
"Mas, ayo naik dulu ke atas. Kamu mandi dulu, nanti habis mandi langsung makan" ucap Zaina lembut
Gevin mengangguk, dan dia hanya menuruti ucapan istrinya. Meski begitu setelah sampai di dalam kamar, seperti biasa Gevin akan melarang Zaina untuk melakukan apapun. Apalagi untuk menyiapkan air untuk mandi padanya.
"Ya ampun Mas, aku baik-baik saja. Aku ini hanya sedang hamil, bukan sakit. Kenapa kamu sampai segininya" protes Zaina dengan kekhawatiran suaminya yang menurutnya terlalu berlebihan.
Gevin mengelus kepala Zaina dengan lembut. "Sayang, nurut sama aku ya. Ini juga demi kebaikan kamu dan calon anak kita"
Zaina hanya menghela nafas pelan dengan ucapan Gevin itu. Dia juga tidak tahu kenapa suaminya ini terlihat sangat cemas dan khawatir dengan keadaannya yang sebenarnya dia merasa baik-baik saja.
########
Satu minggu lamanya, Genara berada di rumah Kakaknya. Karena Ibu dan Ayahnya juga tetap meminta dia untuk tinggal di rumah Gevin. Tapi Genara senang-senang saja karena dia bisa banyak mengobrol dengan Kakak perempuannya itu.
Dan sore ini Ibu datang dengan supirnya, banyak barang yang dia bawa ke rumah ini. Zaina dan Genara sampai bingung sendiri dengan apa yang Ibu lakukan.
"Kamu malah diam saja Gen, bantu Ibu bawa ini nih"
Genara langsung mengerjap mendengar suara keras Ibunya. Dia langsung berlari menghampri Ibunya dan langsung membantu membawa barang-barang itu.
"Emangnya Ibu habis darimana si, bawa barang segini banyaknya" ucap Genara
"Ini semua adalah perlengkapan bayi untuk Kakak ipar kamu. Semuanya juga sudah di cuci bersih di rumah" ucap Ibu
Zaina langsung terdiam mendengar ucapan Ibu barusan. Sebenarnya dia masih sangat ingin membeli semua perlengkapan untuk bayinya seorang diri. Tapi sepertinya memang suaminya tidak akan pernah mengizinkan. Jadi sekarang dia harus menerima saja semuanya.
Harusnya aku senang karena mempunyai Ibu mertua seperti Ibu.
"Makasih ya Bu, maaf malah merepotkan" ucap Zaina
__ADS_1
Ibu menghampiri menantunya, duduk di sampinya dengan mengelus perut besar Zaina. "Ini masih sebagian Sayang, tunggu sebentar lagi"
Zaina mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Ibu barusan. Barang-barang ini semuanya sudah cukup banyak, tapi kata Ibu ini masih sebagian. Dan benar saja beberapa saat kemudian, sebuah mobil kembali datang. Kali ini Jenny yang sibuk membawa barang-barang untuk cucu pertama mereka. Vania dan Jenny sama-sama antusias dengan kelahiran cucu pertama bagi mereka ini. Sampai ketika Gevin meminta tolong untuk membelikan perlengkapan bayi, tentu saja keduanya sangat senang dan antusias.
"Bunda? Ya ampun, kok datang tidak bilang dulu sama Kakak" ucap Zaina yang cukup terkejut dengan kedatangan Bundanya.
"Iya Sayang, Bunda memang sengaja ingin memberikan kejutan sama kamu. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Jenny yang langsung menghampiri anaknya.
"Baik Bunda, kapan Bunda datang?" tanya Zaina sambil menyalami Bundanya itu.
"Sebenarnya dari kemarin, tapi karena kemarin kita pulang dari mall terlalu sore. Jadi Bunda menginap di rumah Vania, dan baru bisa datang hari ini" ucap Jenny
Zaina mengangguk mnegerti, dia tersenyum karena dikelilingi orang tua yang begitu baik dan menyayanginya. Matanya sampai berkca-kaca karena merasa terharu dengan apa yang diberikan Ibu dan Bundanya padanya ini.
"Terima kasih ya Bunda dan Ibu"
Zaina tersenyum mendengar itu, Bundanya adalah sosok yang begitu baik bagi Zaina. Tidak pernah terpikirkan bagaimana hidup Zina jika Jenny tidak hadir dalam hidupnya dan Ayahnya waktu itu.
"Bagaimana kandungan kamu, Nak?" tanya Ibu sambil mengelus perut anaknya.
"Baik Bu, selama ini masih baik kok. Sudh berdebar karena waktu melahirkan yang semakin dekat" ucap Zaina
"Kamu hanya perlu tenang saja dan buat diri kamu itu rileks. Jangan sampai memikirkan hal-hal yang lain. Ingat kalau kamu harus lebih bahagia dengan kelahiran anak kamu nanti. Pikirkan yang baik-baik saja" ucap Ibu
Jenny ikut mengangguk dengan ucapan sahabatnya itu. "Yang penting kamu sudah siap untuk menjadi Ibu, kamu akan merasakan bagaimana kebahagiaan seorang wanita ketika telah menjadi seorang Ibu"
Zaina hanya tersenyum, dia juga sudah membayangkan bagaimana dirinya yang akan menjadi seorang Ibu.
"Ibu ayo bereskan semua ini, masa mau tetap di simpan disini" ucap Genara yang sejak tadi sudah sibuk membawa barang-barang yang di bawa oleh Ibunya dan Jenny ke dalam kamar bayi yang sudah di siapkan bersama dengan Mbak pelayan.
__ADS_1
"Hehe, iya, iya, ayo kita bereskan Mbak" ucap Ibu
Dan sore hari menjelang petang ini, mereka masih sibuk beres-beres dan menata barang di dalam kamar bayi itu. Semuanya memang terlihat lelah, tapi terlihat wajah bahagia mereka ketika melakukan ini.
"Minum dulu, Ibu, Bunda dan Gen" ucap Zaina yang membawa minuman juga cemilan ke dalam kamar bayinya itu.
Dia menatap sekelilingnya dan melihat kamar bayi yang sudah tertata dengan rapi. Bahkan terlihat sangat nyaman sekali. Zaina berjalan ke arah box bayi. Memegang sebuah mainan yang menggantung dia atas box bayi itu, sengaja untuk membuat bayi senang dan anteng di dalam box. Zaina menekan tombol di mainan itu, dan seketika mainan itu langsung berputar dengan suara musik yang menenangkan.
"Bagaimana Kak? Apa kamu suka semuanya?" tanya Jenny pada anaknya
Zaina berbalik, menatap Ibu mertuanya dan Bunda yang sedang duduk di atas lantai dengan memakan cemilan yang dia bawa. Terkadang Zaina merasa iri dengan mereka berdua. Karena keduanya bisa bersahabat sampai usia mereka sudah tidak muda lagi. Tapi sayangnya Zaina tidak mempunyai teman yang benar-benar dekat dengannya, teman yang bisa di katakan sebagai sahabat.
"Suka Bun, semuanya sangat bagus. Terima kasih ya"
Zaina berjalan menghampiri mereka dan ikut duduk di atas lantai bersama mereka. "Bunda dan Ibu mneginap saja disini ya"
"Kalau Bunda pasti menginap karena besok Daddy kamu baru akan menjemput. Dia sudah sangat kesal saja karena tidak bisa ikut kesini dari kemarin" ucap Jenny sambil terkekeh melihat wajah kesal suaminya.
Zaina tertawa pelan, memang begitulah Ayahnya itu yang terlalu bucin pada Ibunya sampai tidak bisa di tinggal jauh sebentar saja oleh Jenny.
"Ibu pulang Nak, nanti malam saat pulang kerja Papa bakal jemput kesini. Dasar lah, dia tidak mengizinkan Ibu untuk menginap, mungkin nanti kalau pas anak kamu lahir. Baru Papa akan mengizinkannya" ucap Vania
"Iyalah, Papa 'kan emang bucin sekali dengan Ibu. Ck, sudah pada tua juga" ucap Genara dengan nada meledek
"Hus, kamu ini. Gitu-gitu dia juga Ayah kamu, lagian kamu akan merasakannya jika nanti kamu sudah menikah, Gen" kata Vania pada anak bungsunya itu.
Genara hanya terkekeh saja, tidak terlalu menanggapi karena dia juga belum menikah dan belum merasakan apa yang Ibu dan Ayahnya rasakan.
Bersambung
__ADS_1