seolah sengaja menunjukan kemesraan di depan Lolyta.
"Mas, apasi mainin rambut segala"
"Abisnya rambut kamu wangi, hitam lebat lagi. Aku menyukainya"
Zaina langsung menoleh pada suaminya dengan bola mata yang bergerak-gerak, member isyarat pada suaminya jika saat ini bukan hanya ada mereka, tapi ada Lolyta juga yang sudah menjadi istrinya.
"Tidak papa Za, aku mengerti kok. Kan memang aku tidak mempunyai rambut sekarang"
"Ly..." Zaina memegang tangan Lolyta, dia tahu apa yang di rasakan olehnya. "...Kamu cantik Ly, jadi jangan merasa insecure ya. Aku yakin kamu akan sembuh dan akan kembali cantik lagi dengan rambut kamu"
Lolyta hanya tersenyum, dia tidak menyangka jika Zaina akan begitu baik dan menerimanya dengan hati terbuka.
"Terima kasih Za"
Zaina tersenyum, dia mengelus punggung tangan Lolyta. "Kamu jangan terlalu banyak pikiran, semuanya baik-baik saja"
Gevin menatap Zaina yang terlihat begitu tulus menerima Lolyta. Seharusnya Gevin menyadari sejak dulu, jika istrinya adalah wanita terbaik.
__ADS_1
Maafkan aku, karena belum bisa membuat kamu bahagia.
Bersambung