
Kertas itu jatuh ke atas lantai, tangan Gevin benar-benar lemas sampai dia sudah tidak kuat lagi hanya untuk memegang kertas di tangannya itu. Gevin menjatukan kepalanya ke sandaran sofa.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan sampai membuat istriku pergi. Zaina, kenapa harus sampai pergi begini"
Gevin masih harus banyak berpikir, dia harus mencari Zaina kemana saat ini. Sementara hari yang sudah hampir malam, Gevin benar-benar bingung sekarang. Sampai dia teringat sesuatu, Zaina tidak terlalu banyak kenalan di kota ini. Jadi dia tidak mungkin pergi jauh.
"Pasti ke rumah ibu"
Gevin langsung menyambar kunci mobilnya dan keluar dari Apartemen untuk mencari Zaina ke rumah orang tuanya
Malam ini juga Gevin langsung pergi ke rumah orang tuanya. Karena dia yakin jika Zaina akan pergi kesana, di kota ini tidak ada yang di kenal Zaina selain keluarganya.
"Bodoh kamu Gevin, bagaimana bisa kamu mnegucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan pada istrimu yang sudah berjuang selama ini untuk tetap bertahan denganmu"
Gevin memaki dirinya sendiri, dia juga bingung kenapa dia harus mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan pada istrinya itu. Padahal jelas Gevin tahu sendiri, bagaimana Zaina yang bahkan tidak mau di bawa pergi oleh Bundanya hanya karena dia ingin bertahan dengan Gevin. Namun sekarang, dia malah membuat istrinya itu terluka dengan sangat dalam.
"Sayang, tolong jangan benar-benar meninggalkan aku" lirihnya pelan
Gevin memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman rumah orang tuanya. Dia langsung masuk dengan memanggil nama Zaina. Vania, Gara dan Genara yang sedang duduk di ruang tamu langsung menatap ke arah Gevin dengan bingung.
"Ada apa kamu datang malam-malam begini, Vin?" tanya Papa Gara
Gevin langsung menghampiri mereka semua, duduk di kursi tunggal disana. "Zaina, apa ada disini?"
"Lah Kakak suaminya, kok malah nanya Kak Zaina sama kita?" ucap Genara merasa bingung dengan Kakak laki-lakinya itu
Gevin mengusap wajah kasar, dia bingung sendiri harus melakukan apa. Saat ini dia tidak bisa berpikir jernih, jika memang Zaina tidak ada disini, maka dimana lagi dia harus mencarinya.
__ADS_1
"Bu, beneran Zaina tidak ada disini?" tanya Gevin sekali lagi
Vania mengangguk dengan yakin, dia menatap anaknya dengan wajah yang bingung. "Memangnya kemana istri kamu itu?"
Gevin terdiam, dia memang harus menjelaskan semuanya sekarang. Tidak mungkin juga untuk berbohong pada orang tuanya di saat semuanya sudah menjadi kacau seperti ini.
"Maafkan aku Bu, Pa. Tapi memang semua ini juag karena kesalahanku. Aku yang tidak bisa menjaga Zaina dengan baik"
Vania menghela nafas pelan, sebenarnya dia sudah tahu apa yang telah terjadi dengan pernikahan anaknya. Dia tahu dari siapa tidak penting, tapi memang Vania baru saja tahu beberapa saat yang lalu.
"Sekarang begini saja, apa kamu mencintai Zaina?" tanya Vania
Gevin mengangguk dengan cepat, dia mencintai Zaina. Dan mungkin memang sekarang ini perasaan cintanya hanya untuk Zaina, tidak ada lagi cinta untuk Lolyta.
"Kau sudah mengatakannya?" tanya Vania lagi
"Dasar bodoh!" ucap Genara sambil tersenyum mengejek pada Kakaknya itu. "...Aku kayak gak bisa ngebayangi jadi Kak Zaina yang bisa betah begitu saja menjadi istrinya Kakak. Kalau aku jadi dia, sudah pergi dari kapan tahu. Nih ya Kak, wanita itu butuh kejelasan. Kalau Kak Gevin sama sekali tidak mengatakan perasaan Kakak sama Kak Zaina, ya pastinya istri Kakak itu pergi dan meninggalkan Kakak"
Gevin terdiam mendengar ucapan adiknya itu. Mungkin memang selama ini dia terlalu mengabaikan tentang ungkapan cinta yang memang seharusnya sudah dia ungkapkan pada Zaina sejak lama. Salahnya yang tidak bisa lebih peka lagi pada istrinya itu.
"Sekarang lebih baik kamu pulang saja, siapa tahu Zaina akan kembali laigi ke Apartemen kamu" ucap Papa Gara
Gevin mengangguk, mungkin dia harus kembali ke Apartemen, karena kemungkinan Zaina akan kembali lagi ke Apartemannya jika dia tidak bisa menemukan tempat tinggal lain.
"Kalau misalkan Zaina datang kesini, tolong beri tahu aku ya" ucap Gevin pada keluarganya itu
"Iya" hanya Vania yang menjawabnnya.
__ADS_1
Genara menoleh sampai dia melihat Gevin sudah keluar dari rumah ini dan menutup pintunya. Genara menghembuskan nafas lega sambil memegang dadanya sendiri.
"Huh, untung saja tidak curiga di, Bu"
Vania mengangguk, dia menatap pintu kamar yang tertutup di lantai atas kamar ini. "Gen, kamu lihat Kakak ipar kamu itu. Dia pastinya belum makan malam"
"Iya Bu"
#######
Gevin kembali ke Apartemen, namun tidak ada siapapun disana. Ternyata Zaina memang tidak kembali lagi ke Apartemennya ini. Zaina sepertinya memang sudah tidak mempunyai lagi kesempatan untuk Gevin, hingga dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Gevin.
"Za, sebenarnya kamu kemana Za? Kenapa harus meninggalkan aku seperti ini"
Gevin masuk ke dalam kamarnya, dia teringat tentang buku yang pernah di berikan Zaina padanya. Gevin langsung mengambil buku itu dan duduk di sofa untuk melanjutkan kembali membaca kisah istrinya itu dan orang yang katanya sangat dia cintai sampai saat ini.
Lembar demi lembar Gevin baca, tanpa ada yang terlewatkan. Semuanya mengisahkan tentang perjalanan Zaina sejak masuk sekolah menengah atas. Sampai di halaman tengah, Gevin menemukan tulisan Zaina yang berhasil membuatnya terdiam.
Tadi siang dia datang ke rumahku bersama orang tuanya. Aku senang sekali bisa melihat wajahnya yang selalu tersenyum ramah pada siapapun. Ya Tuhan, sepertinya aku memang benar-benar mencintainya.
Perasaan Gevin mulai tidak tenang saat bacaannya sudah tertuju pada pria yang dicintai Zaina. Meski belum di sebutkan siapa pria itu sebenarnya, tapi hati Gevin sudah berdebar tidak tenang. Gevin membuka lagi lembar selanjutnya di buku itu.
Hari ini dia menghubungi aku, sungguh hatiku senang sekali. Namun seketika aku juga harus di buat sedih, karena ternyata dia menghubungiku hanya untuk mengatakan jika dia telah berhasil menyatakan cinta pada wanita yang di sukainya. Aku benar-benar hancur, sampai tangan ini rasanya sudah tidak mampu lagi untuk menggenggam ponsel di telinga. Aku hancur mendengar itu, karena nyatanya memang cintaku bertepuk sebelah tangan.
"Ternyata cinta bertepuk sebelah tangan ya, tapi aku masih terlalu penasaran siapa pria yang dicintai Zaina sampai membuat dia segininya"
Gevin kembali membuka lembaran baru, hingga di akhir halaman ini dia baru menemukan siapa yang sebenarnya Zaina cintai selama ini. Karena dia tidak pernah mencantumkan nama di setiap tulisannya di buku itu.
__ADS_1
Bersambung