Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Sudah Terlanjur Marah!


__ADS_3

Gevin tertawa mendengar cerita Zaina kali ini. Merasa jika adiknya itu memang benar-benar sedang mempermalukan dirinya sendiri.


"Ih Mas jangan tertawa, kamu ini malah menertawakan adik kamu"ucap Zaina yang langsung memukul lengan suaminya.


Gevin meraih tangan istrinya yang abrusan memukul lengannya yng malah terasa hanya sebuah tepukan itu. Dia langsung menggenggamnya dengan lembut dan memberikannya kecupan di punggung tangan istrinya itu.


"Aku merasa sangat lucu saja dengan Genara ini. Kenapa dia bisa sebodoh ini ya" ucap Gevin, lagi-lagi terkekeh lucu mengingat kejadian barusan yang menimpa adiknya itu.


Zaina menyandarkan kepalanya di bahu Gevin, tersenyum tipis karena membayangkan jika dulu dirinya berani mengungkapkan lebih dulu perasaannya pada Gevin, dia juga bingung sendiri nantinya akan seperti apa. Mungkin akan lebih memalukan daripada Genara saat ini.


"Mas, kalau misalkan dulu aku juga berani mengungkapkan perasaanku pada kamu seperti yang dilakukan Genara saat ini. Apa kamu akan menerimaku?"


Dan aku bertanya juga karena penasaran saja si.


Gevin menatap istrinya itu, dia mengecup puncak kepalanya yang bersandar di bahunya. "Karena aku tidak merasakannya, jadi aku tidak tahu akan seperti apa. Karena 'kan kamu juga tidak pernah berani mengungkapkan perasaan kamu padaku saat itu"


Zaina mengangguk pelan, benar juga apa yang dikatakan oleh Gevin barusan. Mungkin memang seharusnya dirinya mencoba saja untuk mengatakan pada Gevin tentang perasaannya, waktu dulu.


Tapi yaudahlah, semuanya juga sudah berlalu.


"Besok aku izin pergi ya, mau temani Genara cari pencerahan katanya. Dia sedang merasa malu dan juga sedih, jadi sebelum kita bertemu dengan Aldo dan menjelaskan semuanya. Dia ingin aku temani untuk jalan-jalan dulu" ucap Zaina.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kalau misalkan ada apa-apa langsung telepon aku"


Zaina terdiam, rasanya dia merindukan saat-saat dimana Gevin yang begitu mnegkhawatirkannya ketika dia sedang hami, dulu. Kata-kata ini yang selalu Gevin ucapkan jika dia akan pergi bekerja. Rasanya masa itu berlalu begitu cepat. Meninggalkan bekas penyesalan yang masih terus terpendam sampai saat ini. Gagalnya menjadi orang tua.


"Mas, kalau misalkan aku lepas kontrasepsi bagaimana?" Iseng saja Zaina bertanya pada suaminya. Ingin tahu bagaimana reaksi suaminya itu.


Gevin langsung menggeser duduknya, menatap Zaina dengan lekat. Dia merubah posisi duduk agar bisa berhadapan dengan Zaina. "Sayang, aku tahu kalau kamu juga menginginkan seorang anak yang hadir dalam keluarga kecil kita ini. Tapi aku juga tidak mau kalau sampai kamu mengorbankan kesehatan kamu itu. Resikonya terlalu besar, Dokter juga sudah menjelaskannya"


Mendengar itu, Zaina hanya menundukan kepalanya saja. Tentu saja dia juga tidak mau jika akan kembali membahayakan keadaan anaknya. Jadi Zaina hanya ingin mengetes saja, bagaiamna reaksi Gevin saat ini. Ketika dia membahas anak. Tapi sampai saat ini reaksinya termasuk normal saja. Karena Gevin tidak terlihat terlalu antusias untuk memiliki anak.


"Mas, maaf ya"


Gevin menatap istrinya dengan kening berkerut, bingung kenapa istrinya tiba-tiba saja meminta maaf seperti itu padanya. "Sayang, maaf untuk apa? Aku tidak merasa kamu melakukan kesalahan apapun saat ini"


"Maaf untuk semuanya, karena aku yang gagal menjadi istri yang baik dan sempurna untuk kamu. Maaf karena aku belum bisa membuat kamu bahagia dengan memberikan kamu keturunan seperti orang lain" ucap Zaina dengan suara bergetar.


Gevin menggeleng pelan, dia langsung memeluk istrinya yang selama ini terlihat begitu baik-baik saja. Ternyata dia menyimpan sejuta luka dan perasaan bersalah dalam dirinya. Semua itu memang karena Gevin yang tidak tahu menahu tentang perasaan istrinya yang sebenarnya.


"Sayang, kamu jangan pernah lagi mengatakan jika kamu bukan istri yang baik atau apapun itu. Menurut aku kamu sudah menjadi istri yang sangat baik. Karena sebuah kebahagiaan seseorang itu tidak bisa di atur dengan mempunyai anak atau tidak. Mungkin orang yang melihat kita tidak bahagia dengan keadaan kita sekarang, pastinya orang itu adalah orang yang tidak pernah menikmati masa hidupnya dan kebahagiaan sederhana seperti kita"


Zaina terdiam mendengar ucapan Gevin barusan. Memang benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Sebuah kebahagiaan tidak akan di ukur dengan sesuatu yang orang lain anggap adalah kebhagiaan. Karena mau bagaimana pun kadar kebahagiaan seseorang itu bedda-beda. 

__ADS_1


"Kita berdo'a saja ya Mas, semoga suatu saat nanti kita bisa diberikan keturunan. Semoga saja kita bisa segera memberikan cucu pada kedua orang tua kita" ucap Zaina, dia mengusap sudut matanya yang berair.


Setelah hari ini, maka Zaina bisa lebih tenang lagi. Dia akan tetap berusaha untuk memberikan Gevin seorang anak, namun dia akan mengikuti saran Dokter saja. Jadi Zaina tidak jadi untuk pergi ke Dokter dan menanyakan tentang bagaimana jika dirinya hamil dalam waktu cepat. Karena sepertinya memang rencana Tuhan lebih indah dari segalanya. Jadi, Zaina hanya akan mengikuti semua alur takdir untuknya.


Pagi ini Genara benar-benar datang ke rumah Kakaknya. Wajahnya terlihat lelah sekali seperti tidak tidur semalaman. Ternyata memang benar jika dirinya tidak tidur seharian ini. Karena memang Genara terus kepikiran tentang nasib hubungannya dengan Aldo saat ini. Meski dirinya juga tidak tahu harus melakukan apa saat ini untuk bisa memperbaiki tentang masalahnya ini.


"Yaudah Gen, nanti aku akan bantu kamu untuk mendapatkan Aldo kok" ucap Zaina sambil mengelus bahu adik iparnya ini.


"Tapi gimana kalau ternyata Kak Aldo sudah tidak mau lagi denganku. Karena kemarin aku marah-marah dan dia tidak mau lagi bersama denganku. Aaa, bagaimana ini Kak?"


Zaina menggeleng pelan melihat tingkah Genara yang sedang gelisah itu. Tapi dia bukannya kasihan, malah ingin tertawa. "Sudahlah, justru kali ini adalah waktu untuk kamu membuktikan. Apa Aldo memang benar-benar mencintaimu dengan tulus, atau hanya kebohongan semata. Karena kamu yang sudah marah-marah duluan kemarin. Kalau dia tulus mencintai kamu, pastinya dia akan menerima kamu dan memaafkanmu kok"


Genara terdiam, sepertinya memang saat ini adalah waktunya untuk melihat ketulusan Aldo. Tapi tetap saja dirinya tidak tahu harus melakukan apa saat nanti bertemu dengan Aldo. Pastinya akan merasa sangat canggung sekali.


Akhirnya kedua wanita ini pergi ke mal, hanya untuk sekedar jalan-jalan dan menghilangkan penat. Meski sebenarnya juga tidak tahu harus melakukan apa dan apa yang akan dibeli oleh mereka saat ini. Benar-benar tidak ada tujuan lain, selain menghilangkan penat.


"Kenapa kesini Gen? Kamu mau nyalon?" tanya Zaina ketika Genara membawanya masuk ke dalam salon.


"Udah Kak, waktu kita bertemu dengan Kak Aldo juga masih lama. Jadi kita harus nyalon dulu biar bisa tampil lebih segar dan cantik" ucap Genara.


Zaina hanya tersenyum saja, tapi dia menuruti juga. Karena memang sudah lama juga dia tidak memanjakan tubuhnya ini. Membuat suami puas, adalah pahala.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2