
Vania menghembuskan nafas beberapa kali, dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat, mantan anaknya yang berhasil membuat anaknya itu benar-benar hancur, dan sekarang dia malah berada kembali di Apartemen Gevin di saat Gevin sudah menikah dengan Zaina.
"Ibu tidak tahu harus bertanya apa dulu sama kamu, tapi sekarang yang ingin Ibu dengar adalah penjelasan kamu dengan semua ini"
Gevin terdiam mendengar itu, dia tahu jika dirinya sudah membuat Ibunya kecewa saat ini. "Bu, Lolyta pergi meninggalkan aku karena dia sakit parah. Ibu lihat sendiri 'kan bagaimana keadaannya. Aku merasa bersalah karena tidak menemani dia di saat dia berada dalam kesulitan. Jadi saat ini aku sedang membantunya untuk sembuh, Bu"
"Lalu istrimu?" tanya Vania
Gevin menghela nafas pelan. "Zaina memberikan aku izin Bu, dia tidak masalah dengan semua ini"
"Dengan kamu membawa Lolyta tinggal bersama dengan istrimu, kamu masih bilang jika Zaina memberikan izin. Semuanya bukan karena istrimu memang baik-baik saja dengan keadaan ini. Tapi karena dia yang tidak bisa membantah kamu sebagai suaminya. Zaina yang mencoba menjadi istri yang baik untuk kamu, tapi kamu malah membuat dia terluka seperti ini sekarang"
Gevin terdiam mendengar ucapan Ibunya itu. "Tapi Bu, Zaina sendiri yang..."
"Kamu terlalu bodoh Gevin, sampai kamu tidak sadar jika selama ini kamu telah menyakiti istrimu. Meski dia selalu terlihat baik-baik saja, tapi percayalah jika hatinya benar-benar terluka dan hancur"
Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh Ibunya. Gevin terlalu bodoh untuk mengerti perasaan Zaina yang sebenarnya. Karena selama ini dia yang selalu melihat Zaina yang baik-baik saja bahkan selalu terlihat bahagia dan tidak pernah terlihat terbebani dengan semua ini. Tapi ternyata, perasaan yang sesungguhnya tidak seperti yang Gevin pikirkan.
"Kamu akan menyesal dengan semua yang kamu lakukan pada istrimu itu, Gevin"
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membuat Gevin dan Vania langsung menoleh. Mereka melihat Jenny yang menarik koper dengan Zaina yang berusaha menahan tangannya.
"Bunda, jangan Bunda" teriak Zaina dengan begitu memohon
Gevin dan Ibunya langsung menghampiri mereka dengan bingung. Gevin menatap istrinya dan Ibu mertuanya itu, hingga tatapannya terfokus pada koper yang di pegang oleh Jenny.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa Sayang?" tanya Gevin
Jenny menatap Gevin dengan tatapan yang tidak suka. Benar-benar tidak menyangka jika keputusannya untuk menikahkan putrinya dengan Gevin malah membuat putrinya harus mengalami hal mengecewakan seperti ini.
"Bunda mau membawa kembali putri Bunda yang kamu sakiti dan lukai hatinya. Ingat Gevin, jika memang kamu tidak bisa membahagiakan Zaina, kembalikan saja dia pada Bunda dan Daddy. Jangan membuatnya bertahan dengan pernikahan yang tidak jelas ini" ucap Jenny
Tentu Gevin sangat terkejut dengan ucapan Ibu mertuanya itu. Tidak pernah menyangka jika Ibu mertuanya akan melakukan hal ini. "Bunda, tolong jangan lakukan ini Bunda. Saya benar-benar akan berubah dan tidak akan membuat Zaina terluka lagi"
"Bunda jangan, Kakak masih bisa memperbaiki semuanya. Beri waktu untuk kita Bunda, kita akan memperbaiki semua ini" ucap Zaina, yang membantu suaminya untuk tetap memperhatahankan rumah tangga mereka.
Vania menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana perasaan Jenny sebagai seorang ibu yang mengetahui jika anaknya di perlakukan tidak cukup baik oleh suaminya. Jika Vania berada di posisi Jenny, dia juga akan melakukan hal yang sama.
"Jenny aku tahu jika anakku salah, dia tidak bisa menghargai Zaina dengan membawa mantannya untuk tinggal bersama di Apartemen mereka. Tapi, tolong berikan Gevin satu kali lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kamu juga pasti tidak mau kalau sampai pernikahan anak kita harus kandas di tengah jalan seperti ini" ucap Vania
Jenny menghela nafas pelan, memang benar apa yang dikatakan oleh Vania barusan. Namun dia tetap seorang Ibu yang tidak akan pernah rela melihat anaknya terluka dalam pernikahan yang sedang dia jalani itu.
Zaina masih memohon pada Bundanya agar dia tidak membawa Zaina pergi dari Gevin. Zaina masih belum bisa menyerah begitu saja dengan pernikahan yang sedang dia jalani. Zaina masih ingin mencoba untuk bertahan.
Jenny menghela nafas pelan, dia menatap anaknya dan menantunya yang terlihat bekerja sama untuk mencoba mempertahankan pernikahan mereka dengan keadaan yang sedang kacau seperti ini.
"Baiklah, Bunda berikan kalian kesempatan untuk memperbaiki semua ini"
Gevin menghela nafas lega, setidaknya dia tidak benar-benar harus kehilangan istrinya ini. "Terima kasih Bunda, aku janji akan memperbaiki semuanya"
"Bunda pegang janji kamu"
######
__ADS_1
Di dalam kamar, Lolyta jelas mendengar perdebatan yang sedang terjadi. Air matanya tidak tertahankan lagi, sekarang Lolyta sadar jika kembalinya dia pada Gevin telah menghancurkan harapan banyak orang.
"Sudah jangan terus menangis, Mbak. Saya yakin kalau Tuan Gevin juga mencintai Mbak. Makanya dia sulit sekali melepaskan Mbak" ucap perawatnya yang sejak tadi menemani Lolyta di dalam kamar
Lolyta mengusap air matanya, dia tersenyum pada perawat itu. Dia tahu jika yang dikatakan oleh Suster padanya hanya karena dia yang sedang mencoba menghibur Gevin dengan keadaan ini.
"Memangnya kalau Suster berada di posisi istri pertama, apa Suster akan menerima begitu saja kehadiran saya, meski alasannya karena suami Suster ingin membantu saya yang sedang sakit parah?"
"Tentu saja tidak, hanya wanita-wanita terpilih yang bisa lapang dada dan sabar menerima orang ketiga di pernikahannya"
Jawaban perawat itu cukup membuat Lolyta faham dan mengerti, jika hanya Zaina yang bisa bersikap begitu lapang menerima kehadiran dirinya.
Zaina memang wanita yang hebat.
Lolyta tahu bagaimana Zaina yang begitu tulus menerima kehadirannya, bahkan dia sendiri yang meminta Gevin untuk menikahinya. Meski Lolyta tidak tahu apa alasan Zaina sampai meminta Gevin untuk menikahinya.
Suasana di ruang tengah Apartemen setelah Vania dan Jenny pulang, Zaina dan Gevin masih terkejut dengan kehadiran orang tua mereka.
"Sayang..." Gevin mengubah posisi duduknya untuk menghadap Zaina dan menatapnya dengan lekat. "...Terima kasih karena kamu masih mau bertahan denganku untuk memperbaiki kondisi dan keadaan ini"
Zaina tersenyum tipis mendengar itu, jelas dia sengaja melakukannya karena memang dia juga belum bisa untuk berpisah dan melepaskan Gevin begitu saja. Jujur saja cintanya masih terlalu besar untuk meninggalkan Gevin.
"Semuanya akan terasa baik-baik saja jika kita tetap bersama dan saling mendukung satu sama lain" ucap Zaina
Gevin tidak mampu berkata-kata lagi, dia memeluk Zaina dengan begitu erat. Betapa bodoh dirinya sampai pernah menyia-nyiakan wanita seperti Zaina. Dan sekarang dia harus segera menyelesaikan semuanya jika dia tidak mau kehilangan Zaina.
Bersambung
__ADS_1