
Jangan hancurkan harapan seseorang dengan menanyakan hal yang cukup privasi. Seperti yang dialami oleh Zaina saat ini. Bagaimana banyak sekali orang yang bertanya apa dia sudah punya anak atau belum. Bahkan sampai ada yang bertanya kenapa belum punya anak di usia yang sudah cukup matang.
Dan Zaina hanya bisa menjawab dengan sebuah senyuman saja. Karena memang dirinya juga tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya. Karena mau bagaimana pun Zaina menjelaskan, tentunya tidak akan pernah bisa membauat dorang-orang itu mengerti selama dirinya tidak pernah merasakan di posisi Zaina saat ini.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gevin yang sejak tadi melihat istirnya hanya diam saja sejak mereka pulang dari acara pernikahan temannya itu.
Zaina menoleh pada suaminya yag sedang mengemudi, lalu dia tersenyum dan menggeleng pelan. "Aku tidak papa Mas, hanya mengantuk saja, tadi aku cukup memakan banyak makanan disana"
Gevin mengangguk mengerti, meski dirinya masih merasa jika memang ada yang sedang disembunyikan oleh istrinya itu. Gevin yang merasa jika Zaina memang sedang menyembunyikan sesuatu yang mengganggu perasaannya saat ini.
"Kalau ada apa-apa, bilang sama aku ya. Jangan sampai kamu memendamnya" ucap Gevin yang fokus pada kemudinya.
Zaina hanya diam saja dan tidak menjawab ucapan suaminya. Dia menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang tertutup. Memang masih menjadi pengganggu dalam pikirannya tentang ucapan orang-orang yang tadi ditemui olehnya. Zaina yang merasa bingung harus melakukan apa, karena jauh di lubuk hatinya juga ingin segera mempunyai anak seperti yang dialami wanita diluaran sana yang sudah menikah.
"Beri jarak setidaknya satu tahun untuk kembali hamil. Karena kelahiran dengan cara operasi tidak bisa hamil lagi dalalm waktu terlalu dekat"
Ucapan Dokter waktu itu benar-benar membuat Zaina menghembuskan nafas pelan. Karena memang tidak mungkin baginya untuk segera hamil dalam waktu beberapa bulan ini. Apalagi jarak dari kelahirannya itu baru memasuki bulan kedua sekarang ini. Tentu saja tidak mungkin Zaina akan bisa hamil lagi dengan waktu yang terlalu dekat seperti in.
"Sayang, ayo turun"
Suara suaminya menyadarkan Zaina dari segala lamunan dan pikirannya itu. Dia menoleh pada suaminya dan tersenyum, baru sadar jika mereka telah sampai di halaman rumah. Zaina segera turun dari mobil dan mereka masuk ke dalam rumah dengan saling bergandengan tangan.
__ADS_1
"Kenapa lagi? Apa ada yang sedang kamu pikirkan saat ini?" tanya Gevin yang merasa penasaran dengan istrinya yang sejak tadi hanya diam saja di dalam mobil.
Zaina menggeleng, dia tersenyum pada suaminya agar tidak memperlihatkan bahwa Zaina memang sedang memikirkan tentang keadaan dirinya sendiri saat ini.
"Mas kamu mandi duluan ya, aku mau ke dapur sebentar" ucap Zaina
Gevin mengangguk, dia mengecup kening istrinya sebelum berlalu ke dalam kamar. Sementara Zaina yang langsung pergi ke arah dapur. Duduk di kursi meja makan dengan segelas air putih di depannya. Zaina benar-benar butuh menenangkan diri sekarang. Karena semua pemikirannya hanya tertuju pada satu saja. Mempunyai anak dan kapan dia bisa memberikan suaminya kebahagiaan dengan memberikannya keturunan.
"Sepertinya besok aku harus pergi ke Dokter lagi, apa mungkin bisa untuk aku lepas kontrasepsi saat ini. Aku ingin segera memberikan anak untuk Mas Gevin. Meski dia tidak pernah berbicara tentang anak, tapi pasti hatinya juga sangat menginginkan keramaian di rumah ini dengan seorang anak"
Zaina jadi mengingat bagaimana tadi Gevin yang bermain dengan beberapa anak teman-temannya disana. Wajahnya terlihat bahagia sekali sekali saat dia bisa menggendong seorang balita usia 2 tahun itu. Jelas Zaina bisa melihat jika suaminya juga pasti menginginkan hal itu. Menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya.
Zaina menenggak habis air putih dalam gelas itu, lalu dia berdiri dan kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan suaminya.
Setelah kelulusan, untuk pertama kalinya hari ini Genara mulai bekerja di perusahaan Ayahnya. Tugasnya adalah sebagai sekretaris Gevin yang kebetulan berhenti setelah menikah dan mempunyai anak. Jadi beruntung karena sekarang Genara sudah lulus kuliah, jadi dia bisa membantu Gevin di perusahaan.
"Gen pergi dulu ya Bu" pamitnya sambil mencium pipi Ibunya.
"Iya Sayang, hati-hati dan semangat kerjanya ya" ucap Vania sambil mengepalkan tangannya pada Genara, memberikan semangat pada anak perempuannya yang sudah beranjak dewasa sekarang.
"Iya Bu"
__ADS_1
Genara pergi ke Kantor dengan menggunakan mobilnya sendiri. Dia tidak mau berangkat bareng dengan Ayahnya, karena takut di sangka menjadi simpanan presdir. Dasar memang. Padahal semua orang juga tahu jika dirinya adalah anak kedua dari Sagara.
Masih membekas di hatinya tentang pernyataan cinta yang ditolak itu. Namun Genara mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Ayah dan Ibunya. Karena dia hanya tidak mau membuat mereka semua khawatir dengan keadaannya setelah patah hati.
Mungkin memang Kak Aldo bukan jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku. Tapi aku benar-benar mencitainya.
Entah harus bagaimana Genara menyikapi perasaannya ini. Sudah jelas ditolak, tapi dia masih tidak bisa melupakan perasaan cinta pada Aldo itu. Sekarang dia malah semakin merasa merindukan sosok pria itu. Ah, aku memang benar-benar mencintainya. Sampai tidak bisa melupakan wajahnya itu. Aaa.. Aku memang sudah gila.
Genara memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan. Berbeda dengan karyawan baru yang pertama kali masuk kerja yang pastinya akan merasa canggung dan hal lain sebagainya. Genara malah terlihat biasa saja. Bahkan banyak karyawan lain yang mengangguk hormat padanya. Karena sebagian besar di perusahaan ini juga sudah tahu siapa Genara.
Genara langsung menuju ruangan Kakaknya dan masuk begitu saja.Melihat Gevin yang sudah berada di meja kerjanya dengan beberapa berkas yang ada di atas meja. Genara langsung duduk di atas sofa yang ada diruangan itu.
Gevin mendongak dan sedikit membenarkan kacamata bacanya itu. Menatap adiknya dengan menggelengkan kepala. "Emang ada sekretaris datang lebih belakang dari atasan? Sudah datang terlambat tidak meminta maaf dan mengakui kesalahan lagi"
Genara hanya menganggap angin lalu ucapan Kakaknya itu. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Kak, apa yang harus aku kerjakan hari ini? Kakak tahu sendiri kalau aku belum benar-benar mempunyai pengalaman tentang bekerja jadi sekretaris"
Gevin menjentikan jarinya, meminta Genara untuk datang mendekat padanya. "Sini, Kakak kasih tahu apa saja pekerjaan kamu nanti. Pokoknya meski kamu adalah adik Kakak, pokoknya kamu harus tetap bekerja dengan baik dan profesional. Kali ini saja Kakak maafkan atas keterlambatan kamu itu. Lain kali, tidak ada lagi kata maaf. Kamu tetap harus mendapatkan hukuman!"
Genara hanya cemberut dengan ucapan tegas Kakaknya itu. Memang seperti itu Gevin, tidak pernah melihat orang dari dekat atau ada hubungan darah apapun jika dalam sebuah pekerjaan. Karena dia sebagai pemimpin harus bisa bersikap profesional. Harus tetap tegas meski pada adiknya sendiiri.
"Jadi, tugas kamu itu..." Pembicaraan tentang pekerjaan itu mengalir begitu saja. Genara mencoba untuk memahami setiap penjelasan yang diberikan Kakaknya itu.
__ADS_1
Bersambung