
"Hai Mama, aku pergi ya. Nanti aku akan tunggu Mama di tempat yang indah sekali, seperti taman bunga"
Seorang gadis kecil yang di temui oleh Zaina di sebuah taman bunga yang indah. Nuansa berwarna putih dengan bunga-bunga yang bermekaran. Zaina menatap anaknya dengan bingung. Kenapa juga anaknya yang baru dia lahirkan, tapi sudah sebesar ini dan malah berbicara seperti itu. Zaina seolah berada diantara mimpi dan nyata saat ini.
"Nak, kenapa bicara seperti itu? Ayo pulang, ikut Mama untuk menemui Papa ya. Papa kamu akan senang sekali jika bertemu denganmu" ucap Zaina sambil menggenggam tangan mungil anaknya itu.
Gadis kecil itu mengusap pipi ibunya dengan lembut. "Mama jangan sedih ya, pokoknya aku pergi juga dengan bahagia. Aku akan menunggu Mama dan Papa di tempat yang indah sekali disana"
"Jangan begitu Nak, kalau memang kamu ingin pergi ke tempat yang indah menurut kamu itu, Mama akan ikut ya" ucap Zaina yang menahan tangan anaknya agar dia bisa ikut bersama dengan anaknya.
"Jangan Mama, sekarang Mama masih harus menemani Papa. Kasihan Papa kalau Mama tinggalkan juga. Aku akan senang disana, tempatnya indah sekali. Nanti aku akan menunggu Mama dan Papa disana ya. Sekarang Mama kembali dulu saja pada Papa. Jangan ikut aku" ucapnya.
Gadis kecil itu melepaskan genggaman tangan Zaina. Dia berjalan ke arah hamparan taman bunga yang bermerkaran itu. Perlahan tubuh kecilnya itu menghilang di balik cahaya putih yang membuat Zaina merasa silau.
Deg..
Zaina membuka matanya dengan seketika, ternyata sebuah cahaya lampu yang membuatnya merasa silau. Dia menutup matanya dengan tangan, mencoba untuk menyesuaikan cahaya lampu itu.
Zaina merasa perutnya yang terasa sedikit perih. Dia meraba pelan dan sadar jika perutnya sudah tidak lagi membesar. Sekarang Zaina menatap anggota keluarganya yang ada disana. Sementara suaminya entah kemana.
"Anak aku dimana?" Tanya Zaina pelan.
__ADS_1
Semua diam, Bunda mengelus kepala anaknya dan memberikan kecupan di keningnya. Mencoba menahah air mata agar tidak kembali menetes. Bunda tidak mau sampai membuat Zaina harus melihat kesedihannya. Namun sepertinya Zaina sudah mulai menyadari jika ada kabar tidak baik untuknya.
"Diamana bayiku Bun? Ibu, Bunda, Papa, Daddy, bayiku dimana?" Tanya Zaina dengan suara yang bergetar. Namun semuanya tetap diam seribu bahasa.
Jenny dan Vania memeluk Zaina yang histeris menaykan bayinya.Mungkin memang dia sudah mendapatkan firasat buruk tentang bayinya yang sekarang ini tidak ada. Zaina yang terluka karena keluarganya yang juga tidak mau menjawab. Membuat dia semakin yakin jika bayinya memang tidak baik-baik saja. Atau bahkan sudah meninggal dunia.
"Kak, tenang Kak" ucap Jenny dengan air matanya yang ikut menetes.
"Bunda, dimana bayiku? Aku ingin bertemu dengannya, Bunda" ucap Zaina dengan suara lirih.
Vania dan Jenny saling menatap, hingga akhirnya mereka berdua mengangguk pelan dan siap mengatakan yang sebenarnya pada Zaina. Meski hal ini akan sangat menyakitkan, tapi pastinya Zaina tetap harus tahu bagaimana keadaan bayinya saat ini.
"Dengerin Bunda.." Jennya menangkup wajah Zaina dengan lembut, mnegusap air mata anaknya dengan Ibu jari. "...Kakak udah menjadi Ibu dan istri yang baik selama ini. Menjaga kandungan Kakak dengan baik juga, tapi Tuhan belum benar-benar mempercayai Kakak dan Gevin untuk mempunyai bayi. Tuhan lebih sayang pada bayi kalian. Jadi dia pergi lebih dulu untuk menemui Tuhan"
"Kenapa Bunda, kenapa anak Kakak harus pergi secepat ini.Semuanya salah Kakak yang tidak bisa menjaga dia" ucap Zaina dengan isak tangis yang mengiringi.
"Menangislah, Kakak berhak menangis dengan semua yang terjadi. Tapi ingat, semuanya sudah takdir Tuhan. Terima saja alur hidup kita yang sudah tertulis ini" ucap Jenny.
Hancur.. Hati seorang wanita yang baru saja melahirkan dan berharap bisa segera bertemu dengan anaknya. Namun ternyata semuanya gagal karena dirinya yang tidak mungkin bisa menolak takdir, jika anak yang dia lahirkan harus pergi lebih cepat.
Seorang Dokter datang, dia memeriksa Zaina dan memberikan suntikan obat penenang agar dia tidak lagi hsteris. Apalagi dengan jahitan bekas operasi yang masih belum basah. Hingga perlahan Zaina mulai tenang dan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Sabar ya Bu, hal ini memang pasti sangat membuat terpukul pada pasien. Namun saya juga sudah berusaha, tapi tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan" ucap Dokter.
Jenny dan Vania hanya mengangguk, lalu mereka mengucapkan terima kasih pada Dokter. Setelah Dokter keluar dari ruangan itu. Jenny hanya diam dengan menatap anak perempuannya yang sedang sangat terluka dengan keadaan ini. Vania menghela nafas pelan, dia berjalan mendekati sahabatnya itu. Memeluknya dengan erat.
"Sabar, semuanya sudah takdir. Aku juga sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi karena tidak mungkin kita bisa melawan takdir Tuhan" ucap Vania.
Jenny mengangguk pelan, dia menghela nafas pelan, mengusap air matanya. "Sekarang kita memang harus kuat untuk Zaina"
Mereka berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Sementara pada lelaki sedang menyiapkan pemakaman untuk bayi Zaina. Genara di suruh menyiapkan di rumah, karena pastinya akan banyak orang datang ke rumah setelah mengetahui kabar ini.
"Zaina pasti sangat terpukul" lirih Jenny sambil menatap Zaina yang terbaring di ranjang pasien.
Vania mengangguk, dia tahu bagaimana rasanya. Meski tidak pernah mengalami hal ini, tapi untuk seorang Ibu pastinya sangat hancur ketika harus kehilangan anak yang sangat kita dambakan selama ini. Anak pertama dari pernikahan mereka.
#######
Gevin berjalan gontai ke arah kamarnya, dia baru saja selesai dari pemakaman anaknya. Masih tidak menyangka jika dia menggendong anaknya itu untuk mengantar dia ke tempat istirahat terakhirnya. Padahal belum sempat Papa lihat mata kamu terbuka, Nak. Maafkan Papa. Gumamnya.
Gevin duduk di atas sofa, sekarang dia bingung harus melakukan apa. Jujur Gevin takut untuk bertemu istrinya dan melihat keadaannya saat ini. Mendengar cerita Papa saja, benar-benar membuat Gevin tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan istrinya saat ini.
Gevin menghembuskan nafas kasar, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Masih bingung dengan semua ini. Entahlah harus bagaimana, tapi Gevin tidak bisa melihat istrinya yang begitu terluka. Gevin merasa bersalah dan merasa sangat gagal menjadi seorang suami dan seorang Ayah. Gevin gagal dalam menjalankan semua itu.
__ADS_1
"Aku tidak sanggup menemui Zaina dalam keadaan seperti itu dan aku juga yang kacau seperti ini. Aku tidak akan siap" lirih Gevin dengan matanya yang berkaca-kaca.
Bersambung